Beranda » 2016 » Juni » 08

Arsip harian: 2016-06-08

Kalau Bicara Sunur Masih di PDIP, Tanya Dia !

WEEKLYLINE.NET_Bupati Lembata saat ini, Yentji Sunur akan maju kembali dalam perhelatan pilkada Lembata 2017 mendatang. Dia mendaftar di beberapa Partai, hanya dengan selembar surat lamaran. Apakah Yentji Sunur masih Kader PDIP ?

Tanpa ijazah Yentji Sunur mendaftar. Sebab ijazah Sarjana Teknik yang dipakai Sunur selama ini diduga palsu. Sebab itu, dia nggan menyertakan ijazah dalam perdaftaran bakal calon Bupati ke beberapa partai termasuk PDIP da Gerindra.

Bukan hanya itu, kehadiran Sunur yang menurut kabar dari Ketua DPC PDIP Lembata, Ferdinandus Koda, SE bahwa Sunur sudah mengundurkan diri PDIP tetapi tetap mendaftar di PDIP membuat Partai berlambang Banteng Moncong putih ini terbelah bagi dua.

Menurut Koda, Sunur telah mengundurkan diri dari PDIP sejak dikeluarkan Keputusan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri, tanggal 23 Maret 2015, tentang penetapan Ketua DPC PDIP Lembata.

“Yentji Sunur mengundurkan diri dari PDIP saat itu dengan meninggalkan ruangan rapat. Sejak saat itu saya sebagai Ketua DPC PDIP Lembata, tau bahwa Beliau secara resmi mengundurkan diri dar partai,” ungkap Ferdi Koda kepada WEEKLYLINE.NET, beberapa waktu lalu di ruangan kerjanya.

Lebih jauh Koda menguraikan, pengunduran diri Sunur dar PDIP diperkuat dengan kehadiran Sunur, dalam rapat DPC Gerindra yang melepaskan atribut PDIP dan mengenakan atribut Gerindra.

“Dia (Yentji Sunur-Red) juga menghadiri Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Partai Gerindra di Kupang. Sebab itu, bicara Yentji masih di PDIP Tanya dia sendiri. Kalau dia menghargai PDIP tentu dia tidak melakukan semua itu dengan mengenakan atribut partai lain dan menghadiri rapat kerja partai lain,” urai Koda.

Disinggung soal, Yentji yan mendaftar sebagai bakal calon Bupati dari PDIP, Koda mengungkapkan, saat PDIP membuka pendaftaran, sebanyak empat Bakal Calon Bupati yang mendaftar dan dua Bakal Calon Wakil Bupati.

Empat bajal calon bupati yang mendaftar di PDIP adalah Viktor Mado Watun, Yentji Sunur, Lukas Lipataman Witak dan Polce Ruing. Sementara dua bakal calon yang mendaftar adalah Frans Gewura dan Fransiskus Limawai.

Dari keempat Bakal Calon Bupati tersebut, hanya Yentji Sunur yang datang mendaftar hanya membawa satu lembar surat lamaran tanpa ada dokumen administrasi lainnya.

“Berkas dan dokumen persyaratan yang lain tidak disertakan termasuk ijazah dari SD sampai Sarjana,” ungkap Koda.

Oleh sebab itu, demikian Koda, DPC PDIP Lembata dalam melakukan proses pengusulan Bakal Calon Bupati dan Bakal Wakil Bupati Lembata ke DPD PDIP NTT, tidak menyertakan nama Yentji Sunur. Panitia pendaftaran dan pengurus DPC PDIP tentu hanya memproses Bakal Calon dan Bakal Wakil Calon yang lengkap secara administrasi sementara yang tidak lengkap tidak diproses dalam usulan ke DPD PDIP NTT

Sementara itu, berdasarkan informasi yang didapat WEEKLYLINE.NET, dari salah seorang Pengurus Pusat PDIP mengungkapkan hampir dipastikan bahwa paket yang akan diusung PDIP dalam pilkada Lembata 2017 mendatang adalah Eliaser Yentji Sunur sebagai Calon Bupati dan Polce Ruing sebagai Calon Wakil Bupati. Kok bisa ?

Begitulah politik, bahwa sesuatu yang muda ditebak terkadang jauh meleset. Sebab itu, menunggu sajalah apa yang terjadi dalam proses politik pilkada Lembata mendatang, karena politik senantiasa berubah sebelum Matahari terbenam dan terbit lagi. (sandrowangak)

VCT Mobile Keliling Kota Palembang

WEEKLYLINE.NET_Dalam memperkuat dukungan Program Penanggulangan HIV dan AIDS ke depan dan menyongsong Bulan Suci Ramadahan, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Provinsi Sumatera Selatan melalui PKBI Kota Palembang mlakukan pemeriksaan HIV terhada populasi kunci di dalam Kota Palembang.

Beberapa populasi kunci yang dikunjungi adalah Para Pecandu, Lelaki Suka Lelaki (LSL), Pekerja Seks Komersial (PSK), Waria dan pekerja hiburan malam atau kafe.

Petugas kesehatan dari PKBI Kota Palembanh sedang melakukan pemeriksaan terhadap klien di populasi kunci (foto: devita)
Petugas kesehatan dari PKBI Kota Palembanh sedang melakukan pemeriksaan terhadap klien di populasi kunci (foto: devita)

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kesdaran para populasi kunci penyebaran HIV di Kota Palembang untuk memeriksakan diri secara sukarela. Selain itu PKBI juga menyusuri para penasun atau pengguna narkotika suntik,

Menurut Ketua Tim Pelaksana, Nindi Nupita kegiata VCT Mobile ini yang dilakukan dengan metode Rapid Test HIV dan Sifilis serta sebelum klien diperiksa mereka di berikan penyuluhan dan konseling.

“Dalam kegiatan ini kita tida pernah memaksa klien untuk memeriksakan diri. Sebab, pemeriksaan ini dilakukan berdasarkan kesadaran klien dan kerelaan. Oleh karena itu, sebelum kami melakukan pemeriksaan kami terlebih dahulu melakukan penyuluhan dan konseling. Setelah itu, klien yang mau menandatangani semacam penyataan kesediaan, lalu diperiksa oleh petugas kami yang berjumlah enam orang,” ungkap Nupita.

Pupita mengungkapkan, Program ini PKBI bertujuan menurunkan tingkat kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh HIV dan AIDS, meliputi pencegahan penularan HIV di kalangan Pengguna Narkotika Suntik (Penasun) dan pasangannya, pencegahan HIV melalui transmisi seksual, penguatan sektor publik dalam implementasi program dan peningkatan kapasitas institusi, serta penguatan sistem informasi strategis di tingkat lokal dan nasional.

Lebih jauh dia mengungkapkan, sasaran kegiatan ini adalah warga populasi kunci yang tersebar di Kafe, Salon, dan beberapa tempat prostitusi yang tersebar didalam Kota Palembang. (devita/sandrowangak)

Petugas kesehatan dari PKBI Kota Palembanh sedang melakukan pemeriksaan terhadap klien di populasi kunci (foto: devita)
Petugas kesehatan dari PKBI Kota Palembanh sedang melakukan pemeriksaan terhadap klien di populasi kunci (foto: devita)

Pilih, Auto Nomos atau Autos Movere

WEEKLYLINE.NET_Inilah dilema otonomi Lembata sebagai kabupaten pemekaran pertama di Provinsi Nusa Tengara Timur. Lembata sebagai DOB sulung yang dimekarkan dari Flore Timur seolah olah nggan berlari keluar keterpurukan. Apa sebab ?

 Mobil atau kantor adalah sebuah penawaran yang coba ditawarkan. Tawaran yang mengguga pikiran untuk sontak berpikir.

Berpikir tentang apa yang ditawarkan. Tawaran yang dihadapkan pada pilihan.  Seperti seorang anak kecil yang hobi menonton sinetron dan juga hobi berbelanja.  Sedang asik-asiknya ia menonton sinetron kesayangannya, ia diminta orang tuanya untuk pergi berbelanja. Dia dihadapkan pada pilihan. Si anak kecil diajarkan untuk menentukan sikap. Sikap untuk memilih dan menentukan dari kedua hobinya itu. Mana yang terbaik dari kedua hobinya itu.

Si anak diajarkan bahwa dalam kehidupan ini penuh tawaran. Tawaran dalam kehidupan ini penuh tantangan. Tawaran dan tantangan akan menghiasi kehidupannya. Hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk menentukan tawaran dan menghadapi tantangan.

Sama seperti si anak kecil. Kehidupan berbangsa dan bernegara pun penuh tawaran dan tantangan. Dalam menghadapi tawaran dan tantangan dibutuhkan perjuangan. Perjuangan untuk hidup lebih baik. Hidup lebih sejahterah. Perjuangan para mahasiswa tahun 1998 misalnya. Perjuangan itu membuka cakrawala berpikir untuk memperbaiki tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Perjuangan mahasiswa melahirkan dan menghentikan suatu masa.

Tumbangnya masa Orde Baru dengan mundurnya Presiden Soeharto pada tanggal 21 mei 1998 maka lahirlah masa Reformasi. Reformasi adalah suatu perubahan tatanan prikehidupan yang baru dan secara hukum menuju ke arah perbaikan. Gerakan reformasi yang terjadi di indonesia pada tahun 1998 merupakan suatu gerakan untuk mengadakan pembaharuan dan perubahan terutama perbaikan dalam bidang pilitik, sosial, ekonomi dan hukum. Mahasiswa sebagai penggerak kelahiran masa reformasi.

Reformasi menawarkan suatu perubahan dalam sistem pemerintahan. Maka lahirlah otonomi daerah. Otonomi daerah merupakan salah satu buah dari reformasi indonesia.

Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengurus diri sebdiri  urus pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Secara etimologi istilah otonomi berasal dari bahasa Yunani yang berarti auto, dan nomous. Auto berarti sendiri dan nomos berarti hukum atau peraturan.

Jadi, pengertian dari otonomi daerah adalah mengatur daerahnya sendiri. Menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengertian otonomi daerah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berdasarkan pengetian otonomi daerah tersebut dapat disimpulkan bahwa hakikat otonomi daerah adalah sebagai berikut : Pertama Daerah memiliki hak untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, baik, jumlah, macam, maupun bentuk pelayanan masyarakat sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing.

Kedua Daerah memiliki wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangganyasendiri, baik kewengangan mengatur maupun mengurus rumah tangga pemerintahan sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sebagai suatu upaya pendekatan pelayanan pemerintahan.

Penyelenggaraan otonomi daerah menggunakan tiga asas. Pertama; Asas desentralisasi adalah penyerahan wewengang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom dalam kerangka NKRI. Kedua; Asas dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerinta kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan atau perangkat pusat daerah. Ketiga; asas tugas pembantuan adalah penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa, dan dari daerah ke desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. Tentu otonomi daerah memiliki tujuan.

Tujuan dari otonomi daerah adalah sebagai berikut pertama agar tidak terjadi pemusatan dalam kekuasaan pemerintahan dan pembangunan berjalan lancar. Kedua agar pemerintahan tidak hanya dijalankan oleh pemerintahan pusat, tetapi daerah pun dapat diberi hak  mengurus sendiri kebutuhannya. Ketiga agar kepentingan suatu daerah dapat diurus lebih baik dengan memperhatikan sifat dan keadaan daerah yang mempunyai kekhususan sendiri.

Prinsip otonomi daerah menggunakan prinsip seluas-luasnya, prinsip otonomi yang nyata dan prinsip otonomi yang bertanggungjawab. Jadi, kewengangan otonomi yang diberikan terhadap daerah adalah kewengangan otonomi luas, nyata dan bertanggungjawab.

Prinsip otonomi seluas-luasnya, artinya daerah diberikan kewengangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan yang mencakup kewengangan semua bidang pemerintahan, kecuali kewenangan terhadap bidang politik luar negeri, keamanan, moneter, agama, peradilan, dan keamanan serta fiskal nasional.

Prinsip otonomi nyata, artinya daerah diberikan kewenangan untuk menagani urusan pemerintahan berdasarkan tugas, wewengang, dan kewajiban yang senyatanya telah ada dan berpotensi untuk tumbuh, hidup dan berkembang sesuai dengan potensi dan kekhasan daerah.

Prinsip otonomi yang bertanggungjawab adalah otonomi yang dalampenyelenggaraannya harus benar-benar sejalan dengan tujuan dan maksud pemberian otonomi, yang pada dasarnya untuk memberdayakan daerah termasuk peningkatan kesejahteraan rakyat yang merupakan bagian utama dari tujuan nasional.

Bagai gayung bersambut ketika peluang otonomi daerah diberikan. Pemerinta pusat sebagai pemberi kesempatan  itu. Dan dipegunakan sungguh-sunggu oleh Lembata. Lembata saat itu bergabung dengan Kabupaten Flores Timur. Lembata ingin menjadi daerah otonom. Keinginan Lembata pun direstui. Pada tanggal 16 September 1999, DPR RI menyetujui RUU Pembentukan Kabupaten Lembata menjadi Undang-Undang Pembentukan Kabupaten Lembata.  dengan persetujuan DPR RI  Lembata menjadi daerah otonomi.

Kini usia otonomi Kabupaten Lembata memasuki 17 tahun. Usia yang boleh dikatakan bukan belia melainkan remaja jika Lembata ini merupakan seorang manusia yang lahir pada tanggal 7 maret 1999 maka ia sesungguhnya berada di bangku kelas XII sekolah menengah. Sebagai seorang remaja sesungguhnya ia telah mengerti. Ia mengerti  dan memahami sulitnya hidup ini. Hidup penuh perjuangan.

Perjuangan hidup untuk menata kehidupan ke arah yang lebih baik. Masa depan yang lebih cemerlang. Perjuangan Otonomi Lembata memberikan gambaran sejarah tersendiri.  pencetus dan pejuang otonomi daerah Lembata memiliki cita-cita. Cita-cita luhur. Cita-cita otonomi daerah untuk mewujudkan masyarakat di tanah Lembata lebih mandiri dan sejahterah. Percepatan proses pembanguna daerah.

Namun, harapan dan cita-cita luhur pejuang otonomi daerah rasanya terabaikan. Terabaikan selama 17 tahun. Otonomi daerah sebagai suatu upaya Pendekatan Pelayanan kepada masyarakat menjadi sia-sia. Arah dan Pedoman pembangunan daerah sungguh tidak diperhatikan. Tujuh belas  tahun bukan waktu yang singkat. Waktu yang boleh dikatakan cukup  untuk membangun dan memperbaiki.

Memperbaiki apa yang dipikirkan dan dianggap kurang baik. Pembangunan di Kabupaten Lembata boleh dikatakan sangat lambat. Selama 17 tahun menjalani otonomi. Pembangunan di Kabupaten Lembata terasa sangat jauh dari harapan. Masalah Listrik, Air, Jalan adalah masalah pokok yang perlu diatasi.

Air, listrik, jalan merupakan masalah urgen. Karena menyangkut kehidupan masyarakat banyak. Bukan hanya itu masalahnya. Problem yang juga tak kalah pentingnya dan bisa saja terlupakan oleh pengambil kebijakan adalah Pembanguanan sarana prasarana Pemerintahan daerah dalam hal ini perkantoran. Perkantoran sebagai tempat bekerja bagi abdi masyarakat.

Dibutuhkan perhatian serius dari Pemerintah Daerah. Pemerintah jangan hanya merencanakan pengadaan mobil dinas. Membeli mobil dinas adalah suatu upaya untuk menghambur-hamburkan uang. Dengan tidak memperhatikan masalah prioritas. Masalah prioritas yang harus diatasi selain harus membeli mobil.

Mobil adalah kendaraan darat yang digerakkan oleh tenaga mesin, beroda empat atau lebih (selalu genap), biasanya menggunakan bahan bakar minyak (bensin atau solar) untuk menghidupkan mesinnya. Mobil merupakan singkatan dari otomobil yang berasal dari bahasa yunani autos (sendiri) dan Latin movere (bergerak).

Dengan membeli mobil masyarakat bisa saja menilai kinerja pemerintahan daerah Kabupaten Lembata sebagai pemerintah yang suka bergerak dan jalan-jalan. Jalan-jalan melakukan kunjungan itu wajar. Namun, jangan sampai melupakan tugas pokok karena keseringan melakukan kunjungan dan jalan-jalan. sangat diharapkan untuk tidak mendapat  penilaian semacam itu dari pandangan masyarakat.

Mobil Dinas sesungguhnya dibutuhkan. Namun, bukan menjadi suatu keharusan. Mobil diperlukan. Namun, bukan sebagi kebutuhan. Mobil merupakan  sarana prasarana penunjang. Sebagai sarana penunjang sesungguhnya dapat dicarikan alternatif lain. Alternatif lain itu seperti Pengadaan sepeda motor. Biaya pengadaannya pun murah daripada biaya pengadaan mobil. Untuk itu harus bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Dalam membangun daerah dibutuhkan skala prioritas. Skala prioritas dalam pembangunan daerah. Skala prioritas yang tertuang dalam visi-misi pimpinan daerah dan dijabarkan melalui program-program strategis setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Program di setiap SKPD sebagai penjabaran visi-misi pimpinan daerah dilaksanakan dengan baik. Namun, ketersediaan sarana dan prasarana pemerintahan yang minim.

Kurangnya sarana prasana Pemerintahan (Kantor Dinas) sebagai tempat bekerja (berdinas) telah diatasi dengan mengontrak tempat untuk dijadikan kantor dinas. Tetapi alangkah lebih baik jika pemerinta daerah membangun sarana dan prasarana pemerintahan (kantor dinas). Dengan membangun sarana dan prasarana (kantor dinas) Pemerinta Daerah Lembata tidak lagi tidak mengontrak tempat.

Biaya kontrakan tempat  dan dana pengadaan mobil dinas sebaiknya di pergunakan untuk pembangunan kantor dinas. Pembangunan sarana prasarana perkatoran untuk urusan kedinasan adalah urusan prinsipil. Urusan yang sangat urgen. Kantor dinas  adalah  kebutuhan primer. Sebagai kebutuhan harus dipenuhi dan dilengkapi.

Mengherankan adalah pemerintah daerah lebih suka menghamburkan uang untuk pengadaan Mobil Dinas setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Bukankah pembangunan sarana prasarana perkantoran lebih penting? Namun, hal itu tidak terpikirkan oleh pemegang kebijakan di Kabupaten Lembata. Pemikiran logis pemegang kebijakan harus dipertanyakan. Disinilah kelemahan pimpinan kita.

Antara pembangunan kantor dinas dan pengadaan Mobil dinas. Antara Mobil dinas dan sepeda motor.  Bila dicermati lebih mendalam lebih baik biaya pengadaan mobil dinas dipergunakan untuk pembangunan kantor dinas. Mobil dinas sesungguhnya sarana pendukung yang sifatnya dapat terabaikan dan atau tergantikan dengan sarana yang yang lain.  Mobil dapat diganti sepeda motor Misalnya. Pengadaan mobil dinas bukan solusi yang tepat. Dan merupakan langka yang keliru.

Mengapa dikatakan keliru? Sebab hal terpenting seperti Kantor Dinas  yang ada di Kabupaten Lembata, boleh dikatakan belum lengkap. Untuk itu solusi yang terbaik adalah melakukan pembangunan kantor-kantor dinas bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah yang belum memiliki kantor. Membangun kantor Dinas adalah suatu langka bijak yang seharusnya ditempu oleh pemerintah daerah Kabupaten Lembata.***

 

Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Tenaga Penyuluh Pertanian
Di Kabupaten Lembata

Tani

Terik siang itu membakar
Menyengat tubuh
Tubuh yang lagi di ladang
Dengan tegarnya ia berjibaku dengan tanah
Tanah harapan
Tanah masa depan
Tanah pemberi kehidupan
Dengan peluh ia mengais rejeki
Ia tak merasa malu
Malu akan kata orang
Katanya……
Bertani adalah pekerjaan rendahan
Tani adalah Pekerjaan berdebu
Tani identik dengan lumpur
Namun ia bangga
Bangga menjadi petani
Bertani untuk hidupnya
Bertani menghidupi sesamanya

Oleh : Yoseph Y.M.Wuwur

Melati Mekar Dari Lembata

WEEKLYLINE.NET_Pertanian adalah bidang yang sangat strategis karena menyangkut berbagai sendi kehidupan manusia.

Pertanian mempunyai makna yang sangat penting kebutuhan dasar manusia terutama pangan dan sandang berasal dari bidang pertanian. Goncangan terhadap sektor pertanian dapat berimbas pada sektor ekonomi, dan politik bahkan sosial budaya.

Oleh kerena itu pemerintah kabupaten Lembata  mengarahkan pandangan pada dunia pertanian dalam program Melati Mekar (Menbangun lahan tidur menujuh masyarakat sejahtera ). Lahan tidur merupakan Lahan marginal dan kurang nutrisi sehingga sulit ditanami. Lahan yang memiliki lapisan permukaan yang kurang dari 30 cm.

Dalam upaya meningkatkan ekonomi kerakyatan Pemda Kabupaten Lembata  melalui Dinas Pertanian Kabupaten Lembata  mengemas sebuah program yang bernama Melati Mekar (Membangun lahan tidur menujuh masyarakat sejahtera). Melati mekar sebuah nama yang indah terdengar telinga. lahan tidur di Kabupaten Lembata  seluas 55,731 ha.

Luas lahan ini sesunggunnya sebagai suatu media untuk berusaha dan menggairakan dalam menatap lahan tidur sebagai suatu sarana guna mendatangkan sejumlah uang (bernilai ekonomis). Dengan mengolah lahan tidur menjadi lahan potensial diharapkan dapat membantu perekonomian masyarakat petani di Lembata . Peningkatan ekomoni kerakyatan memiliki peluang yang signifikan pada bidang pertanian.

Dalam upaya membangun lahan tidur dibutuhkan suatu teknologi sederhana yang dapat dilakukan oleh petani. Hal ini dibutuhkan keterampilan petani. Keterampilan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan sekitar. Keterampilan menata lahan tidur menjadi tempat yang bergairah. Tempat yang menggairahkan petani dalam bekerja.

Sebab kebanyakan orang beranggapan mengelolah lahan tidur harus menggunakan teknologi, alat dan mesin pertanian modern. Boleh jadi dengan menggunakan teknologi, alat mesin pertanian (alsintan) modern petani menjadi kesulitan menerima dan beradaptasi. Pegolahan lahan tidur melalui system Intensifikasi, rehabilitasi, ekstensifikasi, disertifikasi. Program melati mekar menjadi program primadona pada dinas pertanian kabupaten Lembata .

Menjadi hal yang sangat mengembirahkan jika lahan tidur akan diolah menjadi lahan yang produktif. Namun, menjadi hal yang menantang bila mental petani tidak di siapkan untuk bekerja keras. Ini tugas dinas terkait dengan menempatkan penyuluh h pertanian yang handal.

Hal utama yang harus dilakukan oleh seorang penyuluh h adalah mengubah pola pikir dan pola pandang masyarakat tentang lahan tidur. Sebab bagi kebanyakan orang lahan tidur merupakan lahan yang kurang potensial. Pertanyaan akan muncul, bagaimana agar lahan yang kurang ptensial itu menjadi bermanfaat ekonomis?

Lahan yang kurang potensial itu menjadi lahan bermanfaat dengan menerapkan pertanian berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan boleh ditawarkan saat ini dalam pelaksaan program melati mekar. Pertanian berkelanjutan merupakan solusi yang memiliki nilai positif. Dalam sistem pertanian rama lingkungan, dengan penerapan system pertanian berkelanjutan maka perlu diperhatikan adalah pertama menerapkan teknologi pertanian sederhana dan tepat guna.

Kedua dengan menerapkan metode input eksternal rendah dan pemupukan berimbang, ketiga sistem pengolahan pertanian dan sumber daya terpadu.

Keempat menerapkan pertanian organik rama lingkungan dan terintegrasi. Dan tidak kalah pentingnya adalah seorang petani harus mampu melihat potensi yang ada di lahan tidur seperti tanaman mana yang cocok di tanami (tanaman hortikultura, tanaman pangan atau tanaman perkebunan dan kehutanan) daerah seperti apa untuk peternakan atau gembalaan ternak semuanya itu diperlukan kemampuan petani dalam membagi lahan tidur sesuai kelas kemampuan lahan.

Dengan menggunakan teknologi yang tepat dan keterampilan dalam mengolah lahan tidur diharapkan petani memenuhi kebutuhan hidupnya dari tanahnya sendiri. Petani tidak perlu lagi membeli bawang, cabai dan kentang yang di impor dari daerah lain. Dan pastinya kerena diimpor harga di pasaran pun menjadi sangat mahal.

Fokus pembangunan pertanian adalah pemberdayaan petani, daya saing produk, dan kelestarian lingkungan. Mengenai daya saing produk susungguhnya harus ada sentra-sentra produksi dengan kualitas dan kuantitas yang mampu bersaing di pasaran nasional dan dunia. Seandainya daerah menargetkan hal itu.

Mengenai kelestarian lingkungan sudah saatnya pemerintah memberikan penghargaan kepada petani-petani yang mempraktekan system pertanian ramah lingkungan. Pemanfaatan pupuk organik dan pengurangan penggunaan pestisida.

Nah yang menjadi problem terbesar adalah sekarang justru, para lulusan pertanian yang enggan terlibat langsung turun ke sawa dan ladang untuk menerapkan apa yang mereka peroleh dibangku kuliah. Mereka lebih tertarik menjadi pegawai.

Bagaimana pertanian dapat berkembang jika mereka yang diembani tugas enggan menyingsingkan lengan dan bergulat dengan tanah dan lumpur. Mereka para pengambil kebijakan hanya mampu melontarkan ide-ide yang boleh dianggap ide gila dalam sebuah akronim Melati Mekar.

Dengan ide-ide gila itu mereka mengharapkan hasil dari melati mekar pun menggila (fantastik).Mereka bisa saja saat melontarkan ide melati mekar sedang bermimpi tentang melati yang sedang mekar sehingga terpesona dengan keharuman kembangnya. Namun sayang, melati sekarang belum lagi mekar.

Mengapa dikatakan Melati belum lagi Mekar sebab selama lima tahun pelaksanaan program melati mekar tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian rakyat dan kehidupan petani. Tidak adanya sentra-sentra produksi pertanian yang menyolok yang diberikan oleh program melati mekar.

Problem yang juga tak kalah pentingnya dan bisa saja terlupakan oleh pengambil kebijakan adalah kesejahtera an para penyuluh h. Kesejahteran para penyuluh  pertanian lapangan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program melati mekar.

Bagaimana mungkin petani dapat hidup sejahtera  jika para pendamping/ pennyuluhnya tidak sejahtera . Jika penyuluh h tidak sejahtera  boleh jadi ia bekerja semau gue. Jika penyuluh  pertanian lapangan bekerja semau gue, yang akan berdampak pada kegagalan program melati mekar, dengan hasil asal bapak senang. Jika hal ini terjadi maka perlu dikoreksi dan refleksi mendalam.

Ketika penyuluh h sejahtera  maka ia akan terdorong dan memiliki ide-ide cemerlang dalam membimbing para petani untuk dapat hidup sejahtera. Penyuluh h akan memberikan semangat dan keterampilannya dalam bidang pertanian dengan suatu harapan petani dampingannnya memiliki kemampuan, keterampilan dan sumberdaya manusia yang memadai.

Dengan sumberdaya yang mumpuni petani mampu mengolah lahan tidur menjadi lahan potensial. Hidup petani menjadih lebih baik dan berkecukupan. Dengan berkecukupan hasil pertanian (pangan) selebihnya akan dirahkan pada pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga.

Oleh karena itu ciptakan kemakmuran melalui sektor pertanian sebab sudah saatnya para pelaku pertanian hidup sejahtera  dengan tidak melupakan hal-hal urgen yang turut membantu keberhasilan program melati mekar.

 

Yoseph Y. M. Wuwur
Penyuluh pertanian
Tinggal di Lembata

Menjelang Kematian

seekor burung gagak
terbang melintas di atas. rumah
suaranya berkoak pedih menyayat
suara kematian dikabarkan dari nirwana

seekor anjing tua ekornya melingkar di sela kaki
menjepit ketakutan yang tiba tiba melintas
oh.. bayangan yang muram

tetumbuhan bergoyang pelan
tak bersuara,
enggan menyapa
kabut kematian yang melayang diudara
bersama sedu isak dan gumam cercau

ah.. keriangan begitu sekejap
seolah matahari terbit kemudian terbenam
hujan dan pelangi menjadi hiasan
lalu menghilang

di dada yang pedih
dimulut yang katup
di wajah yang lesit
di tubuh yang kaku
ada sesal,

mengapa waktu tidak lebih panjang dari sekedar terbit dan tenggelam
mengapa tak sempat menyapa lebih karib
berbicara lebih dekat
bercerita lebih banyak
mengapa kematian datang begitu tiba tiba

widyastuti

Cinta Lima Musim

WEEKLYLINE.NET_“Lima tahun lagi aku akan kembali, setelah itu kita menikah, sepotong pesan yang kusampaikan buat Erlina pada hari ulang tahunnya.”

Ribuan kisah telah datang dan pergi dalam pilihan waktu yang aku hidupi dengan Erlina, kekasihku. Tanpa terasa pilihan waktu itu sudah membenam baris-baris rindu dalam sejarah lima musim. Musim pertama adalah kisah awal kami saling mengetuk relung jiwa dengan sepotong rasa lalu memilih setuju sebagai jawabannya.

Musim ini telah membuat kami berdua berkelana membagi sayang lewat tukar-menukar sajak, dan memang Erlina kekasihku itu seorang pujangga muda. Waktu terus bergantian di setiap ruang-ruang gerak hidup kami. Sering kami harus mengubah rupa rindu kami dengan hilang sesaat dari kabar waktu sebagaimana biasa kami saling berbasa-basi via telephone.

Kendati kisah yang hadir dalam musim ini tak nyata dalam bentuk empat mata, aku terus-menerus memupuk rindu dari kejauhan sebagai bukti cintaku buat Erlina. Awal kisah yang kami rajut di musim pertama bagiku sebuah berkah terindah dalam menyemai benih-benih kesetiaan di balik profesi. Bagiku Erlina adalah sosok wanita yang penuh perhatian lagi tulus. Bahkan sering dia harus menitip kado buatku jika ada moment-moment khusus yang hadir dalam musim ini. Aku percaya sungguh jika kado yang sering ia kirim adalah hasil jerih lelahnya sebab kami masih di titian takdir yang sama sebagai perantau.

Rasa untuk memiliki masih jauh tersembunyi dalam jarak yang hanya kami gadai pada musim-musim yang gelisah. Namun perasaan demikian tidak menyurutkan mata jiwa kami untuk menerawang memeluk kesetian di balik janji musim pertama. “Lima tahun lagi aku akan kembali, setelah itu kita menikah,” sepotong pesan yang kusampaikan buat Erlina pada hari ulang tahunnya.

Aku begitu yakin pesan singkat ini di mata kekasihku mungkin dianggap sebatas angin lalu sebab batas keberadaan di antara kami terus melebar. Meskipun demikian, satu keyakinan awal yang memburu di relung jiwaku sebelum mengirim pesan adalah agar Erlina bisa kuat dan setia menanggung perasaan dan tak jenuh menawarnya kepada musim waktu yang lain. Aku yakin pula bahwa Erlina dapat menemukan dahaga baru setelah menyimak pesan singkat dariku.

Musim pertama ini seolah menghadirkan hanya sebagaian rupa kenangan yang pernah kami lewati di salah satu kota tempat kami hadir sebagai pewaris-pewaris garis tangan orangtua yakni perantau. Kota tempat kami menukar hati lalu memilih setuju sebagai jawabannya.

Musim pertama yang mengukir kisah singkat antara kami berdua pelan-pelan kami lupakan namun dengan satu janji kekal. Kami lalu datang dengan rupa kisah yang sama dan melebur dalam musim kedua. Rentetan kisah singkat yang pernah hadir di musim pertama perlahan mendorong jiwaku untuk kuat berjuang. Berjuang untuk terus-menerus membahagiakan kekasihku walau dari kejauhan pulau. Kerinduan yang selalu muncul di kepala malam kami kini kami arahkan untuk kabar waktu yang cerah. Kabar waktu yang akan merekam jejak-jejak profesi kami.

Sebagai seorang penulis yang masih di garis pemula aku harus berjuang ekstra demi menjamin kepercayaan kepada kantor redaksi yang telah merekrut talentaku sejak awal. Sementara Erlina adalah seorang pujangga muda yang telah banyak berpengalaman dalam dunia tulis-menulis. Musim waktu kedua ini terasa gemanya lebih mengawan di langit jiwa kami sebab banyak kisah kasih kami bagikan hanya demi nasib dan profesi di antara kami.

Dengan rendah hati aku terus-menerus belajar pada kekasih bagaimana cara meramu kata hingga menumpukknya pada alur-alur kalimat yang indah. Sering kami saling bertengkar ide di saat tafsiran kami tak sejalan sistem.

Namun masalah itu hanya secuil kelemahan yang harus datang dalam hidup manusia. Musim kedua yang menyimpan kisah perjuangan itu kami abadikan pada setiap sajak yang kami hasilkan dalam media-media yang telah menjalin kontrak dengan kami. Bahkan jerih lelah itu sering memberi kami sepeser rupiah demi menghidupi nasib sebagai perantau. Kami berdua saling bertukar ide hingga sepakat pada satu janji abadi. Bahwa kami akan tetap berjuang menabur asa sebab tiga musim tersisa itu masih jauh dan belum cukup kami bayar dengan segera.

Akhirnya musim kedua yang datang itu belum sanggup mempersatukan keberadaanku dengan Erlina. Kami terus saling merindukan dari kejauhan sambil teguh memegang janji bahwa pada akhirnya kami berdua harus bisa membayar janji musim kelima. Erlina yang sudah berpengalaman dalam dunia jurnalistik membuatnya begitu puitis meramu kata dalam sajak-sajak. Pernah pada suatu awal bulan, Erlina menulis sepotong sajak buatku saat aku merayakan hari ulang tahunku.

Sajak itu ia tulis demikian.

“Buatmu yang sudah hadir bagai sajak, teruntuk lelaki bermata syair, di pulau jauh.”
Aku ingin sekali meneguk rupa senyumu di cawan malamku
Biar aku kenyang dengan tawa dan tak lagi sedih
Kutahu dua musim akan segera pergi

Namun janji itu adalah kata pertama yang mestinya kita bayar pada musim?”
Pada dinding langit jiwaku seketika luruh ribuan kata dan seolah-olah mati suri. Sebab sajak dari Erlina bagiku adalah sebuah wakil jiwanya yang tak sabar lagi menanggung beban perasaan. Apalagi setelah kusimak secara teliti kutemukan sebuah pertanyaan hatinya yang sungguh-sungguh menyita empatiku.

Sejenak terlintas di kepalaku bahwa aku sudah berutang budi buatnya, yakni utang janji. Musim kedua ini segera pergi diakhiri dengan sepotong sajak yang kuterima dari kekasihku Erlina. Musim kedua segera menggiring rasa suka-duka kami menuju musim ketiga.

Aku mencoba mengawali kisah di awal musim ketiga dengan sebuah pesan balasan buat kekasihku. Setelah melewati beberapa pekan kerjaku di musim ini, aku akhirnya memilih mengirim pesan buat kekasihku namun dalam rupa yang sama, yakni sajak. Yang sedikit berbeda dari pesan kekasihku adalah bahwa pesan dalam bentuk sajak yang akan kukirim kububuhkan dengan tulisan tangan.

Motivasi awal ini lahir dari permenungan diri bahwa lewat lukisan tangan, kekasihku akan lebih terobati rindunya dan semakin mengenal karakter kepribadianku. Sebab aku ingin kami berdua tak mau jadi korban teknologi semata.

Pesan dalam bentuk sajak itu demikian.
“Kupanggilmu dalam sajakku, biar kata hatimu tahu ke mana musim itu segera tiba di kepala kita.Teruntuk wanita behati sajak, di pulau-pulau biru.”
“Aku telah membaca sajak hatimu di musim kedua
Dan yang kutemukan adalah runyam jiwamu dalam penantian panjang
Aku ingin kita kembali kepada janji
Dengan rupa jiwa yang sama menanti musim kelima.”

Itulah sepotong sajak balasan yang kukirim buat Erlina di awal musim ketiga. Berharap ia dengan lapang hati menerima keberadaan kami yang masih setia dikurung oleh jarak. Hampir dalam setiap jeda waktu yang lewat di musim ini diwarnai dengan berbagai pertanyaan dari kekasihku.

Kusimak via telephone bahwa ia begitu gelisah menanti musim sisa itu. Satu kegelisahan terbesar yang muncul dari hatinya adalah takut kehilangan janji yang kemudian mempersatukan kami sebagai penerus Eden tersisa di dunia.

Tak mudah terpengaruh dengan situasi aku berpikir bijaksana untuk meyakinkan hatinya. Dengan segala cara aku mulai membawanya pada sejuta hayalan yang membahagiakan. Kuceritakan bagaimana suasana kehidupan kami kelak jika sudah diikat dalam Nikah suci. Sesekali kedengar Erlina mengeluarkan suara lewat tawa-tawa kecil.

Sejenak kuberpikir bahwa Erlina tak mudah untuk beralih hati. Kami melewati basa-basi via telephone itu dengan menyegarkan kembali tentang ingatan akan janji awal kami. Aku begitu bangga pada kekasihku, sebab ia masih merekam penuh kisah-kisah kecil yang pernah tercecer pada dua musim sebelumnya.

Meski banyak janji yang kami impikan, namun sedikitpun tak menyurutkan jiwa kami untuk melupakan profesi. Sebab bagi kami garis tangan Tuhan yang sejak semula kami terima adalah bukti jawaban hati kami dalam menamakan rupa dunia kami, bahkan orang lain sekalipun. Kami lalu mengambil keputusan untuk merajut janji serius tentang usaha kami. Kami berdua sepakat kalau sedikit penghasilan dari kerja itu kami tabung sebagai persiapan untuk masa depan, khususnya membayar janji pada musim kelima. Akhirnya kami memutuskan untuk mengalihkan duapuluh persen dari gaji kerja kami untuk ditabung.

Kami berdua yakin jika cara demikian berjalan lancar tentu membuahkan rejeki cukup untuk kebahagian kami kelak. Semua kesepakatan ini kelihatan begitu mulia, namun semua itu masih dalam batas benak yang tersembunyi pada pulau-pulau berbeda. Janji mulia yang kami ciptakan di musim ketiga akhirnya pergi juga. Meninggalkan pesan dan kesan yang memotivasi jiwa kami.

Kami lalu merajut kisah menuju musim keempat.

Kebahagiaan seketika merekah di awal musim ini. Musim yang bagi kami adalah jalan terakhir yang akan menuntun langkah kami menginjak tapak-tapak musim kelima. Setiap awal dan akhir pekan adalah jadwal tetap bagi kami dalam membagi perasaan. Jejak langkah kami untuk memutuskan semakin terasa. Sesekali kusimak bagaimana nada suara Erlina begitu riuh di telinga. Ia begitu bahagia sebab lagi semusim kami akan segera membayar waktu itu dengan rindu-rindu yang telah kami simpan pada empat musim sebelumnya.

Melewati musim ini dengan suasana yang lain dari empat musim sebelumnya. Bahkan kami sering bergurau melampaui batas waktu dari sebagian kerja kami. Erlina meminta padaku untuk tidak membebankan perasaan dengan memikirkan tuntutan keluarganya kelak.

Bagi Erlina, hal terpenting adalah hati yang tulus untuk menerima dirinya apa adanya dan tak perlu berkhianat pada janji. Aku begitu terpukau menyimak pernyataan dari kekasihku. Kata-kata musim keempat yang bagiku semacam rubayat yang kutemukan dalam tulisan-tulisan kuno. Tanpa terasa waktu musim keempat akhirnya berlalu singkat. Sesingkat musim kedua yang pernah diisi dengan pesan sajak dari kekasihku. Aku bangga pula bahwa dalam musim ini aku mengerti betapa hati kekasihku sudah mengerti isi hatiku yang kutulis buatnya di musim ketiga. Musim keempat pun berlalu.

Sejuta kisah sedang berlarian mencari muara. Tempat segala janji dan rupa rindu itu menyatu dalam kenyataan . Dan muara itu adalah musim kelima yang menjadi jalan pulang aku dan kekasihku menemukan rindu, janji, bahkan sumpah-serapah jiwa kami berdua. Pada awal musim yang penuh misterius ini kulalui dengan hati yang sabar penuh ketelitian. Agar aku tak mudah terjebak pada keputusan yang salah.

Kuawali musim ini dengan satu pemintaan sederhana buat Erlina. Tuntutan tentu tak menjadi beban baru sebab kami berdua telah memetakannya secara rapih dalam benak. Permintaanku kurangkai dalam sepucuk surat demikian.

“Musim kelima sudah tiba, janji sudah tiba, rindu sudah tiba, aku ingin kita segera pulang. Pulang ke pulau bunga kota tempat kita pernah bersujud syukur dengan baris-baris lilin di jalan-jalan. Aku ingin musim ini kita bayar bertepatan dengan prosesi sakral yang sesaat lagi kita lalui. Agar kita bisa memperoleh berkat dan bukan kutuk. Awal bulan ini aku segera kembali dan aku harap agar setibanya di kota itu aku sudah melihatmu berdiri dengan tangan terbuka menerimaku. Aku yakin animo jiwamu jauh lebih membumi untuk mengikat janji bahkan sumpah. Segeralah kembali, kembali ke kota kita sebab janji sudah tiba, musim telah tiba, dan rindu pun sudah tiba.” Salam sahabatmu..,

Tiga hari berlalu tanpa kabar. Kuyakin kekasihku sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk kembali ke kota kami. Tepatnya pada tahun kelima awal bulan yang kelima kami berdua menginjakkan kaki secara bersamaan untuk kembali ke kota itu. Kami akhirnya bertemu dalam suasana yang tak di sangka-sangka. Memang segala nasib hidup itu direncanakan oleh manusia namun ditentukan oleh Tuhan. Spontan kami berpelukan mesra sambil saling menatap tajam.

“Berharap tidak ada noda yang Erlina bawa buatku di musim terakhir ini, gumamku.” Secuil kekuatiran itu hilang seketika. Sementara suasana jiwa hanya dipenuhi dengan rasa suka mengawan langit. Bertepatan di depan Bandara itu tersedia pantai wisata yang indah yang didesain dengan hamparan pasir putih. Kucoba berbisik pada kekasihku dan mengajaknya melepas rasa rindu kami di pelataran pantai itu. Banyak kerinduan terobati seketika.

Laksana romansa dalam balutan rindu, itulah kisah kami saat itu. Sesekali kutatap langit siang dengan senyum kecil-kecil sembari mengucap rasa syukur untuk Tuhan yang telah mempertemukan rupa rinduku dengan kekasihku.

Sementara kekasihku Erlina karena saking bahagianya hampir sukar mengeluarkan kata-kata dalam alur pembicaraan yang panjang. Namun, aku terus-menerus memaksanya untuk bercerita bebas dan mengungkapkan perasaan rindunya. Titik terakhir dari letupan gelombang laut siang membawa kami seolah menuju ke musim pertama, musim di mana aku membuat janji tentang kisah yang sedang nyata kami lalui siang itu.
Kukeluarkan semua persiapan yang kubawa untuk Erlina.

Sebuah payung, selembar kain latar berwarna putih, dan gaun yang juga putih dipoles manik-manik keemasan. Tak sabar kubentangkan latar kain itu pada pasir lalu kuminta Erlina untuk mengenakan gaun bawaanku. Erlina begitu setia menuruti permintaanku hingga payung pun ia sendiri membentangkannya.

Mata hatiku bercahaya layaknya mutiara ditimpah cahaya. Aku bahagia ketika kusaksikan gaun itu telah membuat kekasih berubah rupa layaknya seorang ratu dunia. Dengan segala perasaan yang mendalam ditambah luapan rindu yang menggelora Erlina kemudian menarik tubuhku lalu merebahkannya dengan manja di pangkuannya. Sekarang rupa wajahku digolek mentari dan senyum manis kekasihku.

Aku harus menantang warna langit siang yang cerah. Sesekali kugenggam pasir putih lalu menjatuhkannya sebagai cara untuk menghidupkan suasana. Kemesraan itu kami rajut hingga senja hari, saat dentang lonceng pertama doa malaikat agung di kotaku didaraskan. Kami lalu membuat janji dan mengambil sumpah bahwa dalam tahun kelima ini kami akan menikah.

Saat itu aku tersadar bahwa janjiku di musim pertama akhirnya tuntas terjawab. Kami lalu sepakat untuk kembali sambil menentukan tanggal pernikahan kami. Sambil saling menatap di pertengahan jalan kami saling berujar penuh menamba“ Ingat ! “Janji Di Pasir Putih.”

Awal Maret, 2016
Yandris Tolan.
Penikmat Sastra Tinggal di Paroki Mamsena-
Kecamatan Insana Barat-TTU.

Koperasi Penyangga Ekonomi NKRI

WEEKLYLINE.NET_Anggota RI, Nyoman Dhamantra kembali menyambangi sejumlah Dadia dan Desa Adat dalam rangka Reses dan sekaligus Penyerapan Aspirasi dengan tema “Koperasi sebagai Penyangga Ketahanan Ekonomi Rakyat dan NKRI”.

Pada kesempatan tersebut Dhamantra juga melakukan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI.

Dalam kegiatan yang dilakukan di Banjar Lebah Desa Bukian, Kec. Payangan Kabuaten Gianyar, Nyoman Dhamantra yang juga merupakan anggota Fraksi PDI-P dari Dapil Bali mendapat sambutan hangat dari para hadirin yang terdiri dari Kepala Desa, Bendesa Adat, Kelian Adat, tokoh masyarakat, sekehe truna truni, dan beberapa perwakilan masyarakat sekitar Payangan, Gianyar.

Pada rangkaian acara tersebut para hadirin diingatkan kembali mengenai wawasan kebangsaan yang tertuang dalam 4 Pilar MPR RI. Antara lain adalah Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Undang-undang Dasar 1945.

Dalam ceramahnya, Dhamantra  menyatakan bahwa Pancasila sebagai filosofi bangsa Indonesia yang telah digali oleh Soekarno ini mudah dihafal dan dipahami, tetapi sulit untuk diterapkan. Oleh karena itu, baik rakyat maupun pemimpinnya banyak yang belum menerapkan Pancasila.

“Pancasila mudah dihafal dan dimengerti, namun susah menerapkannya. Meski harus diakui akhir-akhir ini, diabaikan dan jadi bahan lelucon, seperti kasus ‘Goyang Itik’-nya Zaskia” lanjutnya.
Lebih jauh dijelaskan, apabila  seluruh perilaku kita disinari oleh cahaya Ida Hyang Widhi dengan menerapkan sila pertama yaitu ketuhanan, maka kita dapat memanusiakan manusia dengan adil dan beradab. Dari sana lahirlah persatuan dan perdamaian. Sudah tentu diikuti dengan musyawarah dan mufakat dalam pengambilan keputusan, sehingga terjadinya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kedepan Dhamantra berharap, ikatan keluarga (Dadia), desa adat (Pekeraman) dan warga masyarakat Bali dapat menjadi model dalam menjalankan 4 Pilar Kebangsaan ini. Sekaligus mengajak untuk tidak  khawatir berlebihan dengan isu yang lagi marak beredar, yaitu bangkitnya PKI, atau paham radikal lainya di Indonesia.
“Saya tidak khawatir dengan isu komunis bangkit, begitu juga dengan isu negara agama (Islam). Dulu saja, ketika mereka mempunyai kekuatan politik tidak bisa, apalagi sekarang, sudah ketinggalan zaman” ungkapnya.

Lebih lanjut, Dhamantra lebih mengkhawatirkan isu permasalahan kemiskinan dan kesenjangan sosial yang dapat memecah-belah kesatuan dan ketahanan NKRI.

“Ketika satu orang kaya hartanya sama dengan sejuta orang miskin, dan yang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin semakin miskin sampai sulit makan. Apalagi Bali.telah dijadikan ajang uji coba “kapitalisame” yang massif,  seperti rencana  Reklamasi Benoa, KSPN dan sejenisnya. Ini harus dievaluasi, untuk dihentikan! Kondisi ini akan semakin bertolak belakang dengan Pancasila sila ke-5, keadilan sosial,” tandasnya.

Untuk itu Dhamatra mengajak memperkuat Koperasi. Kelembagaan koperasi harus diletakkan sebagai penyangga ketahanan ekonomi rakyat dan NKRI. Melalui Koperasi, pemerataan dan keadilan sosial ekonomi menjadi mungkin, mengingat keadilan sosial lahir setelah mengamalkan sila-sila lainnya.

“Dengan Koperasi yang  berlandaskan kepada ketuhanan, kita akan mendapatkan rahmat Hyang Widhi, dan dari sanalah kita bisa memanusiakan manusia sehingga tercipta kemanusiaan yang adil dan beradab. Dari sana akan lahir persatuan dan perdamaian dengan permusyawarahan mufakat. Dengan itu baru akan adil bagi seluruh rakyat,” pungkas Dhamantra.(ng.karyadi/sandrowangak)