Beranda » 2016 » November

Arsip Bulanan: November 2016

Desa Diminta Alokasikan Dana Untuk Anak Usia Dini

WEEKLYLINE.NET – Merupakan perwujudan komitmen dan tanggung jawab Pemerintah Daerah serta semua pihak mulai dari desa untuk peduli terhadap kepentingan terbaik anak Lembata.

Hal ini disampaikan oleh Thomas Tipdes, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Lembata saat membuka kegiatan Workshop Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) di Hotel Olympic Lewoleba atas inisiasi Plan International Indonesia dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Lembata (LPPM) sebagai mitra, 25 Nopember 2016.

“Intervensi untuk PAUD HI ini penting, ini pun menjadi konsen Bapak Penjabat Bupati Lembata saat ini,” kata Tomas Tipdes.

Menurutnya, Tahun 2015 anggaran untuk penyelenggaraan PAUD di Lembata sebesar 1,3 milyar untuk 59 Desa.

Meningkat di tahun 2016 sebesar, 6,9 milyar untuk 82 desa. Bisa jadi (anggaran) ini akan meningkat lagi di tahun – tahun selanjutnya karena pengelolaan PAUD merupakan satu kewenangan lokal desa yang wajib dijalankan oleh desa.

Ini adalah salah satu strategi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia di desa, dan sebagai konsekuensinya adalah pengalokasian anggaran Dana Desa, lanjutnya.
Kegiatan yang dihadiri oleh 43 peserta dari unsur Bapeda, BPMD, PLS PPO, BPPKB dan Pemerintah Desa ini diawali dengan analisa sitasi desa sehubungan dengan PAUD HI oleh Plan International Indonesia.

Hal ini terkait dengan kondisi kesehatan anak usia dini, pendidikan dan perlindungan anak. Masih ada anak dengan status gizi buruk di desa-desa di Lembata, kapasitas Guru PAUD kurang memadai terkait dengan penerapan Kurikulum K13, gaji guru PAUD yang masih jauh dari layak padahal mereka memegang peranan penting dalam pendidikan anak usia dini. Lalu terkait dengan perlindungan, tidak sedikit anak yang belum memiliki akta kelahiran, dan penelantaran serta kekerasan terhadap anak.

“Kami ingin kebutuhan esensial anak usia dini seperti kesehatan dan gizi, pendidikan dan pengasuhannya terpenuhi secara optimal. Anak-anak juga harus terlindungi dari segala bentuk kekerasan, penelantaran dan pelakuan yang salah melalui terselenggaranya pelayanan anak usia dini secara holistik integratif. Ini membutuhkan komitmen seluruh unsur mulai dari orang tua keluarga, masyarakat, pemerintah desa sampai pemeritah daerah,” kata Fransiskus Riberu, Early Chilhood Care and Development (ECCD) Project Officer Plan International Indonesia Program Area Lembata.

Dalam diskusinya, pemerintah desa yang hadir merincikan jenis-jenis kegiatan untuk PAUD HI yang nantinya akan disupport oleh Dana Desa antara lain, Posyandu, pembangunan dan pemeliharaan sarana prasarana PAUD, peningkatan kapasitas Guru PAUD, peningkatan kapasitas kelompok pemerhati anak seperti KPAPD dan operasionalnya.

Masing-masing pemerintah desa juga melihat prioritas program kepala desa selama 6 tahun dalam dokumen RPJMDes.

Ini untuk mendukung perencanaan pembangunan desa untuk PAUD HI ke depannya dan menjadikannya sebagai prioritas dalam anggaran Dana Desa.(sandrowangak)

400 Pemilih Lembata Terancam Kehilangan Hak Pilih

WEEKLYLINE.NET – Sedikitnya 400 lebih pemilih di Kabupaten Lembata, NTT terancam kehilangan hak pilihnya dalam pemilihan Bupati dan Wakil Bupati 2017 mendatang.

Pasalnya, setelah KPU Lembata mencocokan data kependudukan bagi 1072 pemilih yang namanya terdata dalam daftar Pemilih Sementara (DPS) namun tidak dapat diterima di silon (sistim data pemilih) milik KPU ke Dinas Kepedudukan dan Catatan Sipil, hanya 300 an pemilih yang teridentifikasi dalam server KTP Siak.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Lembata, Wenceslaus Pukan kepada Media Indonesia, Kamis, 24 Nopember 2016.

“KPU serahkan 1072 nama pemilih yang identitasnya tidak terbaca Sistem data KPU, setelah kita sandingkan di Server Siak, tidak semuanya teridentifikasi, hanya 300 an data penduduk yang teridentifikasi. 400 lebih lainnya harus dipulangkan agar di cek kembali oleh petugas pemutakhiran data pemilih karena datanya tidak jelas,” ujar Kadis Dukcapil Lembata, Wens Pukan.

Namun Kadis Dukcapil megatakan, bagi pemilih yang ada namun tidak dapat terdata dalam Silon KPU harus segera mengurus Surat Keterangan penduduk yang berlaku 6 bulan agar dapat memilih.(sandrowangak)

Membiarkan Pembeli Kabur, Ada Apa ?

WEEKLYLINE.NET – Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Goris D Krova, oleh pihak kepolisian resort Lembata bekerjasama dengan LSM Wildlife Crime Unit dinilai aneh. Ada hal yang janggal. Ada pasal yang diabaikan.

Selain tanpa dilengkapi surat penangkapan Kepolisian Resort Lembata juga membiarkan dua pria yang diduga sebagai pembeli atau pengepul kabur begitu saja. Padahal saat melakukan OTT Goris.D Krova selaku sebagai penjual sedang bertransaksi dengan dua orang itu, yang mana salah satunya mengaku bernama Akang Mas Bandung.

Juprianus Lamablawa, Kuasa Hukum, Goris D Krova menanyakan kenapa pembeli dibiarkan kabur.

Menurut Jupri, transaksi antara penjual dan pembeli dalam sebuah kejahatan, jika tertangkap tangan, mesti kedua-duanya ditangkap, bkn hanya pembeli seperti yang terjadi pada kasus penangkapan nelayan Lamalera itu.

“Jika polisi datang, pembeli sebagai hilang atau kabur dan polisi tidak berusaha mencari, mengejar dan menangkap. Ini juga tdk benar”, ungkap Jupri, yang juga mantan aktivis AMMAPAI KUPANG ini.

Polisi mestinya tidak boleh meniadakan pasal 480 KUHP, sekalipun penadah adalah LSM dibawah naungan Menteri Perikanan dan Kelautan.

“Jika “jual beli” dlm kasus tersebut dipandang sbg kejahatan, ya penadah (heling) juga penjahat. Perlu ditangkap dan diproses. Tdk adil dan melanggar hukun kalau hanya penjual saja yang ditangkap”, beber Jupri, pengacara muda yang lagi naik daun ini.

Dia lebih jauh menjelaskan untuk penerapan tindak pidana perikanan, penyidik harus lebih hati hati, sebab ada banyak aspek sebahai syarat yang harus dipenuhi sesuai UU Perikanan.

Juga perlu diperhatikn UU tentang perlindungan nelayan, sehingga tindakan yg diambil tdk merugikan nelayan secara luas.

Sementara itu Kapolres Lembata, mengungkap terkait proses hukum OTT insang Pari Manta, pihaknya masih meminta keterangan ahli Perikanan di propinsi NTT maupun di Jakarta untuk melengkapi berkas kasus transaksi insang ikan Pari Manta Oseanik yang dijual seorang Nelayan asal Lamalera.

“Kami segera meminta keterangan ahli untuk melengkapi berkas penyidikan kasus ini. Pasal yang diduga dilanggar: pasal 88 jo pasal 16 ay (1) UU RI No. 31 thn 2004 subsider pasal 100 Jo pasal 7 ayat (2) huruf m dan n UU RI No. 31 tahun 2004 perikanan subsider pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ay (1) dan (2) huruf d,” ujar Kapolres Lembata, AKBP. Arsdo P. Simatupang, Kamis (24/11).

Diberitakan sebelumnya, aparat Sat Reskrim dan Sat Pol Air Polres Lembata, Selasa, 22 November 2016, sekitar pkl. 20.30 WITA di depan hotel Palm, Kelurahan Lewoleba Barat, Kabupaten Lembata menangkap tangan seorang nelayan Lamalera berinisial GDK yang menjual 6 karung atau 25 kg insang ikan pari manta. Insang jenis ikan yang dilindungi ITU dihargai 400 ribu per kilogram.

Sementara tersangka mengaku menjual insang ikan Pari Manta karena di”jebak” aparat yang menyamar sebagai pembeli.

Tindakan tegas aparat ini merupakan langkah hukum perdana atas nama perlindungan satwa langka. Disisi lain, menangkap ikan adalah tradisi masyarakat Lamalera yang dipertahankan secara turun temurun dan dalam jumlah kecil. (sandrowangak)

Temui Penjabat, Leva Alap Ancam Boikot HARNUS

WEEKLYLINE.NET – Penangkapan tanpa surat penangkapan oleh Polres Lembata terhadap nelayan Goris Dengekae Krova di Hotel Palm Indah Selasa (22/11) malam lalu, membuat masyarakat Lamalera ma

Jika status nelayan Lamalera ini ditingkatkan jadi tersangka, mereka mengancam akan memboikot kegiatan Harnus Desember mendatang dan hajatan Pilkada Lembata yang sedang dalam proses saat ini.

Goris Dengekae Krova (61) ditangkap di depan Hotel Palm Indah beberapa saat setelah tiba dari Lamalera. Beberapa jam sebelumnya, Gorys ditelpon Akang Bandung—kepada nelayan Lamalera lainnya, orang yang sama mengaku bernama Indra dari Bandung—untuk menemuinya di Lewoleba dengan membawa serta insang ikan pari. Dalam beberapa kali pembicaraan sebelumnya, Akang Bandung ini meminta Gorys membawa cukup banyak. Gorys sendiri karena tidak memiliki insang pari dalam jumlah yang banyak, dia lalu mengumpulkan dari beberapa nelayan lain yang juga keluarganya.

Di hari naas itu, Goris diminta datang sendiri ke hotel Palm Indah dengan bawaan sekitar 25 Kg ikan pari yang disimpannya dalam 6 karung. Tak menaruh curiga, Gorys menuju hotel dengan bus yang ditumpanginya dari Lamalera. Namun, saat bertemu dan Akang Bandung sedang menghitung harga yang harus dibayarkan itulah, polisi menangkapnya. Dua orang lain, Akang Bandung dan temannya yang menemui Goris langsung menghilang dan tidak pernah dilihatnya lagi.

Polisi ketika itu bersama seorang perempuan bernama Irma dari Wildlife Unit Crime yang mengaku konseren dengan perlindungan hewan langka seperti Pari Manta Oseanik, Hiu Paus dan hewan lainnya yang dilindungi oleh hokum internasional maupun nasional. Pihaknya bekerja sama dengan kepolisian setelah mendapat laporan dari warga. Operasi tersebut merupakan tindak lanjut dari MOU bersama dengan 4 Polda termasuk Polda NTT.

“Kami mau bawa pulang dia (Gorys). Kalau dia tersangka, kami seluruh desa serahkan diri kami jadi tersangka juga. Tangkap kami dan penjarakan kami semua orang Lamalera supaya kami juga tidak ikut kegiatan Harnus dan Pilkada Lembata,” ujar mereka kepada Aksiterkini.com, Kamis (24/11) di Lewoleba.

Sekitar 20 an nelayan Lamalera dan ibu-ibu (pnete alep) sejak Rabu malam berada di Lewoleba untuk memberi dukungan moril dan mengikuti proses hukum yang sedang dilakukan Kepolisian Resort sejak Gorys ditangkap. Kepada Penjabat Bupati, Drs Petrus Sinun Manuk yang mereka temui di Rujab dan Ketua DPRD Lembata, Ferdinandus Koda di kediamannya, Kamis pagi, utusan masyarakat juga menyampaikan hal yang sama.

“Mengapa kami marah? UU yang mengatur soal larangan penangkapan ikan pari itu lahir belakangan sementara menangkap ikan paus juga ikan pari dan jenis-jenis lainnya sudah membudaya dan menjadi bagian dari hidup kami. Insang ikan pari itu kami kasih makan babi. Kalaupun ada Undang-undangnya, hal tersebut tidak pernah disosialisasikan pada kami,” ujar mereka.

Sementara tu, DKP Lembata yang dihadirkan sebagai saksi, kepada penyidik mengaku pernah melakukan sosialisasi tahun 2014. Namun keterangan ini dibantah masyarakat Lamalera. “Sosialisasi dimana?Kami tidak pernah dengar. DKP bohong itu,” ujar mereka. Anehnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lembata, Sius Amuntoda kepada Goris Geletan dan John Oleona yang menemuinya untuk menanyakan hal itu membantah saksi dari DKP tidak member keterangan seperti itu.

Pasal Yang Dilanggar

Sementara Kapolres Lembata, AKBP Arsdo Simatupang, SIK kepada pers menjelaskan pasal yang diduga dilanggar adalah Pasal 88 jo pasal 16 ayat (1) UU RI No.31 tahun 2004 subsider pasal 100 jo pasal 7 ayat (2) huruf m dan UU RI No. 31 tahun 2004 perikanan subside pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ayat (1) dan (2) huruf d. (sandrowangak)

Ada Skenario Menjebak Leva Alap ?

WEEKLYLINE.NET – Orang Lamalera marah. Nelayan Lamalera yang dalam bahasa Lamalera disebut Leva Alap gusar. Mereka tersinggung atas tindakan kepolisian resort Lembata, dan LSM Wildlife Crime Unit yang melakukan penangkapan terhadap Goris D Krova, 22 Nopember 2016.

Mereka menilai ada skenario besar yang dimainkan oleh WCU untuk memancing para nelayan Lamalera keluar dari Levo dan menangkap tanpa surat perintah penangkapan.

Menurut Goris Geletan Hariona, salah satu perwakilan masyarakat Lamalera, kepada wartawan di Lewoleba, 23 Nopember 2016, menjelaskan ada skenario besar yang dimainkan oleh pihak LSM WCU untuk menjebak Nelayan Lamalera dalam hal ini Goris Dengekae Krova.

Hariona merasa heran karena penangkapan yang dilakukan dilakukan itu tdak ada surat penangkapan.

Hal lain yang dirasa ganjil adalah polisi dan WCU hanya menangkap Goris Krova srmentara dua orang yang diduga sebagai pembeli itu tidak ditangkap.

Saat kedua polisi melakukan penangkapan Irma dari WCU sibuk menhambil foto dan dua orang pria yang diduga sebagai pembeli itu hilang begitu saja.

Hariona lebih jauh menjelaskan, berdasarkan cerita Goris Krova bahwa beberapa hari sebelum terjadi penangkapan calon pembeli yang mengaku bernama Akang Mas Bandung bersama temannya sudah berkomunikasi melalui handphone untuk meminta agar Goris Krova membawa insang Pari Manta ke Leowoleba.

Bahkan beber Hariona, Akang Mas Bandung ini menurut informasi dari Goris Krova, sempat mengirim uang 1 juta rupiah sebagai uang transportasi ke nomor rekening Goris Krova.

“Sayangnya uang itu belum sempat di cek, Goris Krova keburu ditangkap”, ungkap Hariona.

Dan Hariona menilai penangkapan terhadap Leva Alap, Goris Krova merupakan cara WCU untuk meningkatkan prestasi sebagai LSM. Dan diduga ditunggapi pihak tertentu untuk menggolkan konservasi yang melarang nelayan Lamalera menangkap ikan paus dan pari sebagai budaya hidup Leva Alap.

Untuk itu Hariona mewakili seluruh Leva Alap, meminta kepolisian untuk tidak menahan Goris Krova atau meningkatkan statusnya sebagai tersangka.

“Kalau mau tahan Goris Krova, tahan kami semua. Kalau mau naikan statusnya maka kami semua juga harus menjadi tersangka”, tegas Hariona. (sandrowangak)

Kemendagri Ajak Bersih Bersih Pantai Teluk Lewoleba

WEEKLYLINE.NET – Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia menggagas kegiatan bersih bersih pantai Teluk Lewoleba, selama dua hari, 23 dan 24 Nopember 2014.

Gagasan kegiatan bersih bersih pantai ini diawali dengan seminar sehari dengan tema, Temu Warga Pesisir Membangun Komitmen Menjaga Kebersihan Pantai dan Laut Teluk Lewoleba, Kabupaten Lembata.

Kegiatan bersih bersih pantai ini merupakan rangkaian kegiatan dalam upaya menyambut Hari Nusantara, 13 Desember 2016 mendatang.

Kemendagri ingin agar wajah Kota Lewoleba dan Pantai Teluk Lewoleba terlihat bersih saat Harnus berlangsung dan mendorong masayarakat untuk menjaga Pantai agar tetap bersih setelah Harnus.

Hal ini disampaikan, Sunaryo, Kasubdit Mitra dan Kebudayaan, Dirjen Politik dan Pemerintahan umum Kemendagri saat membawakan sambutan pembukaan Temu warga Pesisir di Aula Don Bosco, Kota Lewoleba, 23 Nopember 2016.

Sunaryo mengungkapkan, Lembata sebagai bagian dari NKRI, dan menjadi pusat Harnus 2016 patut diberi apresiasi dan dukungan. Salah satu dunkungan dari Kementerian Dalam Negeri adalah dengan menggas temu warga pesisir untuk menjuaga laut.

Sebab, bagi Sunaryo Indonesia dan Bahari adalah bagian kebudayaan Orang Indonesia. Sejak dahulu nenek moyang bangsa Indonesia sudah berlayar hingga ke benua afrika.

“Mari kita jaga laut kita agar tetap bersih,” tegas Sunaryo. Untuk itu penting untuk menyatukan Negara ini dari segi social politik ekonomi

Kuncinya adalah, demikian Sunaryo, konektivitas antar pulau yang baik adalah kunci penting perbaikan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Dia mengingatkan momentum Harnus merupakan semangat gelora bahari. Semangat optimalisasi potensi kelautan untuk diwariskan kepada anak cucu di masa depan.

Kegiatan bersih bersih pantai ini dilanjutkan dengan bakti sosial membersihkan pesisir pantai Lewoleba, dari Bandara Wunopito menuju Pelabuhan Laut Lewoleba yang menjadi titik Perayaan Harnus 2016. Kegiatan ini berkat kersama antara kemendagri dan LSM Pondok Perubahan. (sandrowangak)

Gerson Poyk Sakit, Siapa Yang Peduli ?

WEEKLYLINE.NETMungkin saja wajahnya telah menua, sama seperti waktu yang memagut usia, jika sampai demikian, jangan palingkan wajah lalu mengejek, sebab nista abadi akan menjadi bumerang di tiap tapak jejak, dia membalas dengan gelegar terpanjang yang pernah ada, camkan itu…

Catatan kalimat ini adalah gambaran hati seorang Fanny Jonathan Poyk, anak sastrawan Kawaka nasal NTT, Gerson Poyk. betapa tidak melihat kondisi ayahnya yang sedang berjuang melawan kebocoran Jantung, Fanny merasa semua mereka yang pernah bersama sama dengan Gerson Poyk mengejek. Lalu berpaling muka. Bahkan soal royalty dari beberapa karya Sang Maestro pun hilang. Menguap. Hingga Fanny harus rela menjual rumahnya demi membiayai pengobatan ayahnya, Gerson Poyk. Aaahhh..Siapa Peduli ?

Trenyu memang. Seorang Gerson Poyk tergolek tanpa daya. Tidak ada orang yang peduli. Gerson berjuang sendiri tanpa lawatan teman sejawat dan sahabat karib apalagi pejabat. Pun demikian dengan pejabat NTT. Tidak pernah mau tau. Cuek. Siapa itu Gerson Poyk ?

Berikut tulisan Fanny Jonathan yang dengan Judul Tentang Bapak,:

Sekarang Bapak saya Gerson Poyk sakit, tapi ia masih menanyakan teman-temannya yang sakit, termasuk Bang Hamzad, meminta jika honornya dibayar diberikan ke padanya.

Kadang saya heran, sejak kecil saya tahu Bapak begitu, saat ia masih menjadi redaktur budaya di koran Sinar Harapan (1965-70), ia memiliki gaji cukup besar dan menjadi donatur tetap untuk kawan-kawannya yang bergabung di Seniman Senen, ia memberikan sebagian gajinya pada mereka, lalu membawa sebagian gajinya pulang, dengan enteng ia bilang pada ibu saya, “Gampang, nanti cari lagi, nanti malam saya nulis!” dan seperti biasa terjadi perang di antara mereka, ibu saya tidak terima karena ia sudah mengkalkulasikan dengan anak empat, gaji Bapak cukup untuk makan sampai akhir bulan. dan begitulah yang selalu terjadi, setiap akhir bulan mereka berkelahi.

Tapi Bapak saya tetap saja begitu, ia kadang memberikan jatah beras bulanannya ke teman seniman yang belum makan. Bahkan televisi hitam putih satu-satunya milik kami diberikan ke temannya, hadeh…

Suatu hari, cerita Bapak, ada seorang sastrawan terkenal yang sekarang sudah kaya dan memiliki komunitas terkenal serta koran, datang ke rumah, menurut Bapak ia seharian belum makan, lalu Bapak mengajaknya ke asrama putri yang terletak di Menteng, jakarta Pusat.

Di situ Bapak mengeluarkan daya pikatnya, setelah ngobrol, sang gadis mengajak Bapak dan temannya itu makan di dapur umum, kata Bapak, “Kami berdua terselamatkan dari rasa lapar dan harga diri kami pulih kembali” Sang teman dijak ke rumah, tidur di ruang tamu kontrakan kami, ketika pagi, Ibu saya kesal, lalu memberinya seliter beras dan menyuruhnya pergi. Kenangan itu menurut Bapak mungkin membuatnya kesal dan dendam. Tapi Ibu memang sudah menumpuk kesalnya pada Bapak saya yang selalu membawa ‘seniman pengangguran’ ke rumah dan memberinya makan juga uang.

Ibu saya yang realistis, sesungguhnya tak suka ayah saya menjadi seniman, yang menurutnya selalu ‘kere’ aha…

sekarang Bapak sakit, sebulan lalu saya masih ingat ia memperoleh uang royalti buku dari sebuah penerbit yang lumayan besarnya, ia tak mau menceritakan hal itu pada saya, sebab saya yang memposisikan diri sebagai managernya harus menyimpan uang-uang itu untuk masa depannya, termasuk makannya sehari-hari, agar kalau ia sakit dan tak ada makanan, maka kami tak perlu ‘mengemis-ngemis’ atau minta bantuan sana-ke mari, terlebih lagi ia tak punya pensiun sama sekali. Di usianya yang ke 85 memang sudah seharusnya ia berhati-hati dengan hal itu.

Ketika penyakit jantung dan paru2nya kembali kambuh, semua dana royalti buku sudah menguap entah kemana.Saat saya tanya, Bapak Bilang, “Ada Nak, sisa dua puluh ribu!” hayaaa….kepala saya langsung tuing-tuing, saya mencari jalan agar mendapat uang untuk berobat ke RS swasta, sebab BPJSnya sudah sekitar 8 bulan dibayar.

Saya tak mau mengorek dan mencari tahu ke mana uang royalti buku itu menguap, yang pasti sifat Bapak yang dulu, menjadi dermawan tanpa pikir panjang, masih tetap ada. Dan situasi kembali seperti semula, setiap hari sampai lima kali ia menelpon saya, menyatakan dirinya lapar dll, padahal anak Bapak ada lima, saya hanya berpikir ke mana yang lainnya?

Begitulah mungkin yang menjadi kisah dari anak-anak seniman di negara ini. Sang ayah yang punya nama besar, dipuja sana-sini, punya karya-karya monumental, memeroleh penghargaan hebat, kerap membantu teman-temannya yang kesulitan, kala sakit dan terpuruk ia kembali sendiri. Semua teman yang tahu ia sakit, menunjukkan rasa simpati dan doa-doa yang mereka larungkan untuk sang sastrawan. Tapi apakah hanya itu yang ia butuhkan? Kita, bahkan negara tak pernah tahu di kala mereka sakit, teronggok di rumah sakit, tak bisa menulis lagi, mereka hanya bisa diam dan pasrah, mereka hanya berharap pada anak, keluarga yang lintang-pukang mencari dana agar nyawa mereka tetap bercokol di raga.

Dan memang begitulah yang kerap terjadi. Absurditas di kehidupan seniman di negara ini bagai drama satu babak yang tak ada kelanjutannya, setelah mereka tiada, hanya upacara seremonial semu yang dilakukan. Saat mereka tiada, baru koran2 memberitakan, pemerintah terkejut, lalu diadakan beragam acara untuk mengenang dan membacakan puisi atau monolog di beragam pentas sastra.

Apakah ada gunanya bagi sang sastrawan? Ia sudah mati dan tidak tahu semua itu. Euforia untuk mengenangnya tak ada guna, sebab kala mereka sakit, mereka hanya mengeluh dalam diam, bantuan yang sesekali datang memang ada gunanya, namun tak selamanya bantuan itu akan diberikan, sebab orang-orang yang membantunya memiliki urusan pribadi dan kebutuhan hidup masing-masing.

Maka, untuk seniman Indonesia, mungkin yang terbaik adalah mati dalam tidur, sebab ia tidak merasakan ketika sakit melanda, dan tak perlu mengeluarkan dana yang besar untuk berobat. Saya pun ingin demikian, jadi tidak menyusahkan orang lain, termasuk keluarga. Tinggal Ia saja yang maha menentukan segalanya, mau mati model apa…salam kreatif.

(disadur ulang oleh Sandro Wangak dari catatan Fanny Jonathan Poyk)

Pari Manta Mahal Di Pasar China

WEEKLYLINE.NET – Pari manta semakin tereksploitasi, dimana hasil ekploitasi tersebut memanfaatkan insang yang dijual ke dalam dan luar negeri seperti Cina.

Di dalam negeri insang kering ikan pari manta dijual dengan harga Rp 1,7 juta/kg. Sementara di luar negeri harganya bisa mencapai US$ 200 atau Rp 2,4 juta/kg.

Pari berjenis Manta (Manta Spp) adalah ikan berukuran besar yang sangat eksotis, walaupun berukuran besar namun hewan ini tergolong jinak sayangnya hewan ini sudah masuk dalam kategori rentan dan terancam punah.

Pari manta merupakan spesies dengan nilai tinggi untuk industri pariwisata. Namun, keberadaannya yang terancam karena perburuan yang dilakukan oleh para nelayan atau pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab menyebabkan jumlah manta yang hidup semakin sedikit di Indonesia.

Padahal, pariwisata yang berbasis pari manta di Indonesia menyumbang hingga 10% total pendapatan pariwisata pari manta di dunia. Artinya, perairan Indonesia merupakan tempat hidup banyak sekali pari manta.

“Secara umum nelayan Indonesia baik yang menggunakan alat tangkap tradisional maupun penangkapan moderen sejak beberapa dekade terakhir telah menangkap pari manta sebagai salah satu produk yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan pari manta tidak menjadi target utama penangkapan nelayan namun demikian sebagian nelayan di wilayah NTB dan NTT melakukan kegiatan penangkapan pari manta untuk dijual insangnya”, jelas Irma, pegiat LSM Wildlife Crime Unit, di Lobi Polres Lembata, usai melakukan penagkapan terhadap Gregorius D Krova, Warga.Lamalera yang menjual Insang Pari Manta Oseanik.

Menurut hasil penelitian iLCP dalam beberapa tahun terakhir, pari manta semakin tereksploitasi, dimana hasil ekploitasi tersebut memanfaatkan insang yang dijual ke dalam dan luar negeri seperti Cina.

Di dalam negeri insang kering ikan pari manta dijual dengan harga Rp 1,7 juta/kg. Sementara di luar negeri harganya bisa mencapai US$ 200 atau Rp 2,4 juta/kg.

Ini yang menyebabkan ikan pari manta banyak yang diburu dan dibunuh.

Mahalnya harga insang ikan pari manta disebabkan karena mitos insang ikan pari manta dapat meningkatkan stamina seksual pria dewasa.

Selain itu insang ikan pari manta juga dapat dijadikan obat herbal yang dipercaya manjur untuk penyakit organ dalam tubuh manusia serta sebagai obat untuk menyaring segala penyakit, daging serta kulit yang dikonsumsi secara lokal.

“Insang pari dipercaya bisa mengobati penyakit kanker walaupun penelitian belum memastikannya. Berdasarkan beberapa alasan ini yang mendorong para pemburu pari manta di wilayah NTT. Khususnya di perairan Lamakera, Lamalera dan Larantuka”, jelasnya Irma.

Berdasarkan Kegiatan ini telah memicu untuk menetapkan dua jenis pari manta, yaitu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris), sebagai ikan yang dilindungi berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor. 4/KEPMEN-KP/2014 tentang Penetapan Status Perlindungan PenuhIkan Pari Manta.

Penetapan status perlindungan pari manta ini mengacu pada kriteria jenis ikan yang dilindungi seperti diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan, diantarantya adalah : populasinya rawan terancam punah, masuk dalam kategori biota langka, teah terjadi penurunan jumlah populasi ikan di alam secara drastis, dan atau tingkat kemampuan reproduksi yang rendah.

Sementara itu Kapolres Lembata, AKBP. Arsdo Simatupang, SIK, kepada wartawan menjelaskan penangkapan transaksi jual beli insang ikan pari manta oleh satuan reskrim dan satuan polair polres Lembata atas informasi dan kerjasama dengan WCU.

“Penangkapan pada hari Selasa tanggal 22 November 2016, sekitar pkl. 20.30 WITA di depan hotel Palm, kel. Lewoleba Barat, kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata. Terlapor atas nama G.D.K dengan barang bukti 6 (enam) karung yang berisikan ikan pari manta (hewan yang dilindungi)”, tulis Arsdo melalui pesan singkatnya kepada wartawan, 23 Nopember 2016 malam.

Dan atas perbuatannya ini Goris Krova diganjar Pasal yang dilanggdidugaar: pasal 88 jo pasal 16 ay (1) UU RI No. 31 thn 2004 subsider pasal 100 Jo pasal 7 ayat (2) huruf m dan n UU RI No. 31 tahun 2004 perikanan subsider pasal 40 ayat (2) jo pasal 21 ay (1) dan (2) huruf d.

“Kasus dalam proses dan masih menunggu keterangan ahli dari perikanan Kupang dan Jakarta”, ungkap Arsdo Simatupang. (sandrowangak)