Beranda » 2016 » Desember » 01

Arsip harian: 2016-12-01

Jalannya Saja Parah apalagi Penerangan PLN ?

WEEKLYLINE.NET – Kesulitan warga Lamaole Desa Lewotanaole sepertinya sempurna. Jalan yang baik tidak dinikmati, jaringan telkomsel tidak dirasakan, penerangan listrik dari Perusahan Listrik Negara (PLN) masih sebatas pada mimpi warga.

Akses jalan menuju ke Desa Lewotanaole Kecamatan Solor Barat saat ini sangat memprihatinkan. Pantauan weeklyline.net (Kamis 24/11/16) ruas jalan dari sisi timur yang dibangun tahun 2014 menghubungkan Desa Lamawalang dan Desa Lewotanaole saat ini mengalami kerusakan yang sangat parah.

Jalan sejauh 7 kilo meter, sejak dibuka, tidak ada peningkatan sama sekali. Gerusan banjir pada badan jalan menimbulkan lubang –lubang besar di bagian tengah dan menyisahkan batu –batu yang berterbaran liar sepanjang jalan.

Alternatif jalan yang dibuka dengan tujuan untuk mempercepat akses trasportasi dalam mendistribusikan komoditi warga Lewotanaole ke pasar belum bisa digunakan secara signifikan. Tak banyak sepeda motor yang berani melewati jalur ini.

Warga mengistilahkan lintasan jalan ini dengan sebutan “jalur merah” karena selain jalan yang menanjak dan terjal, tak ada jalan yang rata. Menanjak dan terus menanjak. Sudah menanjak, beberapa titik membentuk belokan seperti huruf Z.

Sepeda motor saja demikian apalagi mobil. Hanya sopir yang berani dan penumpang yang nekat memilih naik mobil. Warga lebih nyaman dengan berjalan kaki, memikul hasil komoditinya untuk dijual di pasar.

Kondisi sulit yang dialami di wilayah ini, mestinya mendapat respon dari lembaga terkait. Namun jeritan dan keluhan yang disampaikan dari tahun ke tahun belum juga mendapat respon.

“Kesulitan yang paling kami rasakan adalah akses trasportasi, penerangan, akses informasi, akses pendidikan dan layanan kesehatan. Sekian kesulitan itu, yang paling terasa adalah akses transportasi atau jalan. Kondisi jalan seperti saat ini, sangat mengancam keselamatan membuat warga lebih memilih berjalan kaki, untuk mendapatkan kendaraan di Desa Lamawalang. Apalagi saat musim hujan, kami sangat sengsara, keluh Sekretaris Desa Lewotanaole Fransiskus Lusi Kewuan Rabu 23 Nopember 2016.

Senada dengan Fransiskus Kewuan, Martinus Bulin Kepala Desa Lewotanaole mengatakan potensi alam di Desa Lewotanaole terbilang limpah.

“Saya boleh katakan, jantungnnya Solor ada ditempat ini. Potensi alam kami terbilang limpah. Kami punya hasil kemiri, kelapa, kakao, kopi, alvokad, pisang, sawo, bambu, ubi jalar, nenas, madu,coklat,dan hasil bumi lainnya. Namun, kondisi jalan yang rusak membuat kami tidak berharap banyak untuk bisa menjangkau pasar menjual hasil komoditi. Kami berharap, semoga ada perhatian dari lembaga terkait dalam peningkatan kualitas jalan dalam memperlancar akses trasportasi untuk warga. Praktis saat musim hujan seperti ini, warga terpaksa harus berjalan kaki, memenuhi kebutuhan atau urusan di luar desa. Masyarakat ke pasar pada Hari Selasa di Ritaebang, Rabu di Pasar Ena Tukan dan Jumat di Pasar Kelelu,”kata Fransiskus.

Naifnya, Kecamatan Solor Barat, saat ini mendapat pelayanan penerangan listrik dari tenaga surya baru di tiga desa diantaranya Desa Kelelu, Titehena dan Lamawalang.

“Karena keterbatasan daya, listrik tenaga surya yang terpusat di Desa Kalelu baru melayani 3 desa yaitu Kalelu, Titehena dan Lamwalang. Jika saja tenaganya ditambahkan, maka bisa digunakan oleh masyarakat Desa Lewotanaole. Harapan seluruh warga demikian, karena jalan kami sudah rusak, jaringan telkomsel kami tidak nikmati, ditambah lagi dengan tidak menikmati penerangan listrik, seakan kesusahan ini menjadi sempurna,”kata Sekretaris Desa Lewotanaole Fransiskus Lusi Kewuan saat kepada weeklyline.net pada Kamis 24 Nopember 2016 di Lamaole.

Warga Desa Lewotanaole tetap sabar dalam kegelapan dimalam hari. Kampung yang berlokasi diatas bukit terjal, bagian barat paling barat dari Solor Barat ini hanya menikmati penerangan dari pelita dan solar Cell, itupun hanya beberapa rumah. Tidak dinikmati oleh semua rumah.

“Tanpa penerangan listrik sangat berpengaruh kepada anak – anak sekolah. Pada malam hari mereka tidak mampu berlama- lama dalam kelompok belajar yang hanya mengandalkan pelita dan penerangan solar cell. Dua alternatif penerangan ini sangat berpengaruh pada kesehatan mata, karena cahayanya kurang terang. Warga jarang beraktivitas dimalam hari untuk menghidupkan usaha- usaha kecil yang membutuhkan listrik dan penerangan, karena tidak memiliki tenaga listrik di desa. Seadainnya, ada tenaga listrik masyarakat bisa mengembangkan usaha- usaha kecil dalam peningkatan pendapatan di desa,”kata Sius Krowin warga Desa Lewotanaole.

Ia mengeluhkan kurangnnya perhatian pemerintah terhadap wilayah-wilayah terisolir di Solor terkhususnya Desa Lewotanaole yang paling terpelosok di Kecamatan Solor Barat.

Warga Desa Lewotanaole menerima rombongan Guru Flotim di Gerbang Masuk Desa Lewotanaole (foto: masankian)
Warga Desa Lewotanaole menerima rombongan Guru Flotim di Gerbang Masuk Desa Lewotanaole (foto: masankian)

“ Tujuh puluh satu (71) kemerdekaan Republik Indonesia sepertinya belum dirasakan oleh warga Desa Lewotanaole karena semuanya serba sulit. Jalan rusak, jaringan telkomsel tidak ada, listrik apalagi. Saya secara pribdai dan mungkin mewakili seluruh warga Desa Lewotanole memohon kepada pemerintah, kiranya daerah kami diperhatikan agar bisa keluar dari zona terpencil dan bisa menikmati kemajuan seperti daerah lain yang juga sama seperti kami bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,”kata Sius Krowin.

Kepala Desa Lewotanaole Martinus Bulin berharap sekiranya ada bantuan penerangan yang bisa dinikmati oleh warganya. “Sebagai pemerintah ditingkat desa, kami berusaha membangun komunikasi dengan pemerintah pada tingkat diatasnya, menyampaikan aspirasi warga. Kami berharap semoga suara –suara dari pinggiran, suara-suara dari wilayah terpencil bisa didengar dan bantuan untuk penerangan listrik dari Perusahan Listrik Negara (PLN) juga bisa kami nikmati,”kata Martinus.

Kesulitan warga Desa Lewotanaole, tidak hanya terasa dari sisi akses jalan, tetapi terasa juga dibidang informasi dan komunikasi. Desa yang berdiri secara defenitif pada tahun 1999 hingga saat ini belum menggunakan jaringan telkomsel.

Sedikitnya 422 penduduk yang terdiri dari 99 Kepala Keluarag (KK), untuk berkomunikasi dengan keluarga atau untuk kepentingan lainnya, warga harus relah berjalan kaki 2 km menuju bukit dan naik di atas batu besar untuk bisa mendapatkan sinyal.

“Anak saya tiga orang saat ini berada di Kupang, satu sudah kerja dan dua lainnya masih sekolah. Untuk berkomunikasi dengan mereka biasanya pada hari Minggu siang. Keluar dari kampung Lamaole, kami harus berjalan menuju ke bukit sejauh 2 kilometer. Di bukit itu, ada beberapa batu besar yang menjadi tempat untuk kami naik berdiri di batu tersebut untuk mendapatkan sinyal agar bisa telepon. Hampir semua warga di sini, tahu tempat itu.

Paling sulit disaat anak sakit, dan kami tidak mendapatkan kabar tentang kondisi yang mereka alami, karena tidak setiap hari kami berkomunikasi dengan mereka, jika ada pihak yang peduli dengan kondisi ini, kami sangat berterima kasih” kata Yoseph Manuk warga Desa Lewotanaole.

David Tukan, Kepala SDK Lewotanaole mengalami kesulitan yang sama. Untuk mengirim data- data sekolah secara online Kepala Sekolah dan Operator sekolah harus keluar dari Lewotanole. “Kesulitan sangat kami rasakan dalam urusan sekolah. Untuk mengirim data- data sekolah secara online, kami harus keluar dari Lewotanaole, karena jaringan telkomsel tidak ada, apalagi jaringan internet. Jarang ada pejabat daerah berkunjung ke tempat kami. Karena selaian jalan rusak, jaringan telkomsel juga tida ada.

Untuk urusan kedinasan, dari Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) kami biasa jemput langsung, karena jalan menuju ke Lewotanaole sangat rusak. Kami berharap ada bantuan pemasangan jaringan telkomsel di wilayah kami. Untuk tempat atau lokasi pembangunan tower telkomsel warga tentunya bersedia karena untuk kepentingan bersama,”kata David.

Kepala Desa Lewotanaole, Martinus Bulin mengatakan belum lama ini sudah dilakukan survei untuk pemasangan jaringan telkomsel, namun hingga saat ini belum terlaksana. “ Belum lama ini sudah ada survei, namun kapan pemasangan jaringan telkomsel, kami masih menunggu. Semoga ada upaya yang positif ke arah ini, sebab saat ini banyak urusan pemerintahan juga membutuhkan pengiriman data- data desa secara online, “Kades. (maksimusmasankian)

Cerita Guru dan Mobil Truck Kayu di Solor Barat

WEEKLYLINE.NET – Catatan Hari Guru Di Desa Lewotanaole Solor Barat, Kabupaten FLores Timur, NTT.

Perayaan Hari Ulang Tahun ( HUT) Hari Guru Nasional (HGN) dan Perhimpunan Guru Republik Indonesia ke -71 Tahun 2016, Tingkat Cabang Solor Barat Kabupaten Flores Timur tergolong unik. Dikatakan unik karena, pada umumnya penyelenggaraan kegiatan memperingati HUT PGRI, selalu berpusat pada wilayah yang strategis dan mudah dijangkau, sementara PGRI Cabang Solor Barat tidak demikian! Setiap tahunnya, selalu berotasi dari satu desa ke desa lainnya yang terisolir dalam wilayah Kecamatan Solor Barat.

Tahun ini, pilihan teman – teman Cabang PGRI Solor Barat cukup berani. Mereka memilih Desa Lewotanaole, salah satu desa terisolir yang berada di bagian paling barat, Kecamatan Solor Barat sebagai pusat kegiatan menyongsong dan memperingati HUT PGRI.

Secara geografis, batas wilayah Lewotanaole, bagian timur berbatasan dengan Desa Lamawalang, Barat: Desa Tanalein, Selatan: Laut Sawu dan Utara: Desa Lama Ole. Desa yang terdiri dari dusun Lamaole dan Lewomaku ini, terletak di sebuah lembah yang subur diapiti bukit Eli di sebelah timur, dan bukit Gawanawa di sebelah utara. Untuk mencapainya sebelah timur melalui Kampung Lamawohong, dan barat melalui Lewolein.

Rabu, 23/11/16, sedikitnya 200 anggota PGRI Solor Barat yang terdiri dari guru- guru TK, SD, SMP dan SMA/K Se- Kecamatan Solor Barat bergegas dari masing – masing ranting menuju ke lokasi kegiatan. Jalur yang ditempuh adalah sisi timur.

Tak mudah yang dibayangkan. Prediksi awal tentang jalan yang dibuka tahun 2014 menghubungkan Desa Lamawalang dan Lewotanaole “meleset”. Keluar dari Lamawalang, rombongan langsung melewati jalan tanjakan terjal. Beberapa truk yang memuat rombongan guru terpaksa harus diturunkan dan memilih berjalan kaki. Puluhan guru yang menggunakan sepeda motor harus merelahkan motornya dititipkan di Desa Lamawalang dan berjalan kaki.

Jika menatap ke atas pada jalur jalan itu, mata kita terus tertuju pada tonjolan –tonjolan batu yang nampak dipermukan jalan, yang semakin menambah ciut guru yang rata –rata berusia diatas 40 tahun. Jalan yang dilewati tidak ada peningkatan apa – apa sejak dibuka. Rusak parah sepanjang jalan.

Hanya dua truk yang berhasil melewati rintangan pertama itu dan seterusnya bisa tiba dengan selamat di Desa Lewotanaole. Karena sopirnya berasal dari Lewotanaole yang sedikitnya telah mengusai jalan. Guru yang menumpang truk hingga tiba di lokasi kegiatan adalah mereka yang berani dan memiliki nyali petualang.

Namun kondisi jalan yang rusak membuat penumpang terpaksa harus naik turun beberapa kali di tengah jalan sambil mencari slak yang tepat untuk bisa sampai di puncak bukit, kampung Lewotanaole. Tak ada jalan yang rata. Menanjak dan terus menanjak. Sudah menanjak, beberapa titik membentuk huruf Z. Kondisi jalan rusak berat. Ruas jalan tergerus banjir menyisahkan lubang dan menyisahkan ceceran batu –batu liar di sepanjang ruas jalan.

Pilihan berani telah diambil oleh teman – teman PGRI Cabang Solor Barat. Konsekuensinya adalah sesulit apapun medannya, harus bisa digapai. Para guru yang menggunakan motor, tidak semua berhasil menggapai ke puncak. Termasuk wartawan TVRI Patman Werang, yang bermaksud meliput kegiatan harus pulang karena medan yang berat dan kerusakan motor yang dialami dalam perjalanan menuju Lewotanaole.

Perjuangan yang panjang dan melelahkan ini, terobati saat tiba di Gerbang Lewotanaole. “Lewo Ole Lama Doan Tanah Doan Lama Lela, Lewo Maku Lama Doro Tanah Keri Keka Liku” diterjemahkan dalam bahasa indonesia yang agak bebas memberi arti “ Tempat yang sulit untuk dijangkau, serta masyarakat yang sukar dimengerti filosofi dan khazanah kearifan lokalnya. Tulisan ini terpampang di gerbang masuk kampung Lewotanaole.

Tiba di gerbang kampung ini, mata kita langsung dimanjakan dengan pemandangan alam di sisi kiri dan kanan jalan yang alamiah. Kita temukan hamparan kemiri, pohon kelapa, pisang, sawo, kopi, kakao, alvokad, nenas, dan sekian tanaman lainnya. Menginjakan kaki di Lewotanaole, defenisi akan alam Solor yang kering dan gersang itu dengan sendirinya berubah. Nampak kesuburan, kesejukan, dan kehidupan yang alamiah ditemukan di Lewotanole.

Sajian pemandangan alam sore itu, langsung membuat warga PGRI Solor Barat jatuh Cinta pada Lewotanaole. Capeh letih akibat terkurasnya energi saat berjalan kaki, perlahan pulih dan nampak senyum ceria keluar dari wajah guru.

Di gerbang itu, segenap warga mulai dari tokoh adat, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh pendidikan, orang muda, dan anak – anak sekolah di Lewotanaole telah menanti. Tarian adat, sapaan adat, dan suguhan minum secara adat mengawali seremoni pembukaan sebagai tanda penyambutan dan penghormatan kepada tamu.

Rombongan warga PGRI Solor Barat diarak menuju ke Balai Desa Lewotanaole, selanjutnya sekitar duaratus anggota PGRI Cabang Soor Barat dibagi ke rumah warga, menyatu dengan sedikitnya 99 Kepala Keluarga dan kurang lebih sebanyak 422 warga. Suasana keakraban dan kekeluargaan terasa. Hawa persaudaraan langsung tercipta. Makan bersama dan bersendagurau bersama warga menjadi kisah awal kami dimalam itu.

Kamis, 24/11/16, bertempat di SDK Lamaole, pertandingan bola Volly persahabat antar PGRI dan warga Lewotanaole. Kebersamaan ini menumbuhkan sportivitas, dan semangat juang meraih kemenangan.

Usai Olaraga, digelar Konferensi Cabang PGRI Solor Barat yang dipimpin langsung oleh Maksimus Masan Kian (Sekretaris Umum PGRI) dan menghasilkan kepemimpinan Baru PGRI Cabang Solor Barat masa bakti 2016- 2021. Puncak egiatan hari itu berupa pertandingan bola kaki antara PGRI dan warga Lewotanaole.

Malam hari dilaksanakan kegiatan Ajangsana ke makam guru yang telah meninggal dunia dalam karya pelayanannya di Lewotanaole. Dilanjutkan dengan acara “makan lamak” sebuah tradisi makan bersama warga untuk menimbah kekuatan bersama.

Acara ini diselingi dengan tarian, nyayi, puisi, mendongeng, musikalisasi puisi, yang dibawahkan oleh siswa dan guru perwakilan sekolah dan masing –masing pengurus ranting PGRI.

Jumat 25/11/16 dilaksanakan Misa syukur sekaligus pelantikan Pengurus Harian PGRI Cabang Solor Barat Masa Bakti 2016-2021, Klemens Reda Hayon (Ketua), Nikolaus Erak ( Wakil Ketua), Sekretaris Albertus Sisu Da ‘ Gomes, Wakil Sekretaris Moses Mangu Niron, Bendahara, Maria Goreti Hayon dan sebanyak sembilan Sekretaris Bidang (Sekbid). Berpusat di Gereja St. Kristus Raja Lamaole.

Janji yang dinyatakan pengurus serta pelantikan disaksikan oleh Pengurus dan Badan Penasehat PGRI Kabupaten Flores Timur, Anggota PGRI Cabang Solor Barat, imam dan umat stasi St. Kristus Raja -Lamaole.

Setelah misa dilanjutkan dengan pembagian buku ” Lamaole Dalam Terang Imamat” yang ditulis oleh Putra Lewotanaole Pater Elias Doni Seda, SVD, Anton Daton Seda, dkk. Puncaknya adalah acara “makan rengki” yang disuguhkan untuk pengurus PGRI Kabupaten, dan Pengurus PGRI Cabang Solor Barat yang baru dilantik.

“Makan Rengki” adalah makanan yang disuguhkan khusus untuk tamu yang dihormati. Makanannya disajikan khusus pada tempat khusus. Terdiri dari nasi tumpeng, ayam bakar, arak (minuman khas Lamaholot),dll.

Hadir Pengurus dari Kabupaten Yohanes Emi Kein, Efrem Hama Kelore (Dewan Penasehat) dan Maksimus Masan Kian( Sekretaris Umum). Hadir juga dua putra , anak tanah Lamaole yang berhasil dan bekerja di luar daerah diantaranya Anton Daton Seda ( Pensiunan Kepala Bank Indonesia), Pater Elias Doni Seda, SVD (Imam yang bertugas di Ende)

Dalam penyeberangan Dermaga Pamakayo Solor Barat – Larantuka, Jumat sore 25/11/16, pikiran ini masih terbayang dengan perjuangan teman – teman PGRI Cabang Solor Barat, saat kembali menuruni jalan yang terjal sejauh 7 km dari Lewotanaole ke Lamawalang. Penuh perjuangan!

Maksimus Masan Kian,
Ketua Agupena Flotim
Sekretaris Umum PGRI Kabupaten Flores Timur,
em@il: masankian@gmail.com,
HP : 085253456413)