Beranda » 2016 » Desember » 11

Arsip harian: 2016-12-11

Ketika Orang Lembata Berwisata Di Atas Kapal Perang

WEEKLYLINE.NET – KAPAL perang tidak melulu dipakai untuk berperang atau menjaga keamanan perairan dalam negeri. Akan tetapi bisa dijadikan sebagai tempat berwisata.

Beberapa hari terakhir ini, Puluhan Kapal Perang KRI dan KAL, serta kapal Tanker mengepung pulau Lembata. Mereka datang untuk menyukseskan Hari Nusantara.

Kedatangan puluhan kapal perang ini menarik perhatian masyarakat Lembata dan tamu undangan Hari Nusantara. Mereka menjadikan Kapal Perang untuk berwisata. Selain berwisata kapal perang ini juga dijadikan sebagai media belajar, anak sekolah di Lembata.

Apalagi Kapal Legendaris KRI Dewa Ruci menjadi magnet bagi ribuan anak sekolah. Bukan saja anak sekolah tetapi orang tua dan seluruh warga Lembata dari pedesaan dan pedalaman.

“Senang sekali, hari ini kita bisa mengunjungi Kapal Perang. Kapan lagi kita bisa naik ke atas kapal perang milik Negara kita. Apalgi KRI Dewa Ruci, yang melegenda itu,” ujar Elisabeth Eto, salah satu pengunjung KRI Dewa Ruci yang datang bersama semua keluarga dan anak anaknya.

Karena menjadi kebanggan Indonesia dan simbol kenusantaraan, Dewa Ruci menjadi sangat istimewa.

“Ini kesempatan langkah dan menjadi istimewa, Sang Legenda bisa datang ke Lembata. Untuk itu menurut rencana Dewa Ruci menggelar openship selama hari nusantara berlangsung”, ungkap Fransisco BJ, Komandan Pos Angkatan Laut Areal Lembata.

Openship menurut Fransisco, Dewa Ruci memberikan kesempatan kepada warga Lewoleba Lembata termasuk tamu dan undangan Harnus bisa masuk dan berkunjung ke dalam kapal Dewa Ruci.

Tercatat sebanyak 1000 pasukan TNI AL diterjunkan menyukseskan Harnus dan 21 KRI. Dari 21 KRI sebanyak 12 KRI yang berlabuh Dewa Ruci, KRI Terapang, KRI Surabaya, KRI Makasar, Untung Surapati, KRI Hasan Basri, KRI Kakap, KRI Sura, KRI Singa, KRI Arung Samudra berjenis kapal tangker untuk menyuplai bahan bakar. Selain itu dua kapal ada dua Kapal Angkatan Laut yakni KAL Kembang dan KAL Balibo.

Menurut Fransisco, kedatangan KRI dan KAL ini Tak sekedar memeriahkan Hari Nusantara ke-16 tahun 2016. Lebih dari itu, ada hal baru yang anak-anak harus tahu, agar jangan ketinggalan tentang hal yang sebenarnya baru bagi anak-anak.

Ungkapan ini dikatakan oleh Kepala SD Inpres Lewokukung, Honoratus Bao, ketika dijumpai media ini di kawasan Dermaga Lewoleba, Minggu, 11 Desember 2016. Bao sebelumnya menemani anak-anak sekolah SD Inpres Lewokukung mengunjungi kapal-kapal perang yang berlabuh di Dermaga Lewoleba diantara KRI Dewa Ruci dan KRI Makasar.

“Ya, ini anak SD dari Lewokukung. Mereka saya ajak untuk pesiar ke kapal perang agar mereka tahu. Ini yang namanya kapal perang. Ini juga bagian dari pembelajaran kontekstual yang anak-anak harus tahu. Jadi moment Harnus ini kita harus manfaatkan dengan baik. Anak-anak ini punya rasa ingin tahu yang tinggi, daripada mereka penasaran, ya kita ajak langsung masuk dan lihat. Mereka juga bertanya kepada TNI AL yang ada di dalam kapal perang tersebut, ini apa itu apa. Kita jangan lihat ramainya tapi adakah yang bermanfaat dari keramaian. Itu yang penting,” tegas Honoratus Bao.

Pantauan weeklyline.net anak-anak terlihat gembira. Tertawa kecil, kagum, terharu semua reaksi itu terlihat dari wajah mereka yang polos. Ada pun kapal perang yang dikunjungi yakni KRI Surabaya-591, KRI Makasar-590 adalah jenis Kapal Perang Landing Platform Dock (LPD). Sedangkan, KRI Dewa Ruci merupakan kapal layar tiang tinggi (Tall Ships) yang merupakan kapal latih Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL).

Mariana Ema, siswa kelas 5 SDI Lewokukung mengaku sangat bahagia karena bisa datang pesiar di atas kapal perang dan bisa tahu apa saja yang ada dalam kapal perang ini.(sandrowangak)

Semoga Jokowi Dilindungi Ama Lera Wulan, Ina Tanah Ekan

WEEKLYLINE.NET – Sesuai adat kebiasaan masyarakat Lamaholot Lembata, demi kesuksesan sebuah hajatan besar seperti Hari Nusantara (Harnus) ini, para tokoh adat Lembata menggelar upacara adat di lokasi itu meminta perlindungan leluhur.

Mereka meminta perlindungan leluhur Lera Wulan Tanah Ekan-Tuhan, agar kegiatan HARNUS2016, di Lembata digelar dengan sukses. Selain itu, ritual atau seremonial adat ini dilakukan untuk mdilinsuemohon kedatangan presiden Joko Widodo direstui dan dilindungi oleh Lera Wulan Tanah Ekan-Tuhan.

Seperti disaksikan weeklyline.net, Jumat, 09 Desember 2016, upacara adat itu dilaksanakan di panggung utama Harnus oleh dua tokoh adat Lembata, Nikodemus Nuho dan Markus Muri disaksikan penjabat bupati Lembata, Sinun Petrus Manuk dan Ketua DPRD Lembata, Ferdinandus Koda.

Kedua tokoh adat itu melakukan seremoni adat dengan tuak, tembako dan bahan-bahan adatnya untuk arwah leluhur Lembata dengan tujuan agar meminta bantuan dan perlindungan mereka sehingga perayaan besar ini dapat berjalan dengan baik dan sukses.

“Ini budaya kita, karena itu kita memberi makan dan minum kepada leluhur Lewotanah, Lera Wulan Tanah Ekan, agar mereka menjaga dan melindungi kita semua terutama seluruh rangkaian acara Harnus yang akan dibuka sore ini dapat berlangsung dengan baik demi kehormatan dan kejayaan tanah Lembata,” jelas Nikodemus Nuho pria berkumis dan janggot panjang ini.

Niko Nuho juga menambahkan yang terpenting dari ritual adat ini adalah memohon restu dan perlindungan bagi Presiden Jokowi oleh Tuhan, Lera Wulan Tanah Ekan.

Bagi Orang Lamaholot, Lembata memiliki keyakinan bahwa beragama dapat memakai segala sesuatu yang ada di sekitarnya sebagai jembatan yang menghubungkan dia dengan Yang Suci atau Yang Ilahi.

Masyarakat Lembata pun demikian. Orang-orang Flores Timur, Alor dan Lembata (Lamaholot) memberi nama kepada wujud tertinggi: Matahari, Bulan, Bumi atau dengan ungkapan asli: Lera-Wulan, Tanah Ekan.

Matahari dipilih sebagai lambang untuk Allah, sebab memiliki kekuatan yang membawa kehidupan. Ia dinamakan Bapa, karena memberi kesuburan kepada bumi dengan cahaya dan hujan dari langit.

Bulan dipandang sebagai lambang dari yang suci, sebab dalam dia terdapat segala perubahan dalam Kosmos dan dalam hidup manusia, seperti pergantian musim, pasang dan surut, hidup dan mati.

Bumi menjadi simbol wujud tertinggi karena dia adalah ibu yang memberi nafkah kepada manusia dan menerima kembali manusia dalam haribaannya sesudah kematian.

Sebelum agama katolik tiba di Flores, masyarakat di setempat telah mengenal Tuhan yang kuasa yang disebut Lera Wulan Tanah Ekan atau Tuhan Langit dan Bumi.

Pada perayaan Harnus 2016 sebelum dimulai, ada kewajiban Orang Lembata untuk memohon restu dan perlindungan.

Bapa Lera Wulan lodo hau, Ema Tanah Ekan gere haka. Tobo Tukan, Pae bawan, Maan Hari Nusantara dan Ama belen Jokowi Sare Mela yang artinya Bapak Lera Wulan turunlah ke diantara kami, Ibu Tanah Ekan bangkitlah ditengah kami, Duduklah di tengah kami, Hadirlah di tengah kami, agar Hari Nusantara berjalan baik dan Lindungilah Bapak Presiden Jokowi). (sandrowangak)

Prostitusi berkedok Karoke Itu Diduga Tak Berizin

WEEKLYLINE.NET – Wirausaha secara etimologis atau harafia, wira berarti berani Usaha berarti berdagang. Wirausaha adalah berdagang.

Untuk melakuan usaha khususnya pada dunia bisnis baik kafe, Jualan Sembako dan usaha jasa lainnya harus memiliki ijin usaha yang dengan prosedural pengurusan administrasi harus melalui rekomendasi Pemerintah setempat dalam hal ini RT yang mempunyai kewenangan setempat pada tempat yang dimana akan gunakan untuk melakukan usaha.

Kafe dwins merupakan salah satu tempat karoke yang pada pemberitaan media ini beberapa waktu lalu merupakan satu tempat hiburan yang di duga tidak memiliki ijin sebagai kafe atau tempat hiburan malam.

Hal ini di benarkan Ketua RT, dimana karaoke itu terletak 10 November 2016 kepada wartawan media ini. Dan rekomendasi Pihak RT selaku pemerintah setempat yang dimana kafe tersebut berada.

Ketua RT 23, David Dosa mengatakan pada tahun 2013 perna pemilik kafe datang dan memebawa oknum anggota polisi untuk meminta surat rekomendasi dan pada saat itu di katakan akan melakukan usaha karoke keluarga.

“Pada saat itu saya sempat melakukan survei di tempat tersebut,” ungkap David.

Lanjut David, untuk Tiga tahun terakhir tidak perna mberikan rekomendasi untuk usaha itu ini yang pastinya diduga kuat pihak mereka telah memalsukan rekomendasi untuk mengurus ijin di tempat tersebut.

“Saya suda bersepakat dengan warga saya untuk tidak memberikan izin lagi soalnya suda banyak informasi terkait penyakit masyarakat yang dalam hal ini suda menyebar informaai bahwa tempat tersebut bukan lagi tenpat karoke keluarga bahkan suda menyediakan ledis dan menjual minuman keras yang akhirnya di duga kuat akan berkedok prostitusi,” ungkapnya.

Ini suda tidak benar, demikian David, karena tempat tersebut dari sisi kebradaannya suda tidak layak karena bersampingan langsung dengan Rumah Ibadat dan berada di tengah kota ini akan berkembang penyakit masyrakat.

David berharap kepada pemerintah dan pihak yang berwewenang segera mengambil sikap untuk melakukan tindakan dan aegera memberhentikan aktifitas di tempat usaha tersebut karena sudah jelas bahwa pihak pemilik tempat tersebut suda semena – melakuan hal yang sebenarnya bukan kewenangan mereka dalam hal ini palsukan rekomendasi RT untuk kepentingan nya.

Yopy edmundo ( 28 ) tahun warga RT 23 ketika diminta tanggapan terkait persoalan ini beliau mengatakan sepakat dengan apa yang di sampekan oleh ketua RT.

“Saya berharap pemerintah segera mangambil sikap dan apa bila Pemrintah tidak mengambil tindakan kami warga sendiri yang akan memberhentikan aktifitas tersebut karena kami suda menyuarakan pada pemberitaan yang lalu,” tegas Yopi.(f.siga)

Kolaborasi Musik Tempurung Kelapa, Kasdam Terpukau

WEEKLYLINE.NET – Komponis kelahiran Lembata, Gerady Tukan selalu kreatif menciptakan sesuatu yang luar biasa dari keterbatasan. Gerady, dipercaya menjadi komponis lagu lagu nusantara untuk hari Nusantara di hadapan Sang Presiden.

Dan benar, dalam keterbatasan dan kekurangan Gerady mampu membuat rombongan Kasdam didampingi sejumlah Perwira yakni Danrem 16 Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Heri Wiranto, Asops Kasdam Kol. Inf. Wawan Pujiatmoko, Wasintel Letkol Inf. Arie Tri, Dandim 1624 Flotim, Letkol Dadi R, Kapolres Flotim AKBP Yandri Irsan dan Kapolres Lembata, AKBP Arsdo Simatupang berdecak penuh kagum menyaksikan gladi kotor 9 Desember 2016.

Kasdam bahkan terlihat bertepuk tanggan mengikuti irama knok knok dari tempurung kelapa yang dimainkaan oleh beberapa anak anak SD Lembata.

Saat lagu Mars Hari Nusantara, dinyanyikan dengan irama kolaborasi band, pukulan tempurung, botol bir dan tiupan pianika menghasilkan nada dan lagu yang membuat merinding. Semua lagu ini akan menjadi lagu persembahan di hadapan Presiden Jokowi, 13 Desember 2016. Termasuk persembahan musik knok knok pukulan tempurung kelapa.

Kasdam dan Danrem pun begitu menikmati lagu persembahan dalam gladi kotor tersebut. Mereka terpukau.

Sedikitnya 500 orang anggota paduan suara akan memeriahkan perayaan puncak Hari Nusantara ke-16 di Lewoleba, Lembata, Selasa, 13 Desember 2016 mendatang yang akan dihadiri langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Paduan Suara yang dipimpin dirijen sekaligus componis. Gerardy Tukan . dosen Unwira Kupang itu terdiri dari 350 siswa-siswi SMA di Kota Lewoleba dan 150 mahasiswa-mahasiswi Jurusan Sendratari dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

Kegiatan latihan oleh paduan suara itu sudah disaksikan langsung oleh Gubernur NTT. Frans Lebu Raya minggu lalu dan hari ini oleh Kasdam lX Udayana Brigjen TNI Stefanus Tri Mulyono.

“Saat geladi tadi paduan melantunkan sejumlah lagu Mars dan Hymne serta lagu Nawacita gubahan Gerardy Tukan. Dan tak kalah tampilan organis. Lorens Karangora yang juga anggota DPRD Lembata,” kata Kabag Humas Setda Lembata, Karolus Kia Burin kepada weeklyline.net, 9 Desember 2016. (sandrowangak)

Kasdam : Saya Bangga Dengan Lembata

WEEKLYLINE.NET – Dihadapan ratusan anggota koor Harnus, Kasdam Udayana, Stefanu Tri Mulyono, mengaku bangga dengan anak muda NTT khususnya Lembata.

“Saya bangga dengan anak anak muda NTT,” ungkap Kasdam Stefanus penuh semangat, 10 Desember 2016.

Kasdam Udayana, Brigjen TNI Stefanus Tri Mulyono, Sabtu, 10 Desember 2016 memantau langsung kondisi keamanan di Lembata menjelang Puncak Hari Nusdantara yang akan dihadiri Presiden RI, Joko Widodo.

Kasdam didampingi sejumlah Perwira yakni Danrem 16 Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Heri Wiranto, Asops Kasdam Kol. Inf. Wawan Pujiatmoko, Wasintel Letkol Inf. Arie Tri, Dandim 1624 Flotim, Letkol Dadi R, Kapolres Flotim AKBP Yandri Irsan dan Kapolres Lembata, AKBP Arsdo Simatupang.

Penjabat Bupati Lembata Sinun Petrus Manuk ketika menyambut kedatangan Kasdam dan rombongan di lokasi Harnus, Pelabuhan Laut Lewoleba menyatakan masyarakat Lembata gembira menyambut kedatangan Kasdam lX Udayana.

Brigjen TNI Stefanus Tri Mulyono di Lewoleba sekaligus memantau situasi dan kondisi pengamanan menjelang kedatangan Presiden RI Bapak Joko Widodo pada puncak Harnus, Selasa, 13 Desember 2016.

Manuk dalam sapaan selamat datang mengatakan. masyarakat senang Kasdam ke Lembata untuk pantau langsung situasi dan kondisi pengamanan di Kabupaten Lembata terkait kedatangan Presiden RI. Bpk Joko Widodo saat puncak Harnus.

Dikatakan Lembata sebuah pulau sendiri yang kalau dalam peta Indonesia terlihat hanya titik saja dengan nama Lomblen.

“Masyarakat antusias menyukseskan Harnus dan melihat secara langsung Presiden RI. Diperkirakan 7000-10.000 masyarakat akan hadir saat puncak Harnus,” katanya.

Kasdam tiba di Bandara Wunopito dan langsung menuju lokasi Perayaan Nasiona Harnus di Pelabuhan Laut Lewoleba. Kasdam didampingi pen jabat Bupati Lembata dan ketua DPRD Lembaa, Ferdi Koda.

Sementara Ketua DPRD Lembata, Ferdi Koda pada kesempatan yang sama menyatakan, Harnus di Lembata tahun ini harus sukses. Masyarakat Kabupaten Lembata telah siap menyukseskan perayaan Nasional Hari Nusantara yang sudah dibuka secara resmi semalam oleh Wakil Gubernur NTT, Benny Litelnoni mewakil Mendagri Tjahyo Kumolo.

“Meski masih ada kekurangan. namun kami punya niat baik untuk sukseskan Harnus. Mari kita bekerjasama sukseskan Harnus,” katanya. (sandrowangak)

Lembata Sebuah Prolog dan Epilog Untuk Membaca Flores

WEEKLYLINE.NET – Pulau Lembata dulunya dikenal dengan sebutan Pulau Lomblen kini sedang kesohor. Semua mata sedang memandang Lembata. Telinga mendengar dan mulut berbicara tentang Lembata. Semua itu karena gema Hari Nusantara.

Sebutan Lembata mulai diperdengarkan sejak tahun 1965. Pada tanggal 24 Juni 1967 di pulau ini dilaksanakan Musyawarah Kerja Luar Biasa Panitia Pembentukan Kabupaten Lembata yang diselenggarakan di Lewoleba. Nama “Lembata” disesuaikan dengan sejarah asalk masyarakatnya yakni dari pulau “Lapanbatan”.

Sejak 01 Juli 1967 sebutan untuk penduduk yang semula “Orang Lomblen”berubah menjadi “Orang Lembata”. Lembata sebelumnya bergabung dengan Kabupaten Flores Timur, tapi tahun 1999 terjadi pemekaran dan Lembata menjadi kabupaten sendiri.

Letak Pulau Lembata menyempil di antara dua kabupaten yakni di timur Kabupaten Alor, dan di barat dengan Kabupaten Flores Timur. Batas Kabupaten Lembata di wilayah utara dengan Laut Flores dan selatan dengan Laut Sawu.

Untuk sampai di Lembata, dapat ditempuh dengan penerbangan dari Kupang ke Lewoleba ibukota Kabupaten Lembata. Atau melalui jalan laut dengan kapal very dari Kupang, dari Alor atapun dari Larantuka. Kapal Pelni berukuran besar dari Makasar dan Surabaya juga menyinggahi Lewoleba. Setiap hari kapal motor penumpang hilir mudik Larantuka –Lewoleba.

Jauh sebelum orang mengenal beragam destinasi Flores, Komodo, Danau Kelimutu dan Perkampungan Nelayan Lamelera dengan tradisi pengakapan ikan paus telah mendunia. Di darat ada Danau Kelimutu, di laut ada ikan Paus Lamalera, dan menghubungkan laut dan darat adalah Komodo. Itulah Flores.

Flores kini tidak hanya dikenal dengan tiga destinasi itu. Di Lembata saja beraneka ragam potensi wisata, baik wisata alam, wisata bahari, wisata budaya, wisata sejarah dan purbakala sangat indah dan menarik. Lembata menyiapkan spot fotografi yang langkah di dunia.

Kreasi baru kepariwisataan pun mulai digarap. Lembata mulai diperkenalkan dengan Festival Bahari Nuhanera dan Expedisi Batutara yang dihubungkan dengan Gunung Batutara. Ekspedisi ini merupakan expedisi tahunan untuk promosi pariwisata Pemda Lembata dengan dukungan Kementerian Pariwisata RI.

Potensi lain adalah Pulau Pasir Putih Awelolong, Gua Maria Lewoleba, Lewopenutung, Pantai Rekreasi Pasir Putih dan pesona bawah laut pantai Waijarang, Sumber Air Panas Sabu Tobo, Adum dan, Labalimut, Sumber Gas Alam Karun Watuwawer, Pantai Rekreasi Tanah Treket, Rumah Adat dan Ritus Pesta Kacang Jontona.

Lain lagi adalah Pantai Pasir Putih Mingar, Pantai Lewolein, Pantai Nubi, Lusiduawutun, Air Terjun Atawuwur, Pantai Pasir Putih Bean, Pantai Pasir Putih Wowong dan Makam Raja Saguwowo Desa Kalikur Kec. Buyasuri.

Keunikan dan keindahan panorama alam dan budaya di Lembata, hanya bisa terpenuhi dengan datang ke Lembata. Di Lembata dapat saja pengunjung berkesempatan mengelilingi pulau Lembata dengan biaya dan waktu yang terjangkau. Ke Balauring-Kedang di ujung timur melalui jalan darat dapat menimati panorama alam pantai timur Tanjung Baja dan lingkaran teluk Balauring nan Indah.

Melalui perjalanan darat, bertemu dengan petani ladang-ladang ataapun para nelayan laut Sawu. Pertemuan ini pun jadi momen untuk menyingkap keunikan budaya masa lalu yang dirayakan hari ini. Tak cuma bertani dan melaut, tradisi berdagang antara orang laut dan orang darat terjadi disaksikan di Lembata ini. Kenikmatan mengasah daya nalar, sebagian yang bisa ditemukan dalam perjalanan budaya.

Diakui banyak kalangan, potensi wisata yang ada di Lembata dapat bersanding dengan Wakatobi dan Bunaken, bahkan lebih dari itu. Pemerintahan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur lima tahun terakhir mulai mengenjot sektor pariwisata ini, sekali pun di sani-sini banyak menuai kritik masyarakat sebagai bentuk pengawasan publik.

Untuk membuat pariwisata Lembata dikenal di dunia, Pemerintah Kabupaten Lembata telah bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata sejak beberapa tahun terakhir untuk mempromosikan aneka potensi pariwisata. Salah satunya melalui Launching Rely Wisata Bahari.

Pemda Lembata memang melakukan berbagai terobosan kebijakan di sektor wisata. Infrastruktur memang perlu disiapkan dan fasilitas harus memenuhi target pasar dan salera wisatawan. Event pariwisata pun mesti selalu dikreasi, sambil menyiapkan ruang bahkan menjadi lebih diprioritaskan adalah event-even budaya yang diinisiatif oleh masyarakat dan anak muda.

Jangan lupa wisata apapun harus berguna untuk masyarakat Lembata sendiri. Begitu pun tidak hanya untuk keuntungan hari ini, tapi juga dapat bertahan hingga ke anak cucu. Pembinaan dan pendampingan bagi masyarakat satu hal yang perlu dikerjakan. Bagaimana pun dunia usaha wisata masih jauh dari kehidupan masyarakat yang agraris. Orang Lembata harus mencintai daerahnya secara budaya agar menjadi pesona bagi yang lain.

Datanglah ke Lembata. Untuk mengenal Flores, jika Anda mulai perjalanan dari Labuan Bajo maka Lembata akan menjadi “Epilog” yang merangkum semua itu. Tapi jika Anda mulai dari Lembata, maka di sini bacaaan Anda tentang Flores semakin dipermudah karena Lembata menyuguh “Prolog” yang cukup baik tentang Flores.

Keindahan Lembata yang keren pun diakui oleh Komandan Korem 161 Wirasakti Kupang, Herri Wiranto. Dia menyebutkan Lembata Luar biasa keren. Hal yang sama juga diakui oleh kata Rochayati Basra, Ketua Bidang Nusantara Expo Harnus 2016 saat membawakan sambutan pembukaan Expo Nusantara, 9 Desember 2016. (sandrowangak)

Pulau Yang Ada Siput Hanya Di Lembata

WEEKLYLINE.NET – Masyarakat setempat menyebutnya Pulau Awololong jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia disebut Pulau Siput. Pulau ini merupakan laguna. Proses pembentukan dari timbunan pasir.

Pulau ini hanya muncul pada saat air surut. Ketika air laut pasang Pulau Awalolong atau Pulau Siput ini tidak kelihatan, kelihatan dari jauh berwarna putih di tengah birunya laut.

Letak Pulau Siput di ujung timur Pulau Lembata. Berada di wilayah Kecamatan Lewoleba. Hanya berjarak 300 meter dari pesisir Lewoleba.

Untuk mencapai tempat ini dapat menggunakan perahu motor. Ya, anda hanya membutuhkan waktu 5 menit saja. Sampai deh. Ongkos perahu pun murah meriah. Anda hanya mengeluarkan isi kocek sebesar Rp. 5000 sekali jalan.

Biaya ini sangat murah bila kita bandigkan dengan pesona alam yang kita dapat di Pulau Siput. Pulau ini memiliki hamparan pasir putih. Luasnya dua kali lapangan sepak bola. Hamparan pasir putih ini bertaburan aneka jenis siput. Karenanya pulau ini diberi nama Pulau Siput.

Karena terbentuk dari endapan pasir, maka pulau ini tidak dapat digunakan sebagai kawasan hunian. Sehingga pulau ini menjadi menjadi tempat untuk menyaksikan panorama kota Lewoleba yang dibingkai oleh jejeran perahu nelayan, pohon nyiur melambai dan deretan rumah panggung yang bertengger di permukaan laut.

Siput kering yang dibawah oleh salah seorang peserta karnaval budaya (foto:sandrowangak)
Siput kering yang dibawah oleh salah seorang peserta karnaval budaya (foto:sandrowangak)

Panorama berikutnya adalah menyaksikan keindahan sunset, matahari yang hendak terbenam . Keindahan itu demikiaan nyata di depan mata. Sebab tak ada yang menghalangi pandangan saat menyaksikan detik-detik terakhir sang surya kembali ke peraduan. Begitu leluasanya kita menikmati semua itu, karena letak Pulau Siput berada di tengah laut tanpa pepohonan atau tanaman lain yang tumbuh di tempat itu.

Pulau Siput merupakan pulau yang unik karena baru muncul saat air laut surut dan akan hilang saat pasang naik. Dalam kondisi alam seperti ini Pulau Siput hingga saat ini belum menjadi pilihan warga. Karena warga dihantui oleh rasa was-was bila sewaktu-waktu air laut naik dan menggelamkan pulau itu. Memang untuk hal yang fatal belum terjadi di pulau ini. Karena itu pulau ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata apabila sudah diketahui waktu pasang naik dan pasang surut air laut.

“Saya awalnya takut menuju pulau di tengah laut ini. Tapi ketika saya menginjakkan kaki di tempat ini saya sungguh terpesona oleh permandangan alam yang diamati dari pulau ini.” Ungkap Nur Nacita salah seorang tamu Harnus yang pernah menginjakan kakinnya di Pulau tersebut. Pulau Siput pantas untuk lokasi tujuan wisata khususnya menikmati sunset sambil memilih siput yang berteberan di atas pasir pulau itu.

Emil Diaz, salah seorang seniman tersohor di Lembata dan Flores Timur memiliki inspirasi membangun patung besar di Pulau Siput dan berharap pemerintah membangun jembatan dari Lewoleba ke pulau itu.

Menurut dia, Lewoleba seyogianya ditata untuk kebutuhan masa mendatang. Itu berarti penataan tersebut harus dilakukan dari sekarang. Sebagai seniman, lanjut dia, pihaknya ingin membuat karya monumental untuk Lewoleba. Karya dmonumental yang menjadi obsesinya, adalah membangun patung besar di Pulau Siput.

Nah kegiatan perayaan Harnus menjadi bagian terpenting dalam mempromoikan Pulau Siput sebagai sebuah desrtinasi wilayah. Sebab, saat puncak perayaan Harnus, 13 Desember 2016, sebanyak 12 Kapal Perang termasuk KRI Dewa Ruci, bersama 175 kapal nelayan akan melakukan parade Sailing Pass mengitari pulau Siput. Dan pulau siput, hanya ada di Lembata. (sandrowangak)

Lautan Manusia Banjiri Karnaval Budaya

WEEKLYLINE.NET – Rangkaian Kegiatan Hari Nusantara di Lembata diawali dengan karnaval budaya sebelum expo nusantara dimulai. Beranekaragam budaya dan sumber daya alam ditampilkan.

Berbagai budaya yang ada di lemnbata ditampilkan sebagai pesan kepada dunia bahwa Lembata itu Keren. Lembata itu toleransi. Lembata itu indah. Lembata itu penuh kasih. Lembata itu damai.

Kenata atau Tempat Siri Pinang yang harus dimiliki wanita lamaholot yang sudah menika.(foto : sandro)
Kenata atau Tempat Siri Pinang yang harus dimiliki wanita lamaholot yang sudah menika.(foto : sandro)

Sebut saja misalnya, Komunitas Alor menampilkan pakaian dari kulit kayu. Etnis bajawa mengikuti karnaval dengan menari jai sepanjan jalan. Rote dengan alat musik sasando. Etni jawa dengan baju adat jawa. Sulawesi dan Tanah Toraja dengan pakaian adat masing masing. Itulah Lembata tergambar dalam rangkaian karnaval budaya Harnus 2016.

Bukan hanya itu, tarian khas Lembata pun di tampilkan termasuk busana dan pakaian adat. Yohanes Betekeneng yang tampil sebagai narator Karnaval menggambarkan Lembata itu terbuka untuk siapa saja dan ramah terhadap siapa saja.

Periuk yang terbuat dari tanah liat, salah satu ciri khas Lembata.(foto:sandro)
Periuk yang terbuat dari tanah liat, salah satu ciri khas Lembata.(foto:sandro)

Untuk itu, menjaga Lembata dalam semangat taan tou menjadi kewajiban semua orang yang datang dan tinggal di Lembata.

Selain busana khas Lembata, Indonesia berbagai kerajinan tangan dan hasil pertanian serta makanan local juga ditampilkan. Karnaval ini dilepas oleh Penjabat Bupati Lembata, Sinun Petrus Manuk dengan rute start dari depan SMA PGRI Lewoleba dan finis di Wulen Luo, lokasi perayaan Harnus 2016. Peserta yang mengikuti karnval diperkirakan 1300 arang dari berbagai kalangan. (sandrowangak)