Beranda » 2017 » September » 04

Arsip harian: 2017-09-04

Pondok Ceruk, Teras Memandang Burung Yang Terbang Hilir Mudik

Di Danau Waibelen Riangpuho

 

WEEKLYLINE.NET – Satu lagi fasilitas yang disiapkan di objek wisata Danau Waibelen yang menambah indahnya danau dengan warna hijau toska ini adalah “Pondok Ceruk”. Pondok dengan nuansa asmara, dibangun sejak pertengahan Juni 2017 oleh Kondradus Kosa Brinu. Terletak persis di bibir Danau Waibelen, Desa Waibao, Kecamatan Flores Timur (Flotim).

Kons sapaan Kondradus Brinu terinspirasi untuk membuat ‘Pondok Ceruk” setelah rumah pohon yang pertama dibangun, dan ramai dikunjungi oleh wisatawan. Pondok dengan ketinggian sekitar 10 meter dari dasar danau ini dibuat dengan menggunakan beberapa kayu hutan dan belahan bambu.

Luasnya lebih kurang lebih 35m. Didalamnya tersedia dua buah bale- bale yang digunakan untuk duduk beristirahat sambil memandang keindahan danau, berfoto dan selfi, termasuk dapat digunakan sebagai pengganti meja untuk menikmati makanan ringan atau santap siang bersama pasangan atau keluarga.

Setiap wisatawan yang ingin sampai ke  “Pondok Ceruk” atau menuju ke danau dan melihat secara dekat, perlu menuruni jalan semenisasi lebih kurang 500 meter dengan sedikit jalan berbatu yang cukup curam sebelum menembus hutan kecil di tepi danau.
Semilir angin yang membuai setiap wisatawan tak membuat mereka mengeluh lelah.

Untuk akses ke dalam “Pondok Ceruk” wisatawan akan melewati jalan kayu yang terhubung dengan pondok. Kons Penggagas “Pondok Ceruk”  selalu setia menyambut, mengantar dan menemani setiap wisatawan yang memanfaatkan “Pondok Ceruk” untuk berekreasi.

Pemuda Riangpuho, Desa Waibao yang tidak tamat SD ini, nampak bersahabat dengan siapa saja yang datang berwisata di Danau Waibelen. Ia berharap, bagi siapa saja yang datang di Danau Waibelen terkhusus lagi yang memanfaatkan “Pondok Ceruk” dapat meneruskan informasi kepada wisatawan yang lain untuk berkunjung ke Danau Waibelen.

“Saya tidak meminta lebih dari setiap pengunjung yang datang. Tarif yang kami kenakan bagi pengunjung yang memanfaatkan “Pondok Ceruk”, hanya Rp.5000.

Sementara bagi pengunjung yang meggunakan sampan untuk berkeliling di danau, kami juga memasang tarif Rp.5000. Namun, tarif ini tidak otomatis. Jika pengunjung tidak memiliki uang yang cukup sesuai tarif yang kami tetapkan, bisa menyumbang saja secara sukarela. Saya hanya minta tolong sebarkan informasi kepada siapa saja baik yang ada di Flores Timur maupun di luar Flores Timur untuk datang dan berekreasi di Danau Waibelen.

“Kita jadikan Danau Waibelen sebagai salah satu objek wisata di Flotim yang dapat dikenal secara nasional dan bahkan mendunia, “kata Kons

Kons Brinu setiap hari selalu berada di danau. Ia dibantu beberapa orang muda yang setiap pagi sebelum pengunjung datang, melakukan pembersihan di sekeliling danau.Membersihakan sampah, membersihkan sampan, dan juga melakukan penataan objek wisata lainnya yang perlu untuk kenyaman pengunjung yang datang di Danau Waibelen.

Keuntungan yang diperoleh sehari dalam mengelolah “Pondok Ceruk” dan pemakaian jasa sampan berkisar antara Rp.50.000 sampai Rp.100.000. “ Keuntungan yang  kami peroleh dalam sehari berkisar antara Rp. 50.000 sampai Rp. 100.000. Hitungan ini diluar dari hari libur.

Saat hari libur pengunjung biasa lebih banyak. Karena pengelolaan ini kami lakukan secara swadaya, sedikit keuntungan yang kami peroleh, menambah perekonomian keluarga dan sebagiannya untuk perawatan objek wisata, termasuk kedepannya, ada sumbangan untuk menambah pendapatan Desa Waibao,’kata Kons.

Dari dalam “Pondok Ceruk” kita dapat menyaksikan beragam jenis burung yang hinggap di permukaan air atau terbang hilir mudik menambah kenikmatan suasana keaslian Danau Waibelen.

[amber kabelen]

Dari Sabtu Membaca, Mereka Berliterasi Tanpa Lelah

WEEKLYLINE.NET – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Lewolema selalu memiliki kreasi – kreasi baru dalam menghidupkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Sekolah yang berlokasi di Dusun Welo, Desa Painapang Kecamatan Lewolema ini, aktif melakukan pelatihan jurnalistik di sekolah, pembuatan Majalah Dinding (Mading) sekolah, Buletin, dan menggiatkan jam membaca yang dikenal dengan ‘Sabtu Membaca”.

Tidak saja di sekolah, siswa di sekolah ini juga mengkampanyekan gerakan literasi di luar sekolah. Ini dapat terlihat selama dua tahun berturut – turut dalam ajang karnaval di Kota Larantuka menyongsong Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) SMPN 1 Lewolema selalu mengusung tema gerakan literasi.

Pekan ini, muncul lagi satu kreasi anak – anak di SMPN 1 Lewolema, mendukung dan terus menghidupkan gerakan literasi sekolah yakni, siswa menuliskan pengetahuan – pengetahuan umum di kertas, kemudian digunting dan dirangkai, ditempelkan, dan digantung pada sudut- sudut sekolah sebagai media baca siswa pada saat jam istirahat.

Pengetahuan dan informasi, yang terpampang bervariasi mencangkup pengetahuan umum.

Kepala SMPN 1 Lewolema, Solirus Soda, S.Pd memberi apresiasi terhadap karya anak – anak dibawah bimbingan para guru.

“Sebagai pimpinan di lembaga, segala kreasi anak dan guru selalu kami apresiasi. Sekolah menjadi ruang kreasi, tempat guru dan siswa berproses di dalamnya.

Tentang GLS di SMPN 1 Lewolema, sejak sekolah berdiri tahun 2015, telah digiatkan dan dari hari ke hari terus ditingkatkan kualitasnnya.

Solirus Soda mengatakan, dampak dari gerakan literasi dengan menggiatkan siswa membaca dan menulis sangat besar manfaatnya dalam pembentukan mental dan karakter anak.

Membaca menambah pengetahuan, menulis membuat anak mampu mengolah pikirannya secara kreatif. Jika siswa tekun dalam proses ini, maka harapan akan adanya peningkatan hasil belajar siswa dapat tercapai.

Maksimus Masan Kian, guru pendamping siswa dalam menghidupkan gerakan literasi di sekolah, turut berbangga dengan kreasi anak anak SMPN 1 Lewolema, bagi Maksi yang juga adalah Ketua Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang Flotim, karya anak akan lahir jika ruang kreasi dibuka dan disiapkan.

“Anak – anak Flotim memiliki potensi. Saatnya guru di sekolah memberi motivasi dan memberi pendampingan untuk anak berkarya. Setelah berkarya berilah pujian dan hadiah. Cara – cara apresiasi yang dilakukan akan memacu anak untuk berani berkarya dan mengeksplorasi bakat dan kemampuannya.

Yohanes Ruron, Maria Lebuan dan Tendi Ruron, siswa kelas VII A yang karyanya ditempelkan, 31 Agustus 2017 mengaku senang.

“Ini menjadi pengalaman pertama, dimana karya kami yang sederhana ini dipilih untuk ditempelkan di sekolah menjadi bahan bacaan menambah pengetahuan dan mendapatkan informasi. Kami senang dan akan menghasilkan karya tulis berikutnya yang lebih baik.

 

[maksimus masan kian]