Beranda » 2017 » September » 05

Arsip harian: 2017-09-05

Belogili Daerah Gudang Jambu Mente

WEEKLYLINE.NET – Siapa saja yang pernah berkunjung ke Belogili, Desa Balukherin tentu tahu dan sepakat bahwa wilayah ini menjadi gudang jambu mente untuk Kabupaten Flores Timur (Flotim).

Bagaimana tidak, hampir semua tempat di Belogili ditanami jambu mente. Jambu mente mendapat tempat di hampir semua wilayah Belogili.

Desa Balukherin menjadi salah satu desa dari 6 (enam) desa di Kecamatan Lewolema, Flotim. Komoditi asli dan utama di desa ini adalah jambu mente. Pohon jambu mente dapat kita temui di setiap halaman rumah warga, baik di halaman depan, samping ataupun belakang.

Jika di halaman rumah saja demikian, maka praktis, warga Belogili tidak memiliki lahan untuk usaha jenis komoditi lainnya. Semua lahan digunakan untuk menanam jambu mente.

Warga dengan pekerjaan pokok petani, selain beberapa rumah sebagai nelayan, sangat bergantung pada hasil komoditi jambu mente. Tahun ini, boleh dibilang berkat untuk warga Belogili secara khusus dan warga Flores Timur pada umumnya.

Hasil mente di wilayah ini sangat bagus dan memuaskan.Ditambah harga perkilogram mente Rp. 25.000 saat ini membuat warga dapat tertolong dari kesulitan ekonomi.

Salah satu warga Belogili Desa Balukherin Frengki Koten ditemui, Selasa (5/9/17) mengatakan, hasil panen mente tahun ini lumayan bagus, termasuk harga yang sangat pas jika dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya.

“Hasil panen mente tahun ini lumayan bagus, termasuk harga juga sangat pas jika dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Di Belogili, sehari panen bagi warga yang memiliki kebun mente yang luas bisa mencapai Rp. 2.500.000 sampai Rp. 5.000.000. Bahkan jika hasil seperti ini bertahan terus hingga akhir musim mente, masyarakat bisa meraup keuntungan diatas Rp.20.000.000 bahkan lebih dari angka itu, kata Frengki.

Frengki menambahkan, untuk wilayah Belogili warga menimbangnya di Kota Larantuka. “Hampir semua warga menimbang hasil mentenya di Kota Larantuka. Hanya ada satu dua kios yang menimbang langsung dari petani. Namun rata- rata warga sendiri menimbang langsung di Kota Larantuka. Jika sebelumnya mobil hanya sekali jalan ke Larantuka, saat musim mente mobil bisa bolak- balik dua hingga tiga kali, “tutur Frengki.

Hal yang sama disampaikan Yuliana Ruron, Warga Desa Painapang Kecamatan Lewolema. Menurut Yuli, hasil panen jambu mente tahun ini sangat menjanjikan.

“Di Desa Painapang, khususnya di Dusun Welo, warga berani menyewa orang dengan bayaran perorang untuk satu hari berkisar Rp. 50.000- Rp. 100.000. Rp. 50.000 untuk anak anak sekolah usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Rp. 100.000 untuk orang dewasa. Warga berani menyewa orang untuk memetik jambu mente karena hasilnya panennya sangat bagus. Berharap, kondisi ini tetap bertahan hingga musim mente tahun ini berakhir,”kata Yuli.

[maksimus masan kian]

Jumlah Penduduk Miskin di Lembata 66.513 Jiwa

WEEKLYLINE.NET – jumlah penduduka miskin di Lembata tahun 2017 66.513 orang dari 17.206 rumah tangga miskin.

Hal ini dipaparkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik kabupaten Lembata, Paulus Puru Bebe dalam workshop Pencegahan Pernikahan Usia Anak oleh Plan International Program Area Lembata, 5 September 2017 di Hotel Palm.

Pada kesempatan itu, Puru bebe memaparkan data statistik tentang pertumbuhan penduduk Lembata dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2016.

Pada Tahun 2010 demikian Puru Bebe, jumlah penduduk Lembata sebanyak 118.406, meningkat drastis pada tahun 2015 menjadi 132.171. sementara pada tahun 2016 jumlah penduduk Lembata 134.573

“Dari jumlah penduduk Lembata sebanyak 134.573 pada tahun 2016, didapati data sebaran kemiskinan Kabupaten Lembata sebanyak 66.513 dan  17.206 RTM,” ungkap Puru Bebe.

Sebaran jumlah penduduk miskin ini nyaris merata di 151 desa/kelurahan di 9 kecamatan di Lembata.

Dalam data yang diapaparkan BPS Lembata tersebut, Buyasuri dengan 20 desa memiliki 12.766 penduduk miskin. Lalu Omesuri dengan 22 desa memiliki 11.115 penduduk miskin.

Kecamatan Nubatukan dengan 18 desa/Keluarahan memiliki 10.543 penduduk miskin.

[sandrowangak]

Cegah Nikah Usia Anak, Untuk Lembata Kabupaten Layak Anak

WEEKLYLINE.NETSalah satu masalah sosial dikalangan remaja yang kerap terjadi khusus di Kabupaten Lembata adalah pernikahan usia anak.

Fenomena pernikahan usia anak ini ternyata luput dari perhatian berbagai pihak. Plan International Area Kerja Lembata, melakukan penelitian terhadap fenomena pernikahan usia anak di Lembata.

Hasilnya adalah sebanyak 26 persen anak putus sekolah karena alasan menikah. Penelitian ini dilakukan di 15 sekolah menengah atas yang tersebar di seluruh Lembata random sample sebanyak 96 anak putus sekolah.

Hal ini disampaikan dalam materi workshop Pencegahan Pernikahan usia Anak yang diselenggarakan oleh Plan International Program Area Lembata, di Hotel Palm Indah, 7 September 2017.

Data yang dipaparkan oleh YAP menegaskan beberapa faktor yang menyebabkan anak anak putus sekolah adalah faktor ekonomi keluarga juga alasan menikah.

Alasan ekonomi keluarga menempati urutan pertama yakni 48 persen sedangkan alasan menikah pada urutan kedua yakni 26 persen. Alasan lainnya 33 persen dan karena seks beresiko 1 persen.

Dari hasil penelitian ini Plan Internasional Area Program Lembata menempatkan isu pernikahan usia anak menjadi sebuah isu menarik dan mendapat perhatian semua pihak.

Sebab, bila fenomena pernihakan usia anak tetap terjadi maka rencana peluncuran Lembata sebagai Kabupaten Layak anak sudah tentu terkendala.

Erlina Dangu, Deputi Field Sponsorship Manager Plan International Indonesia Program Implementasi Area Lembata mengungkapkan di Lembata, isu ini pun sudah seharusnya menjadi perhatian bersama, mengingat tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak dan angka putus sekolah yang cukup signifikan.  Kedua hal ini merupakan beberapa factor pemicu adanya perkawinan usia anak, baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat.

“Pernikahan usia anak mesti menjadi isu bersama agar bisa mewujudkan Lembata Kabupaten Layak Anak di tahun 2019 mendatang,” ungkap Dangu.

Dan worskhop yang diselenggarakan oleh Plan International Program Area Lembata, melibatkan banyak stakeholder  seperti Organisasi Perangkat Daerah, Kepolisian, LSM, organisasi keagamaan, sekolah dan organisasi anak muda.

Diharapkan fenomena usaha mencegah pernikahan usia anak menjadi pekerjaan bersama antara pemerintah Kabupaten Lembata dan semua pihak.

Lebih jauh Erlina Dangu menjelaskan, Plan ketika masih menjadi NGO international masih berhati hati membicarakan isu ini. Akan tetapi saat ini Plan sudah berubah menjadi Yayasan Plan Indonesia sehingga berhak membicarakan soal isu ini.

“Kami plan fokus di perlindungan hak anak khususnya anak perempuan. Dan pernikahan usia anak menjadi isu central tahun 2017, visi kami adalah memperjuangkan sebuah dunia yang adil dan beradab bagi anak, khusus anak perempuan,” ungkap Dangu.

Dunia anak perempuan yang adil bagi Plan adalah Anak perempuan harus bisa belajar, anak perempuan berhak memimpin, berhak memutuskan, dan berhak berkembamg sesuai dengan bakat dan potensi yang dimiliki.

“Bila Anak perempuan menikah pada usia anak, akan menghambat empat proses ini,” tegas Erlina Dangu.

Untuk itu Plan International Program area Lembata pada tahun 2017, fokus pada isu pencegahan pernikahan usia anak sebagai baguan dari perayaan hari anak perempuan international dengan tema penghapusan pernikahan usia anak.

“Kami berharap dengan kegiatan ini semua kita membangun persepsi bersama, dan melakukan gerakan bersama rencana tindak lanjut, bekerja sama dengan semua stake holder, advokasi bersama dengan pemerintah agar ada program khusus untuk anak dan kaum muda berikut kebijakan anggaran untuk anak dan remaja menuju Lembata sebagai Kabupaten Layak Anak tahun 2019,” harap Dangu.

[sandrowangak]