Beranda » 2017 » November

Arsip Bulanan: November 2017

Meme Dari

Adakah keluh di setiap keriputmu

kutemukan teduh sejuta pohon bayan

Adakah sesal di setiap putih rambutmu

kudapatkan senyum mengulum sejuk

Kucari luka di jejak senjamu

kutemukan tabah yang telah mendarah

 

Tulus menenun hidup

Jiwa terpupuk mantra kasih

meramu keluh sesal perih merintih

jadi petuah berguna putih

Menganyam duka garang meradang

jadi gendewa hidup berdendang

 

Meski berjuta surya telah memudarkan sigapmu

Lautan peluh telah memelukmu

Aroma keibuanmu tak terkoyak,

“air susuku telah kering, tinggal jiwa renta yg kupunya. Sudahkah anak-anakku makan?”

 

Kepada telapak kaki yg tidak lagi menapak tiap jengkal tanah

Kepadamu di pembaringan renta

Yang juga kuyakin merindu ibunya

Seperti juga aku ketika sepertimu

Tetaplah jadi ibu di setiap lahirku

dan

di setiap tarian semesta

 

 

Bagus Denesson

Benda Cagar Budaya Di Lewohala Diduga Hilang

WEEKLYLINE.NET – Lewohala. Perkampungan adat di leremg Gunun Ile Ape ditetapkan pemerintah pusat menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTb). Status WBTb ini melindungi semua benda benda cagar budaya yang berada di Lewohala, Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Lembata.

Sayangnya beberapa benda cagar budaya yang bernilai dan dilindungi itu dikabarkan hilang. Informasi kehilangan benda cagar budaya ini merebak di kalangan masayarakat Desa Jontona dan sekitarnya. Sebab, masyarakat pemilik rumah adat di Kampung Lama Lewohala tersebar di delapan desa, se Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.

Asan Keluli, salah saru tokoh adat Lewohala kepada weeklyline.net, Senin, (27/11/2017) menjelaskan kebanyakan benda cagar budaya setelah dipakai saat ritual pesta kacang (uta weru), disimpan kembali di rumah adat masing masing. Jumlah rumah adat di Lewohala, menurut Asan Keluli sebanyak 77 buah rumah adat. Dan masing masing rumah adat memiliki benda pusaka warisam nenek moyang.

Dia merincikan, Benda Cagar Budaya berupa Gading Gajah yang berumur ratusan tahun masih tersimpan di rumah adat Suku Gesimaking Lango Harudula,  juga berada di rumah adat Suku Benimamaking Watukepeti, Benimamaking Atulangun Male Beni, Matarau Boromado. Benda budaya Gading Gajah juga dimiliki oleh Rumah Adat Balawangak Lewolawi, Halimaking Padalangun.

Asan menceritakan, pada tahun 1990 an, Gading Gajah milik Suku Gesimaking Lango Harudula, sempat hilang. Diduga dicuri. Karena saat ditemukan kembali beberapa tahun kemudian, Gading tersebut dalam bentuk potongan tiga bagian.

Dugaan kehilangaan benda cagar budaya di kampung adat lewohala ini, membuat resah warga karena benda benda tersebut merupakan warisan leluhur dan memiliki peranan penting saat ritual pesta kcang berlangsung.

Saat ini, benda cagar budaya yang hilang dari Kampung adat Lewohala adalah Piring adat berdiameter 50-80 cm oleh masyarakat setempat disebut pige. Piring ini milik Suku Benimamaking Waukepeti, Lewokedang dan Balawangak Keturunan bala, Masing masing 1 buah.

Selain piring, Anting Adat disebut Belao Kukuwila Tai milik suku Gesimaking Langoharudula, akan tetapi sudah dikembalikan. Benda yang sama, Belao Lusi Tai milik Suku Langobelen dan Lemaking Wolangun juga hilang. Belao ini terbuat dari besi Kuningan asli.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, demikian Asan, kalau benda benda warisan tersebut hilang karena dicuri maka berakibat kematian terhadap oknum tersebut.

Dan beberapa benda yang hilang dan belum ditemukan sudah dilakukan ritual baulolon, di Namang sebagai bentuk pemeriksaan diri masyarakat setempat sembari bersumpah bahwa bukan mereka yang mengambil benda benda tersebut. (sandrowangak)

Rahmat Gunung Agung Untuk Desa Duda

WEEKLYLINE.NET – Gunung di Karangasem itu bagi orang Bali dipercaya Agung. Mereka percaya dan yakin bahwa di atas Gunung itu bersemayam Tuhan, Sang Hyang Widhi Wasa. Sungguh Gunung Agung bukan sekedar sebuah Gunung biasa. Dia sungguh sungguh Agung bagi Orang Bali. Selain Agung Juga Keramat.

Dan kabar meletusnya Gunung Agung niscaya sebagai bencana, pun dipercaya membawa rahmat bagi warga sekitar Gunung Agung itu. Semisal, Desa Duda Utara, di Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Desa Duda Utara merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem Provinsi Bali. Desa ini terbagi menjadi enam dusun yaitu Dusun Perangsari Kaja, Dusun Perangsari Tengah, Dusun Perangsari Kelod, Dusun Geriana Kangin, Dusun Geriana Kauh dan Dusun Tukad Sabuh. Desa ini sangat kaya akan potensi seperti potensi alam maupun buatan.

Memiliki iklim yang sejuk dikarenakan berada di dataran tinggi. Selain itu desa ini memiliki tanah yang subur, sehingga tidak heran jika di desa ini terdapat lahan perkebunan dan pertanian yang cukup luas. Dari sektor pertanian terutama pertanian lahan basah merupakan tumpuan masyarakat desa duda utara. Pola tanam yang diterapkan pada lahan basah adalah padi dan palawija. Sedangakan pertanian lahan kering yang masuk dalam sub sektor perkebunan dan holtikultura berada di tegalan dan lingkungan pekarangan rumah penduduk.

Dilansir dari website Resmi Desa Duda Utara, bahwa Jenis tanaman yang ditanam pada umumnya sebagian besar adalah pohon salak. Jenis salak yang dibudidayakan di desa ini adalah jenis salak lokal dan salak gula. Salak lokal memiliki bentuk buah yang cenderung lebih besar, daging buahnya berwarna kekuningan dan memiliki rasa manis dengan sedikit rasa asam. Sedangkan salak gula cenderung memiliki warna daging buah yang putih dan rasa yang lebih manis.

“Jika datang ke desa ini anda dapat melihat aktifitas pentani sehari harinya, belajar cara membudidayakan tanaman salak dan tentu saja dapat membeli salak dan langsung memetik dari pohonnya,” seperti dilansir dari website resmi Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.

Selain sebagai penghasil salak, Desa Duda Utara juga terkenal akan hasil kerajinan batu tabas.  Batu tabas merupakan sejenis batu lahar yang dimanfaatkan oleh pengerajin yang ada di desa duda utara. Batu ini merupakan jenis batuan vulkanik yang dihasilkan dari letusan gunung berapi. Para pengerajin di Desa Duda Utara biasanya mendapatkan batu ini dari desa desa yang terletak di sekitar Gunung Agung seperti Desa Tianyar.

Batu ini  diolah oleh pengerajin menjadi ukiran patung. Selain itu batu ini juga dipotong kecil seukuran batu bata yang biasanya digunakan sebagai bahan pembuatan bangunan.

Mayoritas penduduk di Desa Duda Utara bekerja sebagai petani salak sehingga produksi salak pada saat panen raya sangat melimpah. Hal tersebut berdampak pada harga buah salak yang cenderung menurun pada saat panen raya. Untuk itu para petani di desa ini yang tergabung dalam kelompok tani mengembangkan produk olahan yang berbahan dasar salak agar nilai ekomis dari buah salak tersebut lebih tinggi. Produk olahan yang dihasilkan diantaranya keripik salak, dodol salak, manisan salak, dan selai salak.

Jadi jika anda berkunjung ke desa duda utara jangan lupa membeli produk olahan salak yang unik dan tentunya bercitarasa nikmat.

Selain terkenal akan perkebuanan salak dan macam olahannya Desa Duda Utara juga dianugerahi dengan potensi alam berupa sumber mata air yang sangat melimpah. Sumber mata air ini tersebar di beberapa dusun di Desa Duda Utara.

Sebagian besar penduduk memanfaatkan sumber sumber mata air ini untuk keperluan rumah tangga, mandi, mencuci maupun keperluan lainnya.

Dari beberapa sumber mata air tersebut terdapat satu sumber mata air yang disucikan dan dipercaya bertuah oleh masyarakat sekitar. Sumber mata air biasa disebut  “Pancoran Yeh Tis” oleh masyarakat lokal.

Pancoran Yeh Tis berasal dari Bahasa Bali yang terdiri dari tiga kata yaitu Pancoran, Yeh dan Tis. “Pancoran” dalam bahasa indonesia berarti pancuran atau sumber mata air, “Yeh” dalam bahasa indonesia berarti air dan “Tis” dalam bahasa indonesia berarti sejuk atau dingin.

Jadi Pancoran Yeh Tis berarti sumber mata air yang sejuk. Dinamakan demikian karena sumber mata air ini memiliki air yang paling sejuk dan dingin diantara pancuran yang lainnya. Sumber mata air ini sering dijadikan sebagai tempat “Melukat” atau pembersihan diri secara spiritual oleh masyarakat. Air dari mata air ini dipercaya oleh masyarakat dapat mengobati berbagai macam penyakit terutama penyakit yang disebabkan oleh ilmu hitam.

Selain itu jika mandi di sumber mata air ini dipercaya dapat membuat wajah terlihat lebih cerah dan awet muda. Jadi jika anda berencana berkunjung ke Desa Duda Utara sempatkanlah “Melukat” atau membersihkan diri di sumber mata air  ini.

Desa Duda utara merupakan salah satu desa penghasil buah salak yang ada di kabupaten karangaansem. Tak heran jika mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani salak. Selain bekerja sebagai petani salak, penduduk di desa ini juga bekerja sebagai pengerajin Ata. Ata merupakan sejenis tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai anyaman. Hasil dari kerajinan Ata ini berupa keranjang dan tas yang memiliki nilai seni yang tinggi.

Kerajinan Ata ini oleh pengrajin ini biasanya dijual ke pengepul untuk kemudian dipasarkan di sekitar daerah Ubud.

(luh dias/ni nyoman sunuasih)

Berjalanlah Dengan Damai, Ibu

WEEKLYLINE.NET – Hari ini segenap masyarakat Banjar Geriana Kauh, Desa Duda Utara, Kabupaten Karangasem, Bali mengadakan ritual menyambut yang disebut ngaturang pemendak kepada Sang Hyang Giri Tohlangkir atau manifestasi Ida Sang  Hyang Widhi yang beristana di puncak Gunung Agung  .

Hal ini mengingatkan kembali sejarah letusan Gunung Agung tahun 1963 dimana saat itu ada satu desa yang tidak mau mengungsi dan bertahan di di pura desa setempat menghaturkan penyambutan bagi Ida Betara Sang Hyang Giri Tohlangkir yang saat itu akan meletus.

Segenap warga laki laki di desa tersebut menolak untuk mengungsi ke desa lain. Karenanya yang mengungsi saat itu hanya kaum perempuan dari desa tersebut. Sampai Gunung Agung meletus mereka tidak beranjak dari Pura Desa sambil membunyikan gamelan. Sehingga mayat mayatnya pun ditemukan dalam posisi duduk. Sungguh sebuah kepercayaan, keikhlasan dan penyerahan diri yang luar  biasa kepada Tuhan Yang Maha Esa . Sebuah totalitas dari kepercayaan terhadap yang memberi hidup.

Dan di masa sekarang, seperti dilansir dari nowupdate @denpasarnow pada hari ini Senin 27 November 2017 saat lahar pertama turun dari Gunung Agung warga Banjar Geriana Kauh melakukan upacara penyambutan kepada Sang Hyang Giri Tohlangkir yang bermakna penghormatan kepada beliau yang disebut dengan ngaturang pemendak.

Ngaturang pemendak bisa dianalogikan demikian. Ketika seorang pemimpin atau yang kita hormati melintas didaerah kita disanalah kita menyambut pemimpin tersebut dengan sukacita. Dalam hal ini adalah Gunung Agung yang disucikan oleh umat Hindu dan dianggap sebagai ibu dari semesta.

Perlu diketahui konsep gunung pada masyarakat Hindu memiliki makna suci , dijadikan sebagai hulu atau kiblat dalam berbagai persembahan kepada Tuhan. Sehingga Gunung juga bisa disebut sebagai ibu alam semesta.

Sungguh luar biasa sebab di tengah gempuran arus teknologi dan globalisasi seperti sekarang, ketika pemerintah menghimbau untuk segera mengungsi , menyelamatkan harta benda dan nyawa sebab status Gunung Agung sudah pada level IV Awas , warga Banjar Geriana Kauh masih tetap melakukan tradisi tersebut.

Tradisi tetap menjadi tradisi apapun yang terjadi. Sebuah keunikan yang membuat decak kagum. Bagaimana tidak, ketika orang lain ketar ketir bahkan mengungsi secepatnya mereka masih sempat untuk melakukan upacara penyambutan.

“Memargi .. memargi alon alon , dumogi rahayu jagate sami”

Kurang lebih terjemahannya demikian “berjalan.. berjalanlah dengan pelan, semoga selamat alam semesta ini “

Yang terpenting makna dari ritual ini sebagai penyerahan diri kepada kuasa Tuhan . Alam semesta dan isinya adalah kuasa Tuhan . Beliau yang menciptakan, yang memelihara juga melebur semua ciptaannya.

Di sisi lain saya melihat Bali yang benar benar selalu ajeg menjaga budaya dan umumnya teguh pada agama leluhur . Di tengah gempuran arus modernisasi dan globalisasi dimana Bali menjadi tujuan wisata dari mancanegara , Bali tetap denggan dirinya sendiri.

Banyak pertanyaan tentang bagaimana orang Bali menjaga tradisi hingga tetap lestari. Buat saya hal ini tak lepas dari hakekat pelaksanaan budaya Bali yang terkait erat dengan agama. Sehingga ketika kepercayaan (baca:agama) tidak tergoyahkan oleh arus luar yang begitu deras, maka budaya Bali akan tetap lestari.

Konsep yang mendasar dari kehidupan orang Bali (baca:Hindu) adalah melihat segala sesuatu dalam dua perspektif utama seperti kiri kanan, positif negatif yang disebut rwa bineda.

Orang Bali meyakini rwa bineda yang artinya selalu ada dua sisi yang berbeda di dunia ini, seperti hitam putih, laki laki perempuan , dll. Yang maknanya kebaikan akan berdampingan dengan kejahatan begitupun sebaliknya. Karenanya orang bijak menyebutkan, jangan terlalu senang dan jangan terlalu sedih. Artinya merasakan sesuatu hendaknya biasa saja.

Hal ini jika dikaitkan dengan ritual penyambutan pada letusan pertama Gunung Agung di Banjar Geriana Kauh adalah mereka melihat letusan Gunung Agung dari sisi yang lain. Bagi orang awam ini, adalah bencana tapi tidak demikian dalam kacamata mereka. Lahar adalah anugrah yang akan membuat subur tanah tanah yang dilaluinya sebab mengandung zat hara yang diperlukan tumbuhan. Belum lagi material yang ditumpahkan oleh letusan Gunung Agung akan membawa dampak peningkatan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Material tersebut  akan bisa dinikmati bahkan sampai ke generasi generasi selanjutnya.

“ Alam tidak bisa dicegah, magma itu memang saatnya keluar, tapi keluarlah dengan damai ibu”

Salam Rahayu

Luh Dias

Joged Yang Kerap Menampar Wajah Bali

WEEKLYLINE.NET – Bali memang mempunyai beragam budaya adiluhung yang memukau dunia. Mulai dari karya seni patung, lukisan, tarian. Belum lagi budaya yang erat kaitannya dengan upacara keagamaan.

Diantara yang menakjubkan tersebut, ada sebuah tari pergaulan yang disebut dengan joged. Joged adalah salah satu tarian Bali tepatnya tari pergaulan. Perlu diketahui tari Bali banyak jenisnya. Diantaranya dikelompokkan ke dalam tarian sakral yang dipentaskan hanya pada saat upacara keagamaan sebagai pelengkap upacara yadnya.

Yang kedua tari hiburan. Tari hiburan ada yang berupa tontonan saja dimana penonton pasif. Namun ada pula tarian yang penontonnya aktif dalam artian menyatu dengan penari diatas panggung. Ini disebut tari pergaulan yaitu tari Joged.

Tari Joged ada yang diiringi gamelan dari logam atau gong. Ada juga yang diiringi gamelan dari bambu yang disebut Joged Bumbung. Pada hakekatnya kedua jenis joged tersebut sama. Bedanya hanya pada musik pengiringnya saja.

Tari Joged dibawakan seorang penari perempuan. Bisa beberapa penari tapi secara bergantian. Jadi di panggung tetap dibawakan seorang penari.

Penari Joged akan menari meliuk liukkan tubuhnya beberapa lama seperti seorang gadis yang menggoda pemuda hingga pada menit tertentu tiba giliran penari tersebut mengajak seorang penonton laki laki untuk ikut menari bersamanya.

Disinilah biasanya kemeriahan mulai terasa bahkan juga penyimpangan penyimpangan (?) karena pada umumnya penonton yang diajak bukan penari sesungguhnya sehingga menarinya asal jadi. Dan disisi lain beberapa dari pengibing (sebutan untuk penonton yang diajak menari) sering berbuat ‘nakal’. Mulai dari mencoba mencium sampai kepada meniru adegan adegan orang yang sedang melakukan hubungan intim.

Namun bukan hanya pengibing saja yang ‘nakal’ tapi juga ada beberapa penari Joged yang menari tak layak dikonsumsi usia di bawah tujuh belas tahun. Yang mereka lakukan sangat membuat miris, mulai dari pakaian seronok, dan gaya gaya menari porno yang semua bermula dari gerakan gerakan pantat. Dari sinilah kemudian dikenal adanya Joged porno. Bukan hal yang rahasia lagi kalau terkadang ada beberapa diantara mereka yang bisa ‘dipakai’. Tapi jangan salah , itu adalah oknum. Hanya kebetulan mereka adalah penari Joged.  Sesungguhnya masih banyak yang menari benar benar menari dengan sopan yang sesuai dengan hakekat penari Joged pada umumnya.

Lalu siapa yang salah jika sisi gelap dari penari Joged terdeteksi. Lalu dianggap mencoreng wajah para penari Joged khususnya dan budaya Bali umumnya ? Sesungguhnya yang salah adalah kita. Kita terlalu terlena dengan berpijak pada pikiran mereka adalah penari. Tugas mereka adalah menghibur. Lalu kenapa mereka bisa terjerumus melakukan pornoaksi ? Bukankah cukup dengan menari yang sopan, yang biasa saja.

Di dunia ini selalu ada persaingan. Termasuk dunia hiburan sehingga mereka dituntut bagaimana meningkatkan kualitas layanan kepada yang membayar. Nah begitu juga dalam kasus Joged porno. Maraknya sekehe (grup) Joged baru yang bermunculan memaksa mereka untuk selalu survive di dunia hiburan jika tidak mau terdepak dan berdampak pada penghasilan.

Tak sedikit yang berkreasi positif tapi banyak juga yang negatif. Hal ini juga tak bisa dilepaskan dari latar belakang penari dan anggota sekehe joged yang notabene kurang berpendirian. Inilah yang perlu disadari pemerintah dan kita semua. Kita tidak bisa hanya menyalahkan beberapa kejadian Joged porno yang terekam kamera lalu viral di dunia maya. Pemerintah mestinya menyalahkan diri sendiri mengapa mereka sampai bertindak seperti itu. Cari letak kesalahannya dan beri solusi bukan sanksi. Mungkin dengan pembinaan  mengumpulkan para pemilik sekehe Joged dalam sebuah pertemuan lalu menyamakan persepsi tentang bagaimana mengembalikan hakekat dari tarian Joged itu sendiri. Mungkin menyepakati solusi solusi yang muncul sebagai dampak kemajuan tehnologi. Atau apa saja yang bisa mengembalikan seni Joged kepada seni yang sesungguhnya seni.

Salam Rahayu

 

Luh Dias

Orang Asli Buleleng

Tinggal di Denpasar

PGRI Flotim Diminta Selamatkan Anak Muda Kampung

WEEKLYLINE.NET-Waktu telah menunjukkan pukul 10.45 WITA. mendung terus menudung hingga mentari terhalang. Murid-murid berseliweran mencari dan menemui guru-gunya demi memberi ucapan selamat. Begitupun para guru saling mengapresiasi, memotivasi bersama, suasana indah dan semangat sangat terasa.

Setelah apel bendera kegiatan dilanjutkan dengan ramah-tamah sederhana yang bertempat di Aula SDK Lite. Ratusan guru anggota Cabang PGRI Adonara Tengah berjubel masuk ke dalam ruangan Aula SDK Lite.

Dibagian depan terlihat Valentinus Basa Camat Adonara Tengah, pengurus Kabupaten PGRI Flores Timur Silvester Witin, S.Fil, Ketua Cabang PGRI Adonara Tengah Yohanes Boli, S.Pd. SD, telah menempatai kursi yang menghadap kearah peserta.

Silvester Witin, S.Fil saat memberikan sambutan mewakili Pengurus Kabupaten PGRI Flores Timur menyampaikan bahwa perjuangan sebagai organisasi profesi harus sesui dengan visi dan misi Bupati Flores Timur yaitu selamatkan orang muda.

“Oleh karena itu peningkatan kapasitas guru menjadi penting, karena nasib anak bangsa ini menjadi tanggung jawab guru terutama dengan pendidikan karakter”, ungkap Sil Witin.

Guru SMAN 1 Larantuka yang juga Wakil Ketua AGUPENA Flores Timur ini menegaskan Gerakan literasi harus masuk dan merasuk dalam wilayah sekolah. Terutama mengenalkan anak pada dasar litetasi yaitu kemampuan baca tulis.

Witin juga menyampaikan bahwa AGUPENA Flores Timur saat ini terus bergerak memperkenalkan gerakan ini dibergai sekolah di wilayah Flores Timur, salah satu kegiatannya yakni gerakan katakan dengan buku.

“Kami menyediakan dan membagi buku-buku bacaan secara gratis, jika ibu bapak berminat silakan hubungi AGUPENA”. Jelas Sil dalam ajakan.

Diakhir sambutannya Silvester Witin yang juga penulis Buku Revolusi Mental Ala Guru ini memberikan “Buku Tapak Tuah” Antologi Puisi Tiga Pengajar Muda Flores Timur yang salah satu penulisnya merupakan putra asli Adonara Tengah sebagai Kado dari Pengurus Kabupaten PGRI Flores Timur kepada Ketua Cabang PGRI Adonara Tengah Yohanes Boli, S.Pd. SD.

 

Pramuka Memberi Andil

Ketua Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Witihama Agussalim Bebe Kewa melantik anggota pramuka Gudep SMPN Balaweling naik tingkat dari penggalang menjadi penggalang ramu di lapangan olahraga Lembaga tersebut Minggu 26 November 2017.

Sekitar 35 peserta penggalang ramu yang dilantik melalui kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu (Persami).

Kegiatan ini dilaksanakan sesuai program kerja Gudep yang telah melaksanakan latihan rutin dan penguatan materi penggalang ramu sejak 3 bulan yang lalu.

Pembina Ina Wora Duran melalui pelatih senior Ferdinant Dunand mengatakan meski sekolah unit baru, namun pengembangan kepramukaan di gudep ini terus diperhatikan, kendatipun sarana dan prasarana masih minim namun melihat semangat dan pengorbanan para peserta didik begitu tinggi, sehingga tak bisa dibiarkan gudep ini berjalan sendiri namun harus dihidupkan.

Hasil koordinasi dengam pengurus Kwarran, maka bertepatan dengan memperingati hari guru, dilaksanakan kegiatan Pelantikan dalam bentuk Persami.

Usai acara pelantikan Kepala Sekolah Yohanes Sili Rotok melalui salah satu wakil pembina mengucapkan terimakasih atas pengaruh positif pihak Kwarran dalam mensukseskan hajatan ektra wajib ini.

Sili menyatakan permohonan maaf karena tak sempat bergabung dikarenakan ada halangan yang tak bisa ditinggalkan.

Pihak Kwarran pun mengucapkan apresiasi kepada pihak sekolah yang antusias tinggi mengembangkan pramuka di gudep ini.

Dengan harapan, pramuka di gudep yang terletak di lereng bukit kecamatan Witihama bisa berandil dan diperhitungkan di masa yang akan datang.(ari tukan/azam putra lewokeda)

Lagu Cinta dan Permata Untuk Guru

WEEKLYLINE.NET – Hal ini terjadi ketika mengisi acara sambung rasa dan ramah tamah usai apel bendera memperingati HUT Ke 72 PGrI dan Hari Guru Nasional 2017 PGRI Cabang Witihama di Aula Yessing Sabtu 25 November 2017.

Camat Witihama didaulat MC Boro Bebe Michael dan Azam Putra Lewokeda mendendangkan lagu berjudul Cinta Dan Permata Panbers organ tunggal iringan BOB guru seni SMAK Lamaholot. Ketika alunan awal musik, Lebu Raya dengan talentanya menyanyi dengan suara merdu, sejenak sorak sorai anggota PGRI dari segala penjuru ruangan. Semua hadirin tergugah dan terkesima mendengar suara merdu top leader di kecamatan Witihama.

Sebagai pemimpin Wilayah Laurensius Lebu Raya selalu mendukung setiap aktivitas warganya dalam segala lini kehidupan.

Meski baru setahun jagung menjabat di wilayah ini, banyak apresiasi dari masyarakat atas sikap rendah hati dalam memimpin wilayah ini. Sekecil apapun persoalan selalu diselesaikan dengan mudah dan menuai hasil yang baik.

Pesan yang mau disampaikan Lebu Raya melalui lagu Cinta dan Permata kepada guru adalah murid adalah permata dan ajarilah mereka dengan cinta.

Tak pernah absen jika Lebu Raya di undang untuk membuka segala jenis kegiatan di wilayah binaannya meski terkadang dua agenda bersamaan namun Lebu Raya dengan mudah memanfaatkan waktu mencari perioritas acara yang dibutuhkan warganya.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Lebu Raya menghimbau kepada seluruh guru agar selalu menjadi teladan bagi anak-anak didik di unitnya masing-masing. Guru harus menjadi panutan dalam menanamkan karakter anak bangsa yang dimulai sejak dini.

Pengurus dan panitia pelaksana PGRI memberikan apresiasi kepada pihak pemerintah kecamatan yang telah berupaya semaksimal untuk mendukung setiap program kerja yang dilakukan.

Harapan ke depan, kebijakan pemerintah terkait masalah guru perlu mendapat respon positif dengan segala kebijakan yang ada.

Selipan acara diantaranya, pemberian tropi kejuaraan lomba mata pelajaran tingkat SD/MI. Juara 3 SDK Lewopulo diserahkan oleh KaPospol Witihama Donatus Inguliman, peringkat kedu SDK Watoone oleh Kepala UPTD PKO Kec.Witihama Abubakar Tokan Bunga dan juara 1 oleh Camat Witihama.

Ada yang isitimewa di acara sambung rasa karena melibatkan pensiunan guru yang menyampaikan pesan dan kesanya sebagai guru jaman dulu Opa michael Medho dan pandangan guru zaman now oleh utusan kepala sekolah pertingkatan muali dari TK hingga sekolah lanjutan atas.

Sementara itu di Kecamatan Adoanara Tengah, Flotim, dibawah mendung yang menudung. Dibalik balutan seragam kebanggaan PGRI nan anggun, semangat ratusan guru anggota cabang PGRI Adonara Tengah dengan khidmad mengikuti upacara apel bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Persatian Guru Republik Indonesia ke-72 dan Hari Guru Nasional (HGN) 2017 Sabtu, 25/11/2017. Kegiatan ini bertempat di Lapangan Bao Wayak Desa Lite, Kecamatan Adonara Tengah.

Hadir dalam kegiatan ini Valentinus Basa Camat Adonara Tengah sekaligus sebagai Inspektur Upacara, pengurus Kabupaten PGRI Flores Timur Silvester Witin, S.Fil, Ketua Cabang PGRI Adonara Tengah Yohanes Boli, S.Pd. SD, serta ratusan guru anggota Cabang PGRI Adonara Tengah, puluhan siswa utusan beberapa sekolah mulai dari tingkat TK/PAUD, SD/MI, SMP/MTs dan SMA. Setelah apel bendera kegiatan dilanjutkan dengan ramah-tamah sederhana dan dialog yang bertempat di Aula SDK Lite.

Dalam sambutannya camat Adonara Tengah Valentinus Basa, mengingatkan guru agar selalu menerapkan asas disiplin dalam kerja, serta guru harus berperilaku baik karena guru merupakan tauladan baik bagi murid dan masyarakat umum. Semua tindak-tanduk dan tingkah laku guru pasti akan ditiru oleh anak didiknya.

Ketua Cabang PGRI Adonara Tengah Yohanes Boli, menyampaikan beberapa permasalahan yang dihadapi Cabang PGRI Adonara Tengah. “ masih banyak program yang telah kita rencanakan namun belum dapat terealisasi”, hal ini disebabkan oleh beberapa hal, yakni persoalan dana,  karena masih banyak anggota yang belum menuaikan kewajibannya, serta kurangnya koordinasi antara sesama pengurus dan anggota. Ungkap  Kepala Sekolah SDI Epubele ini. Marilah kita saling mendukung antar sesama guru agar segalanya menjadi lebih baik kedepannya terutama keberlangsungan organisasi profesi PGRI yang kita cintai ini. Demikian harap Yohanes.

Silvester Witin Sekretaris II PGRI Flores Timur saat didapuk menyampaikan sambutan beliau mengawalinya dengan memberi semangat kepada semua guru dengan beberapa yel-yel. Guru SMAN 1 larantuka ini membahas tema umum dengan tiga kata kunci,  guru, etos kerja, disiplin. “ Guru dalam Etos kerja dan disiplin tidak hanya sebatas kata-kata tapi harus dapat memberi inspirasi melalui tindakan nyata hingga dapat dijadikan panutan”.

“ Guru dan perjuangan guru tidak lagi demo-demo dijalanan,  tapi gerakan perjuangan yang bermartabat. jika kita guru ingin memperjuangkan sesuatu maka kita dapat melakukannya melalui organisasi profesi guru ini.  Kita tidak dapat melakukannya secara serampangan dan sendiri-sendiri. (azam lewokeda/ari tukan)

Garis Kelam Pendidikan di Nusa Tenggara Timur

WEEKLYLINE.NET – Pendidikan mempunyai kontribusi  besar dalam menyiapkan sumber daya manusia  yang potensial dan kompetitif.

Derap langkah pembangunan selalu diupayakan sesuai dengan tuntutan zaman.

Mengenai masalah pendidikan,perhatian pemerintah kita  masih terasa sangat minim.Ada berbagai gambaran yang mencerminkan masalah pendidikan yang kian hari semakin rumit dan merosot.

Beranjak dari segala fasilitas dan infrasturktur pendidikan yang belum terjangkau ke seluruh penjuru daerah terkhusunya di daerah pelosok.

Menjadi suatu kemirisan  pendidikan yang sebenarnya motor dari segalah pembangunan  Nasional yang dimana pendidikan merupakan fondasi, pilar dan pintu bagi segala perkembangan  sumber daya manusia di segala aspek kehidupan sehari-hari guna menunjang taraf kesejahteraan hidup bermasyarakat.

Keterpurukan ini juga akibat dari pengelolaan dana yang dialokasikan dari Pemerintah Pusat.

Kementerian Pendidikan memberikan alokasi  yang sangat besar untuk upaya pembangunan dari sektor pendidikan sendiri,tetapi masih sangat sulit terlihat akan perkembangan itu di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Menarik memang kalau dikaji masalah ini,ada berbagai persoalan yang dapat menjadi perhatian khusus untuk kita semua.

Pertama,apakah ini merupakan bentuk diskriminasi dari Pemerintah Pusat yang lebih mementingkan daerah yang sebenarnya sudah terbilang  berkembang dibandingkan dengan daerah terpencil yang segala bentuk fasilitas pendidikannya masih jauh dari harapan kita.

Misalnya ,di Ibukota Jakarta di berikan mobil sekolah gratis oleh pemerintah  tetapi di daerah Nusa Tenggara Timur buku saja sangat susah untuk di peroleh apalagi mobil sekolah gratis.

Di tambah lagi gedung sekolah yang terbilang sangat tidak layak digunakan oleh pelajar di daerah Nusa Tenggara Timur  tetapi di Ibukota Jakarta kelihatan gedung sekolah sangat megah.Ini merupakan tantangan serius yang perlu di bendung dan menjadi perhatian utama  lembaga pendidikan disetiap kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

Dari berbagai konteks persolan di atas maka sangat di butuhkan  jawaban lugas dari pemerintah dalam menanggapi pemerataan pembangunan di bidang pendidikan ini.

Kedua, permasalahan yang mendasar lagi bahwa setiap Lembaga pendidikan yang ada di daerah apakah  ada kesenjangan atau  kurangnya monitoring pelayanan pendidikan ke  lembaga  pendidikan pusat.Apabila dalam sistem atau prosedur lembaga pendidikan kita dalam pola komunikasi yang belum terbangun dengan baik maka pelaksanaan teknis  sistem pendidikan juga akan seperti itu.

Kementerian Pendidikan selalu berupaya dalam meningkatkan perkembangan dunia pendidikan Indonesia.Tetapi apakah dengan pola digital (teknologi)  yang sekarang di gunakan sebagai media komunikasi dan penginputan data ini sudah berjalan efektif dan efisien sesuai ketentuannya?Apakah kita sudah siap dengan penggunaan media digital dalam sistem pendidikan di Nusa Tenggara Timur?”saya pikir, kita perlu persiapan dalam hal ini,agar kita lebih mudah dalam mengoptimalkan sistem ini.

Saya yakin,kalau dari sekian banyak tenaga pendidik dan pelajar yang ada di Nusa Tenggara Timur belum semuanya mahir dalam mengaplikasikan media digital ini.

Dengan kondisi seperti ini,maka perlu adanya pelatihan kepada seluruh  tenaga pendidik dan pelajar dalam mengoperasikan  media digital ini,yang di akomodir langsung oleh lembaga pendidikan Nusa Tenggara Timur.

Ini merupakan pertanyaan yang sebenarnya adalah refleksi kita bersama terutama lembaga pendidikan yakni pemerintah  maupun kita  masyarakat pada umumnya.

Kita sebagai masyarakat umum harus tetap mengontrol dan mengawal segala kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah. Tetapi buktinya bahwa pemerintah juga tidak terbuka terhadap public mengenai pengalokasian dana dan kebijakan yang mengatur segala aktivitas dalam dunia pendidikan.

Ketiga,apakah ini merupakan akibat dari faktor kemampuan ekonomis yang kita ketahui bersama bahwa provinsi  NTT masih sangat dekat dengan yang namanya kemiskinan?

Menjadi perhatian pemerintah dalam upaya memberikan kesempatan pendidikan bagi mereka yang dinyatakan kurang mampu,karena anggaran yang diberikan pemerintah juga masih mampu untuk memberikan semacam beasiswa ataupun sekolah gratis seperti yang terjadi di daerah lain.

Keempat,di dalam lembaga pendidikan di dalamnya terdapat organ yang sangat terikat  yang mempunyai peran penting dalam dinamika pendidikan itu  sendiri yakni,tenaga pendidik dan pelajar.

Ada kendala yang terjadi antara pelajar dan pendidik yang mungkin saja bisa mempengaruhi proses belajar mengajar,misalnya saja pola komunikasi yang di bangun antara kedua pihak ketika di sekolah,dirumah ataupun di  limgkungan .

Para pendidik adalah orang tua para pelajar jika berada di dalam lingkungan sekolah tetapi bagaimana bisa memainkan peran yang lebih intens dalam mendidik para pelajar ketika berada di luar lingkungan sekolah meskipun ketika berada di luar pelajar menjadi tanggung jawab penuh dari orang tua sendiri.

Pola mengajar para pendidik juga semestinya selalu di kembangkan sesuai dengan keadaan zaman karena pada dasarnya pendidikan juga berjalan dinamis,misalnya penggunaan  alat peraga  seperti proyektor  dll  sehingga lebih memudahkan pelajar untuk memahami maksud dan tujuan ilmu yang disampaikan.

Tetapi penerapan media teknologi dalam dunia pendidikan juga perlu dipelajari secara efektif dan efisien agar terciptanya pengertian yang terukur demi  stabilitas ilmu yang diterapkan.

Maka dari itu solusi konkrit  akan  jaminan kemajuan pendidikan di Nusa Tenggara Timur adalah bagaimana kita lebih pandai dan bijak menyikapi  tantangan di era globalisasi yang semakin modernisasi ini dari berbagai perspektif,baik dari perspektif  teknologi,sosial budaya,politik dll  dalam rangka membenahi,membubuhi  dan menjadikan Pendidikan di Nusa Tenggara Timur menjadi lebih baik untuk masa depan yang lebih baik terutama manusia yang ada di Nusa Tenggara Timur sendiri.

Pemerintah perlu turun langsung mengawasi segala bentuk aktifitas pendidikan di NTT tanpa sebuah alasan,segala pertumbuhan dari berbagai sektor adalah bagaimana kita memanusiakan manusia dengan cara memberikan pembekalan ilmu melalui pendidikan.Beragam fasilitas sarana dan prasarana pendidikan di NTT menjadii perhatian khusus pemerintah seperti  gedung sekolah,perpustakaan,pelayanan sekolah gratis bagi yang kurang mampu,tunjangan tenaga pendidik dll.

Mari sadarkan  seluruh masyarakat bahwa pendidikan menjadi miniatur utama dalam segala perubahan.

Jangan sampai Pendidikan menjadi beban bagi kita semua karena besarnya biaya pendidikan.

Semoga Pemerintah & Lembaga Pendidikan dapat memberikan terobosan baru bagi masyarakat yang membangkitkan gairah seseorang untuk terlibat dalam proses belajar mengajar yang produktif demi terciptanya sumber daya manusia yang berdaya saing.

 

Asis Wayongnaen

Ketua AMA Jakarta