Beranda » 2017 » Desember » 05

Arsip harian: 2017-12-05

150 Liter Arak Disita Polres Lembata Dari Kapal ASDP Ile Boleng

WEEKLYLINE.NET – Dalam rangka menigkatkan keamanan dan ketertiban masayarakat dan menjaga kondisi sosial tetap kondusif, Polres Lembata dalam beberapa hari terakhir melakukan operasi Cipta Kondisi.

Operasi razia Cipta Kondisi ini dilakukan menjelang Perayaan Natal dan Tahun baru juga menghadapi pesta demokrasi di beberapa wilayah NTT termasuk pilgub NTT yang akan digelar 2018 mendatang.

Dalam operasi yang digelar pihak kepolisian Resort Lembata di beberapa wilayah rawan Kamtibmas ditemukan minuma keras lokal jenis arak dalam jumlah yang banyak.

Sebut saja misalnya, seturut penuturan Kapolres Lembata, Arsdo E. Simatupang melalui Kasat reskrim Polres Lembata, Iptu Yohanes Mira, menjelaskan pihak sejak dua hari belakang teah menyita ratusan liter minuma keras jenis arak.

Kemarin, 4 Desember 2017, pihaknya  telah menyita 60 liter miras lokal jenis arak dari sebuah kapal kayu yang hendak berangkat ke Kupang.

Sementara itu, Selasa, 5 Desember 2017, aparat Kepolisian Resort Lembata, berhasil menggagalkan penyelundupan 150 liter minuman keras lokal jenis arak dari Feri ASDP KMP. Ile Boleng.

Minuman keras jenis arak ini diduga dari Adonara, diangkut menggunakan KMP. Ile Boleng yang sandar di Pelabuhan Feri Waijarang dan hendak diberangkatkan ke Pelabuhan Bolok Kupang.

Saat pihak polres Lembata melakukan pemeriksaan ditemukan sebanyak 150 liter minuman keras jenis Arak yang dalam KMP Feri dan tidak ada satupun penumpang yang memgakui sebaga barang miliknya.

“Kita sita sebagai barang bukti walau tidak ada penumpang yang mengaku sebagai pemilik,” ungkap Yohanes Mira yang ditemui usai melapor di ruangan Kapolres Lembata, 5 Desember 2017.

Sementara itu Kapolres Lembata, Arsdo Simatupang kepada weeklyline.net di ruangan kerjanya menegaskan pihak menyita barag bukti tersebut, karena dalam jumlah banyak.

“Kalau saat razia ditemukan hanya beberapa liter saja, itu tida masalah. Tetai sudah melebihi ada kemungkinan di jual atau disalah gunakan. Maka dicegah dengan menyita,” tegas Arsdo sambil mengingatkan agar  masyarakat tetap menjaga kondisi tetap kondusif menjelang perayaan natal dan tahun baru. (sandrowangak)

Kapolres Minta Masyarakat Data Benda Cagar Budaya Yang Hilang

WEEKLYLINE.NET – Beberapa benda cagar budaya yang raib dari Kampung Adat Lewohala beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Selain tokoh adat Lewohala yang menyeruhkan adanya perhatian pemerintah daerah, pihak kepolisian Resort Lembata juga sangat tanggap terkait persoalan ini.

Setelah diberitakan beberapa media sepekan lalu, Kapolres Lembata, AKBP Arsdo E. Simatupang bersama Kasat Intel Polres Lembata langsung terjun ke lokasi. Dan dari hasil dialog bersama warga dan tokoh adat Lewohala, di Desa Jontona ditemukan fakta bahwa beberapa benda cagar budaya di Kampung adat Lewohala memang hilang.

Sayangnya, menurut Arsdo, masyarakat belum mendata benda cagar budaya yang hilang tersebut.

“Saat berdialog masayarakat adat Lewohala di Desa Jontona belum memiliki data yang rinci terkait benda cagar budaya yang hilang. Walau demikian kami tetap melakukan penyelidikan dan melakukan himbauan kepada masyarakat setempat untuk melaporkan kepada kepolisian ada aktivitas oknum yang mencurigakan,” ungap Arsdo.

Dia menambahkan, pihak kepolisian memang mendapat kesulitan karena kepercayaan masyarakat Adat Lewohala masih sangat kental. Dan karena kepercayaan tersebut, benda cagar budaya itu tidak disimpan di rumah adat dan tidak boleh dipindahkan ke tempat lain.

Untuk itu, Arsdo meminta agar pemerintah desa membangun Pos Kamling di lokasi kampung adat sebaga bagian dar taggungjawab masyarakat menjaga ritus adat dan benda cagar budaya yang ada.

“Bila ada aktivitas masyarakat yang mencurigakan bisa dilaporkan ke Bhabinkamtibmas,” ungkap Arsdo kepada weeklyline.net, di ruangan kerjanya, 5 Desember 2017.

Diberitakan sebelumnya, Lewohala. Perkampungan adat di lereng Gunung Ile Ape ditetapkan pemerintah pusat menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTb). Status WBTb ini melindungi benda cagar budaya yang berada di Lewohala, Desa Jontona, Kecamatan Ile Ape Timur, Lembata.

Sayangnya beberapa benda cagar budaya yang bernilai dan dilindungi itu dikabarkan hilang. Informasi kehilangan benda cagar budaya ini merebak di kalangan masayarakat Desa Jontona dan sekitarnya. Sebab, masyarakat pemilik rumah adat di Kampung Lama Lewohala tersebar di delapan desa, se Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.

Asan Keluli, salah satu tokoh adat Lewohala kepada weeklyline.net, Senin, (27/11/2017) menjelaskan kebanyakan benda cagar budaya setelah dipakai saat ritual pesta kacang (uta weru), disimpan kembali di rumah adat masing masing. Jumlah rumah adat di Lewohala, menurut Asan Keluli sebanyak 77 buah rumah adat. Dan masing masing rumah adat memiliki benda pusaka warisam nenek moyang.

Dia merincikan, Benda Cagar Budaya berupa Gading Gajah yang berumur ratusan tahun masih tersimpan di rumah adat Suku Gesimaking Lango Harudula,  juga berada di rumah adat Suku Benimamaking Watukepeti, Benimamaking Atulangun Male Beni, Matarau Boromado. Benda budaya Gading Gajah juga dimiliki oleh Rumah Adat Balawangak Lewolawi, Halimaking Padalangun.

Asan menceritakan, pada tahun 1990 an, Gading Gajah milik Suku Gesimaking Lango Harudula, sempat hilang. Diduga dicuri. Karena saat ditemukan kembali beberapa tahun kemudian, Gading tersebut dalam bentuk potongan tiga bagian.

Dugaan kehilangaan benda cagar budaya di kampung adat lewohala ini, membuat resah warga karena benda benda tersebut merupakan warisan leluhur dan memiliki peranan penting saat ritual pesta kcang berlangsung.

Saat ini, benda cagar budaya yang hilang dari Kampung adat Lewohala adalah Piring adat berdiameter 50-80 cm oleh masyarakat setempat disebut pige. Piring ini milik Suku Benimamaking Waukepeti, Lewokedang dan Balawangak Keturunan bala, Masing masing 1 buah.

Selain piring, Anting Adat disebut Belao Kukuwila Tai milik suku Gesimaking Langoharudula, akan tetapi sudah dikembalikan. Benda yang sama, Belao Lusi Tai milik Suku Langobelen dan Lemaking Wolangun juga hilang. Belao ini terbuat dari besi Kuningan asli.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, demikian Asan, kalau benda benda warisan tersebut hilang karena dicuri maka berakibat kematian terhadap oknum tersebut.

Dan beberapa benda yang hilang dan belum ditemukan sudah dilakukan ritual baulolon, di Namang sebagai bentuk pemeriksaan diri masyarakat setempat sembari bersumpah bahwa bukan mereka yang mengambil benda benda tersebut. (sandrowangak)

Menjadi Penulis Mesti Membaca, Membaca Dan Membaca

WEEKYLINE.NET – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Flores melaksanakan kegiaatan Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM).

Kegiatan ini adalah kegiatan rutin mahasiswa yang dilaksanakan setiap tahun dan diberikan kepada mahasiswa semester satu. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan daya kreativitas mahasiswa, melatih diri mahasiswa dalam memanage diri.

Kegiatan dilaksanakan selama tiga  hari berturut-turut, sejak hari Kamis tanggal 23-25 November 2017, kegiatan bertempat di anjungan PIPS. Dan pada hari kedua, hari Jumad tanggal 24-November 2017, pada pukul 08.00 materi pertama dibawakan oleh DRS. Yohanes Sehandi, M.si, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Flores, dengan materi “Teknik Menulis Opini”.

Dalam materinya Sehandi yang juga sebagai penulis tetap di beberapa media cetak ini menjelaskan secara terperinci tentang langkah-langkah pembuatan artikel opini yang baik dan benar, mulai dari tahap menggali ide, bahwa tahapan menggali ide dimulai dengan membaca banyak hal, membaca dan membaca.

“Bahwa minat membaca harus ditanamkan pada masing-masing diri mahasiswa, agar mahasiswa mempunyai wawasan yang luas sehingga menjadi dasar untuk bisa menulis, menuangkan idenya,” tegas Sehandi.

Penulis yang baik harus menjadi pembaca yang baik pula, dengan kata lain pekerjaan penulis adalah menjadi pembaca yang baik.

“Kecerdasan mahasiswa bisa diukur dari berapa banyak bahan/buku bacaan yang dimiliki mahasiawa”, tegas beliau.

Hingga pada tahap mengedit karangan, dan mengirim pada media masa. Beliau juga memberikan peringatan kepada peserta bahwa dalam menulis harus diperhatikan penggunaan ejaan yang baik dan benar dalam menulis.

Ejaan harus benar-benar diperhatikan, apalagi sebagai penulis pemula, karena banyak penulis pemula yang tulisannya tidak dimuat di media masa ataupun media cetak karena gagal menggunakan ejaan dengan cermat. Diahkir materinya beliau mengatakan bahwa menulis adalah pekerjaan keabadian.

Peserta LKMM terlihat begitu aktif mendengarkan dan mengajukan pertanyaan kepada pemateri.(milalolong)