Beranda » Humaniora » KPAD Kawal Kasus Fabianus, Dinas PKO Lembata Warning Kepsek
Ata Gabriel, Kabid SMP, Dinas PKO Lembata saat menjenguk Fabianus di ruang rawat RSUD Lewoleba. [foto:sandro]

KPAD Kawal Kasus Fabianus, Dinas PKO Lembata Warning Kepsek

BERITA TERKAIT :

[Dipermalukan Gurunya, Siswa SMP Satap Waiwaru Teguk Racun]

[ Sekalipun Ditegur Kepsek, Guru Ina Masa Bodoh ]

WEEKLYLINE.NETKasus penghinaan yang dilakukan oleh Guru Bahasa Indonesia, bernama lengkap Barbara Barek mendapat tanggapan serius dari berbagai pihak.

Sebab, apa yang dilakukan oleh Guru Ina, nama panggilan Barbara Barek dinilai mencoreng dunia pendidikan dan tidak mencerminkan profesionalisme guru sebagai pendidik generasi bangsa.

Fabianus Keko 16 tahun, siswa kelas III SMPN 2 Satap Waiwaru, dikunjungi ole relawan KPAD lembata di rungan rawat RSUD Lewoleba, 1 September 2017 sehari sebelum dirujuk ke RSU W.Z Johanez Kupang.

Dihadapan kerabat, keluarga dan sahabat Fabianus relawan KPAD Lembata yang meminta namanya tidak ditulis menilai apa yang dilakukan oleh Guru Barbara Barek dikategorikan sebagai tindakan bullyng atau kekerasan psikis terhadap siswa. Untuk itu pihaknya akan mendampingi Fabianus dalam proses penyembuhan dan proses hukum lainnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PKO Kabupaten Lembata, Sakarias Paun, melalui Kabid SMP, Ata Gabriel S.Pd, saat mengunjungi Fabianus pada hari yang sama meminta kepala Satap Waiwaru untuk segera melakukan laporan tertulis kepada pihak dinas selambat lambatnya, Senin, 4 September 2017.

Kepala sekolah, Bernadus Atawadan pun menyanggupi permintaan phak dinas untuk menulis laporan kronologis kejadian. Selain itu, Ata Gabriel juga meminta pihak sekolah untuk memperhatikan dengan serius kinerja guru di sekolah karena agar kejadian serupa tidak diulang lagi.

Ata selain itu Ata Gabriel juga meminta Komite untuk mempertimbangkan guru tersebut. Sebab, apa yang ditunjukan oleh Guru Ina sudah mencoreng dunia pendidikan.

“Saya minta pa kepsek dan komite untuk melihat persoalan ini sebagai persoalan serius. Ini memalukan. Dan saya minta kepala sekolah membuat laporan tertulis kepada Dinas paling lambat hari senin, 4 September 2017,” ungkap Ata langsung kepada Kepala SMPN 2 Satap Waiwaru, Bernadus Atawadan yang juga datang membesuk fabianus di RSUD Lewoleba.

Diberitakan, 31 Agustus 2017, guru bahasa Indonesia tersebut kembali melakukan penghinaan. Sasarannya tetap pada Ari. Dia mengeluarkan kalima hinaan yang sungguh membuat siswa kelas III SMP Satap Waiwaru tersebut merasa malu dihadapan siswa/i lainnya.

Dia mencap dan mengatakan bahwa Fabianus Keko memiliki orang tua tidak jelas. Bukan hanya itu, Guru tersebut mendiskreditkan kehidupan Fabianus Keko dengan menilai rumah milik Fabianus alias Ari seperti kandang babi.

“Dia bilang saya punya rumah seperti kandang babi. Lalu, saya keturunan atau anak dari orang tua tidak jelas. Makanan yang saya makan tidak sama dengan yang dia makan. Makanan saya seperti makanan babi. Dia hina saya di depan murid lainnya dalam kelas. Selama pelajaran bahasa Indonesia berlangsung,” ungkap Ari.

Bahkan saat pelajaran bahasa Indonesia pada hari naas tersebut, guru itu tidak menjelaskan tentang materi pelajaran tetapi sepanjang pelajaran materinya adalah ‘penghinaan terhadap Fabianus Keko’.

Akibatnya, saat jam pelajaran usai, Ari langsung pulang ke rumah dan mengambil obat cairan racun rumput dan meneguk sebanyak satu sloki. Merasa mula, kerongkongan kering dan langsung dilarikan ke UGD RSUD Lewoleba.

Beberapa siswi yang datang menjenguk Ari di RSUD Lewoleba, 1 September 2017, kepada wartawan mengaku, saat guru tersebut menghina Ari mereka semua menangis dalam kelas.

“Waktu ibu hina ari kami perempuan semua malu. Dan kami menangis dalam kelas. Tapi ibu tetap hina,” ungkap salah seorang siswi yang meminta namanya tidak ditulis.

Bahkan perlakukan kasar baik secara fisik maupun psikis sudah berulang kali dilakukan oleh ibu ini. Sebut saja misalnya, pernah beberapa anak di SMP tersebut dipukul menggunakan ekor pari pada betis hingga berdarah.

Tabiat kasar guru Bahasa Indonesia yang bernama Barbara Barek ini diakui oleh Kepala SMP Negeri 2 Satap Waiwaru, Bernadus Atawadan. Bahkan Bernadus sudah pernah menegur perlakukan kasar Barbara Barek itu terhadap siswa/i tetapi tidak diindahkan oleh yang bersangkutan. Buktinya Ari salah satu siswanya dirawat rumah sakit karena dihina Barbara Barek. Padahal Ibu Ina, Demikian Guru Bahasa Indonesia iru kerap disapa, masih berstatus guru honor di sekolah tersebut

[sandrowangak]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *