Beranda » Humaniora » ‘Arisan Kematian’ Dari Lewoengat
Selain pengumpulan uang juga tanggungan kwatek atau nowing pada saat kematian. (IST)

‘Arisan Kematian’ Dari Lewoengat

WEEKLYLINE.NET – Dizaman modern ini, kepedulian orang terhadap sesama yang berkekurang ekonomi jarang ditemukan. Hal tersebut disebabkan oleh sikap egois yang telah menggerogoti mental manusia dewasa ini.

Meskipun demikian tidak menutup memungkinan jika diantara sekian orang yang egois masih ada segelintir orang yang memiliki jiwa keberpihakan dengan orang-orang kecil dalam hal ini. Dan segelintir orang tersebut ditemukan didusun lewoengat- desa Sandosi- Kec. Witihama.

Mereka tergabung dalam forum Hari Persaudaraan Lewoengat yang diketuai oleh Thomas Tupen Kwaelaga (Alm), Jackobus Masan Sanga (Wakil), Gerinus Kai Rawa (sekertaris), dan Stanislaus Kowa Bala (Bendahara). Mereka merancang sebuah konsep untuk membantu warga Lewoengat pada saat menghadapi peristiwa kematian yaitu dengan mengumpulkan uang sebesar Rp. 15.000/KK setiap kali ada peristiwa duka di lewoengat.

Konsep ini mendapat respon yang cukup baik dari warga dalam rapat pada tanggal 19 November 2008. Forum ini dilindungi oleh mehen lewo (Tuan Tanah) dan Kle’en (enam suku terpilih dilewoengat) dan anggota forum adalah warga Lewoengat yang terdiri dari 184 KK dari 14 suku. Pada saat ada kematian, ketua-ketua suku mengumpulkan uang dari anggota sukunya, seterusnya diserahkanke bendahara forum.

Jumlah keseluruhan uang sebesar Rp. 2.760.000, dari uang tersebut bendahara mengambil Rp. 250.000 untuk dijadikan kas forum Dan sisanya sebesar Rp. 2.510.000 diserahkan kepada keluarga berduka untuk membayar sewa terpal/tenda jadi, pembuatan kubur dan sewa terpal. Kegiatan pengumpulan ini berlangsung sudah sekitar 10 tahun.

“Jumlah uang tersebut bagi orang yang berkecukupan memang tidak ada artinya tetapi jumlh tersebut sangat membantu bagi keluarga yang kurang mampu, ungkap Stanis Kowa (59), saat berbincang dengan media ini 31 Januari 2018 di Desa Sandosi, Flores Timur.

Dan setiap tahun pada tanggal 19 November forum membuka dialog untuk warga Lewoengat untk mengevaluasi kegiatan pengumpulan uang tersebut juga penyederhana adat yaitu tanggungan kwatek atau nowing pada saat kematian yaitu dari jumlah sekitar 200 menjadi 51.

Dan kesepakatan ini sudah berjalan sekitar 8 tahun sejak 19 November 2010. Jika kita berani untuk sanggup mendobrak situasi, segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin tergantung bagaimana strategi kita dalam menyampaikan kosep-konsep abstrak kepada masyatakat. Semoga kehadiran kita ditengah masyarkat membawa pembaharuan yang mendatangkan kebaikan bagi semua orang.

Bengan Tupen

Lihat Juga

Perempuan Tanpa Tinta

Ia kembali menyapa bumi dengan rinai jemari dedaun melambai lambai Namun mentari mengintip malu-malu Memagut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *