Beranda » Humaniora » Teatrikal Horinara Menyihir OMK Witahama
Teatrika Anak Muda Horinara saat melakukan kunjungan ke Paroki Witihama. Foto: emanola

Teatrikal Horinara Menyihir OMK Witahama

WEEKLYLINE.NET – “Kelahiran melahirkan kelahiran” Tetatrikal yang dipersembahkan oleh orang muda katolik stasi Horinara, Paroki St.Martinus Hinga ini mengangkat kisah kelahiran Yesus Kristus di Betlehem dengan versi parade kehidupan manusia zaman ini.

Ketakpedulian terhadap nasib kaum kecil, egoisme, mementingkan Kepentingan kelompok elite dan melupakan nasib orang-orang yang saat ini sangat rindu disapa. Banyak janji diumbar seindah mimpi namun pupus diujung pagi. Teatrikal ini mengajak setiap insan berjiwa muda untuk kritis terhadap fenomena politik yang kian panas. Teatrikal ini mengisahkan tentang toleransi kini menjadi selogan.

Kelahiran melahirkan kelahiran mengajak kaum muda untuk tidak terus menerus “Tidur” dibuai pesta.

 Dibuai serunya pesona digital yang meninabobokannya dari waktu ke waktu sehingga mentalnya berubah menjadi konsumtif. Lahir menjadi manusia yang mampu melahirkan pembaharuan, untuk negara, gereja dan lewotanah.

Peduli terhadap orang lain apapun agama, suku dan rasnya. Jangan mengumbar janji tanpa aksi agar tak dicap politisi. Jangan memihak hanya kepada mereka yang mempunyai segala sesuatu, agar disukai banyak orang, atau sadisnya hanya mau cari aman. Pemeran teater ini mampu menghipnotis penonton.

“Teaternya luar biasa” ungkap Lia Bahy usai menyaksikan teater ini. Meskipun latihannya hanya empat hari atas bimbingan bapak David Kolong Lawe.

“Para pemeran cukup siap memenataskan tetar ini karena mereka sesungguhnya adalah anggota sanggar Nara Baran, kata Riky Lawang Diri pendamping OMK dari Stasi horinara.

Persembahan teatrikal ini meninggalkan pesan dan kesan yang amat dalam bagi semua penonton. Teater ini menarik karena dikolaborasikan secara sempurna dengan lagu dan tarian daerah (Rema tukan doan, lagu dan tarian lebe), lagu latin (Gloria In Excelis Deo), Lagu Gloria (dengarlah dipadang sunyi) dengan irama musik tradisional (suling, gong, dan gendang).

Sekitar 200an anggota OMK yang memadati aula Yessin Witihama, 3 Februari 2018, menonton tidak hanya menonton dengan mata tetapi dengan hati.

bengan tupen

Lihat Juga

Negeri Ini Gelap

WEEKLYLINE.NET – manusia dalam gelap dengan pakaian serba hitam gelap. Gambar kegelapan akan hidup kaum …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *