Beranda » Jurnal » Guru Beradab, Guru Pahlawan ?
Foto : Yohanes Laba Koban
Foto : Yohanes Laba Koban

Guru Beradab, Guru Pahlawan ?

WEEKLYLINE.NET_Pendidikan kita masih compang-camping. Mantan presiden kita Abduraman Wahid pernah berkata, Pendidikan kita sekarang ini banyak menghasilkan professor, doctor, insinyur, MA, tetapi banyak kepandaian hebat dan professional tidak berdasarkan moralitas yang baik, sehingga pendidikan kita compang-camping.

Pernyataan Pak Gus Dur ini rasanya sangat pedis namun dapat menggugah budi dan nurani kita untuk menyadari betapa urgennya akhlak (moral yang baik) dalam pendidikan.

Kepandaian dan profesinalisme keguruan mesti didasarkan atas moralitas yang baik. Jika tidak maka tidaklah mengherankan bahwa kepandaian dan profesionalitas itu justru membawa dampak negatif, yang selanjutnya akan menghancurkan tatanan publik yang harmonis.

Sebaliknya dengan moralitas yang baik, kepandaiaan dan profesionalitas akan menjadi amat berguna dalam membangun keadaban publik yang kokoh dan mantap.

Kegelisahan Gus Dur adalah mungkin kegelisahan tentang peran dan fungsi para pendidik, baik informal, nonformal maupun formal. Karena pada dasarnya bahwa di pundak para pendidik tanggungjawab pembentukan anak bangsa diletakkan.

Kegelisahan Gus Dur ini dibawah sampai mati. Sebab itu menjadi seruan untuk prihatin terhadap upaya pembentukan moral anak bangsa sebagai upaya yang sangat menentukan. Kegelisahan Gus Dur tentang para tamatan lembaga pendidikan kita, rupanya terbit dari rasa kecewanya terhadap para pendidik yang kendati telah berhasil melahirkan tamatan dengan titel dan gelar akademik yang tinggi ternyata kurang mampu membentuk pribadi yang berperan untuk menciptakan keadaban publik atau menjadi agen perubahan.

Salah satu sebab kegagalan para guru adalah pudarnya kualitas moral para guru itu sendiri. Berkaitan dengan pudarnya kulitas moral para guru, akhir-akhir ini kita mendengar dan bahkan menyaksikan begitu banyak persoalan yang dilakonkan oleh para pendidik terhadap peserta didik maupun pendidik terhadap masyarakat luas, dan bahkan terhadap lembaga pendidikan.

Sebut saja; kekerasan seksual, dan kekerasan fisik terhadap peserta didik, tindakan korupsi, perkelahian, perjudian dan sederetan kasus lainnya. Hal ini sungguh bertolak belakang dengan tujuan pendidikan yang mulia yakni memanusiakan manusia. Dalam artian pendidikan menjadikan manusia semakin beradab bukan semakin biadab.

Jika ini terus berlangsung bagaimanakah nasib generasi penerus bangsa? pendidikan ini mau dibawa ke mana? Perbuatan ini sungguh mencoreng wajah pendidikan di Indonesia dan menebar bau tak sedap dalam wadah PGRI.

Guru Beradab Sebagai Pahlawan
Guru yang beradab adalah guru yang tampil sebagai pahlawan. Kepahlawanan guru itu dapat kita telusuri dari beberapa ciri berikut.

Pertama, sang guru berusaha untuk menjaga keberadapan cara berpikirnya, cara mengelolah perasaannya, dan cara menata suasana batinnya. Ketiga kompetensi itu perlu dikembangkan dan dipupuk pertumbuhannya.

Kompetensi pertama yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah memiliki cara berpikir yang beradab apabila dia kreatif dan tidak membiarkan daya intelektualnya itu mati.

Dengan demikian maka dapat mendorong peserta didik untuk menemukan kebijaksanaan sebagai mahkota pengetahuan. Mereka akan dapat berkembang menjadi manusia yang sujana,yakni pintar sekaligus arif dan bijak,bukan manusia kujana,pintar tetapi durjana.

Kompetensi kedua yakni kesanggupannya untuk mengenal emosinya dan emosi orang lain, mengelola emosinya secara baik, memilki kepekaan sosial, keterampilan dan tanggung jawab sosial. Banyak contoh yang menunjukkan bahwa orang-orang yang sukses dalam masyarakat bukanlah orang yang memilki IQ tertinggi, melainkan yang tinggi adalah Emotional Intelligence- nya.

Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidik kita juga menekankan hal yang sama ketika mencetuskan trilogi pendidikan: cipta(pikir) rasa dan karsa ( kemauan untuk berlaku).

Olah rasa amat penting karena akan menghasilkan kepekaan rasa yang memungkinkan orang tak semena-mena terhadap orang lain. Kepekaan rasa akan menghasilkan manusia berwatak: berintegritas, utuh pikir, kata dan laku, jujur, berani, adil, rendah hati, disiplin, setia, menahan diri, taat hukum, berkepedulian terhadap manusia lain, terbuka, mau menerima perbedaan,dan menghormati keberagaman.

Kompetensi ketiga seorang guru yang beradab adalah kemampuan untuk mengungkap segi yang abadi,asasi,spiritual dalam struktur hidup manusia. Seorang guru yang bertanggung jawab terhadap pembentukan watak pencipta keadaban publik dituntut untuk sanggup menemukan dan memecahkan persoalan – persoalan nilai ,menempatkan tindakan dan hidup manusia dalam konteks yang lebih luas,lebih kaya dan lebih memberikan makna

Kedua, guru sebagai pahlawan adalah Kesediaannya untuk membaharui dan mentransformasi perannya. Hal itu mungkin apabila guru mencintai kebenaran,dan membuka diri terus menerus terhadap pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya dan sadar bahwa hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi.

Guru perlu membentuk diri menjadi insan yang eksploratif, berinisiatif, kreatif, inovatif, bertanya, bertualang, manusia pembaru, berjiwa terbuka dan merdeka, kritis, kaya imajinasi dan fantasi.

Ciri kepahlawanan guru yang Ketiga adalah Kerendahan hatinya untuk belajar dari siapa saja termasuk dari murid-muridnya. Kerendahan hati itu terwujud dalam kesediaan untuk meninggalkan pemahaman lama dan menerima pemahaman baru tentang relasi guru murid. Menurut Freire,dalam pengertian lama, guru adalah pelaku utama proses pembelajaran sedangkan murid tak lain adalah objek belaka.

Dia tidak tahu apa-apa, diajar, dipikirkan, harus lipat tangan dan patuh mendengarkan ,diatur, tidak punya kebebasan dan hanya harus menyetujui. Dengan demikian guru ibarat remote control.

Freire menandaskan bahwa pemahaman lama itu perlu ditinggalkan dan diganti dengan paham pendidikan yang baru,yakni paham pendidikan dialogal dan hadap masalah. Di sana tidak ada lagi guru-nya murid dan murid-nya guru.

Yang ada ialah suasana baru: guru-yang murid dan murid-yang guru. Guru tidak lagi menjadi orang yang mengajar murid, tetapi mengajar dirinya melalui dialog dengan para murid, yang pada gilirannya di samping diajar juga mengajar. Mereka semua bertanggungjawab terhadap suatu proses dalam mana mereka tumbuh dan berkembang.

Dan keempat kepahlawanan guru adalah cara hidupnya yang sederhana. Alkisah Socrates adalah seorang mantan tentara yang berkecukupan. Orangtuanya juga dari kalangan bangsawan yang memiliki keayaan limpah. Akan tetapi Socrates dalam kesehariannya hanya berpakain sebuah jubah warna abu-abu yang agak tebal yang dikenakannya sepanjang hari dan musim. Ke manapun berjalan selalu kaki telanjang. Kemewahan sama sekali tidak dikenalnya.

Hari ini guru menjadi sangat istimewa. Profesi yang sungguh diistimewakan oleh negara. Sebab demi kualitas pendidikan dan anak didik, guru harus lebih fokus dalam mengerjakan tugasnya sebagai guru. Untuk itulah tunjangan profesi guru dan sertifikasi diadakan oleh pemerintah.

Dasar konstitusinya adalah UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 pasal 40 ayat 2 yang menyatakan bahwa pendidikan dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna,menyenangkan, kreatif,dinamis dan dialogis, mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan dan memberikan teladan.

‎Ada beberapa kebijakan pemerintah yang terkadang salah persepsi. Ia mencontohkan tentang kebijakan sertifikasi. Sebagian orang menganggap sertifikasi itu untuk meningkatkan guru agar menjadi menjadi lebih kaya, itu salah. Ingat bahwa guru adalah digugu dan ditiru.

Sertifikasi guru dilaksanakan dengan tujuan dan manfaat yang berorientasi pada perkembangan pendidikan nasional. Pada hakikatnya sertifikasi guru bertujuan untuk menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, meningkatkan proses dan mutu hasil pendidikan, meningkatkan martabat guru, dan meningkatkan profesionalitas guru.

Adapun manfaat sertifikasi guru adalah melindungi profesi guru dari praktik-praktik yang tidak kompeten yang dapat merusak citra profesi guru, melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan tidak profesional, serta meningkatkan kesejahteraan guru. Di sinilah arti penting sertifikasi guru. Pekerjaan guru tak lagi dipandnag sebelah mata.

Sertifikasi guru penting dilakukan mengingat guru merupakan suatu profesi yang sama halnya dengan profesi yang lain. Sebagai suatu profesi, proses pembuktian profesionalisme perlu dilakukan.

Pengakuan guru sebagai suatu profesi dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UUGD) yang disahkan tanggal 30 Desember 2005.

Pasal yang menyatakan hal tersebut adalah pasal 8. Dalam pasal tersebut dijelaskan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal lainnya adalah Pasal 11 ayat (1). Dalam pasal tersebut disebutkan bahwa sertifikat pendidik sebagaimana dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan.

Pelaksanaan sertifikasi guru terus menuai kritik. Bahkan memunculkan masalah baru. Ada pihak yang dengan sengaja memanfaatkan program ini sebagai peluang untuk memperkaya diri.

Bahkan banyak guru juga tidak lagi menjadi bagian dari pekerti pendidikan. Guru kadang menggunakan sertifikasi untuk memperkaya diri dan lupa tugas. Benarkah ?? Ingat bahwa guru adalah digugu dan ditiru

Yohanes Laba Koban, S.Pd
Guru di SD Lamawolo
|Tinggal di Lembata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *