Beranda » Humaniora » Dahulu- Think Before You Speak, Sekarang- Google Before You Speak
Ilustrasi

Dahulu- Think Before You Speak, Sekarang- Google Before You Speak

Catatan Dr. Marsel Robot, M.Si

Dalam Dialog Budaya dan Silaturahmi Raja Raja se Flores Daratan dan Lembata 2017 di Lewoleba, dengan judul Menghela Narasi Peradaban Yang Hilang

 

WEEKLYLINE.NET – Ketika suara burung di pagi hari atau perarakan awan senja di leher bukit sebagai penanda waktu diganti dengan jam dinding dan arloji, maka dari sinilah kita mulai berhala pada benda dan masuk pada tenggorokan materilisme.

Di sana peradaban individualistik dan persaingan terus merimbun. Di sana pula, rumah kita tak lagi berfungsi sebagai institusi yang membiakkan nilai-nilai, tetapi sekedar tempat istirahat malam, meski terasa tengik, sumpek, tak ada mawar, tak ada masmur yang dinyanyikan ibu menjelang tidur.

Mari, kita menghela kisah-kisah (narasi) peradaban yang hilang dengan mengajukan sejumlah pertanyaan reflektif. Masih berartikah hidup kita bagi diri dan terutama bagi orang lain di tengah rimba raya teknologi seserem ini? Kalau masih punya arti, seberapa besar atau pada level mana kita berada? Atau kita sedang dikepung oleh kesedihan yang tak tertahankan selama melakukan karnaval dari old society menuju modern society?

Bayangkan, setelah kotak ajaib (televisi) hadir di ruang tengah pada 28 Agustus 1962, maka meja perjamuan kemanusiaan di ruang tengah dilenyapkan. Tak lama berselang, datanglah setan baru yang sangat sengit menggigit kemanusiaan kita, internet (4 Juni 1988). Makhluk ini membiakkan spesias lain seperti facebook, instragram, twitter dan media sosial yang terus mencampakkan kita di tepi jurang, sendirian, dan jengang.

Kita begitu rela menyerahkan diri kepada android (handphone dengan vitur internet paling canggih), sehingga kita sangat tergantung padanya. Jika sapu tangan atau  celana dalam jatuh dari jemuran, diberitakan terlebih dahulu melalui media sosial sebelum ia bertanya kepada warga rumah. Memarahi suami atau istri atau menagih utang melalui media sosial. Lebih dari itu, facebook, twitter, instragram telah menjadi gereja atau masjid, tempat melayat, tempat pembaringan jenazah, rumah bersalin dan tempat penipuan paling vulgar.

Sebagian besar waktu bangun kita bersemuka dengan android daripada sesama manusia. Kita begitu latah, apatis dan menjadi autis (asyik sendiri) tanpa berkomunikasi dengan orang sekitar. Bahkan kita rela mati bersama benda ini. Kisah seorang ibu dua anak bernama Tung asal Tiongkok menegaskan betapa naifnya kita bersahabat dengan handphone android. Tung mati mendadak di ranjang dengan keadaan sangat aneh. Kedua tangannya sedang memegang hp dan matanya terbuka menatap hp. Ibu mertuanya mengira, Tung sedang bermain hp, ternyata Tung sudah kaku dan dingin. Tung telah meninggal. Dicari tahu penyebab kematiannya, Tung meninggal karena kelelahan. Siang bekerja sebagaimana ibu-ibu lainnya, tetapi di malam hari, ia menghabiskan waktu istirahatnya dengan bermain hp.

Tenknologi selalu menampilkan dua wajah paradoksal. Satu wajah mempelihatkan kehadirannya sebagai juru selamat umat manusia dari berbagai keterbatasannya. Hadirnya ban, mempercepat langkah kaki manusia dari satu tempat ke tempatnya yang lain. Hadirnya televisi membantu meluaskan mata dan pengetahuan manusia tentang dunia, datangnya internet manusia dilselamatkan dari keterkungkungan informasi, pengetahuan dan pergaulan dunia.

kan tetapi, pada sisi lain, teknologi menjadi monster yang dengan rakus melahapi kepesonaan kita sebagai manusia. Kehangatan kita sebagai manusia kolegialitas disedot hingga menjadi sangat narsistik di depan layar android. Bayangkan dalam satu rumah yang mempunyai adroid, begitu sibuk dengan hp,paling ia ke ruang tengah toh ia berhadapan dengan tv, tak ada kesempatan kita bersama merayakan kemanusiaan di meja makan. Hal tabu,pornografi dan porno aksi begitu mudah dikenal dan dilakukan oleh anak seusia sekolah dasar.

 

Kehilangan Kampung Halaman

Apa yang hilang dari kita? Kita kehilangan kepesonaan sebagai manusia yang hidup dalam kehangatan selimut kolektivitas. Secara sosial, kita ditakdirkan untuk hidup sebagai masyarakat komunal. Seseorang hanya merasa dirinya hadir dan dihargai sebagai manusia apabila ia tergantung pada sesamanya.

Nilai, norma dan etika dikonstruksi bersama untuk memfasilitasi hidup bersama. Peradaban kita adalah peradaban komunal dimana individu sangat tergantung pada koletivitas.Tempat pembimbitan dan pembobotan peradaban manusia adalah kampung (Lewo Tana, terminolgi orang Flores Timur atau Kuni Agu Kalo, terminologi orang Manggarai).

Kampung (Lewo Tana atau Kuni Agu Kalo) dalam pengertian masyarakat komunal bukan deretan rumah, melainkan gugusan makna membentuk sebuah institusi kemanusiaan. Kampung merupakan tempat mendikte nilai, norma, aturan dan perilaku. Dalam konteks ini, kampung merupakan rumah besar bagi warganya, sekaligus institusi peradaban bagi warganya. Sebab, kampung hanya merupakan perluasan subjektif dari rumah tangga dimana warga diikat oleh hubungan saudara sedarah.

Spirit utama setiap keluarga dalam masyarakat komunal ialah menarik semua orang untuk dimasukkan dalam lingkungan keluarga. Individu dalam kampung komunal merasa tentram secara psikologis (merasa ada dan berarti) jika mampu memahami hubungan kekeluargaan. Sebaliknya, individu merasa sendirian jika terpisah atau dikeluarkan dari keluarga atau komunitas.

Setiap orang wajib memberikan penghormatan yang tepat kepada orang sesuai dengan hierarki geneologis dan sosiologis. Sepanjang tali hubungan kekeluargaan sepanjang itu pula pengontrol moral dalam lingkungan pergaulan sosial. Dalam konteks itulah dibentuk tata laku kehidupan data mengonstruksi peradaban tiga dimensi yakni hubungan manusia dengan wujud tertinggi, hubungan manusia masyarakat, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Sejak kapan kampung yang merupakan rumah besar perjamuan kemanusiaan ini hilang? Ketika buldozer menggusur jalan setapak menjadi jalan raya, maka kampung sebagai institusi mulai dilenyapkan. Jalan raya sebuah revolusi peradaban. Di atas jalan raya tidak hanya lalu lalang manusia yang mengakses barang dan jasa dan mendekatkan jarak dari satu tempat ke tempat yang lain, tetapi jalan raya membawa perubahan kesadaran dan perubahan peradaban yang revolutif (segera dan meluas).

Orang datang dan pergi dari dan ke titik kepentingan. Jarang kita lewati jalan setapak sebagai proses sosial meski sekedar meminta air minun di tetangga, singgah di kampung lain sebagai bentuk perjamuan sosial (ritual kebersamaan). Jalan setapak adalah prosesi sosial, sedangkan jalan raya adalah prosesi kepentingan. Orang yang melewati jalan setapak datang dan pergi menuju manusia, sedangkan orang yang melewati jalan raya datang dan pergi menuju benda. Tegur sapa sepanjang jalan setapak adalah orkestra kemanusiaan yang alami, sedangkan tegur sapa sepanjang jalan raya adalah orkestra manipulatif. Jalan raya terus menyedot nilai kolektivitas manusia sehingga sekali kelak ia menjadi manusia pemburu kepentingan.

Jalan raya adalah jalan peradaban. Darinya kita dapat mengakses modernisasi (kita membeli televisi, parábola, surat kabar dan lain-lain). Benda-benda ini mendikte kperadaban baru dan diminta untuk menata peradaban dengan cara tertentu. Sebab, benda-benda ini secara masif memasuki pengetahuan dan mengepung kesadaran sehingga perlahan kita meninggalkan diri dan meninggalkan kampung halaman.

Dahulu, kampung dibentuk secara sosial sebagai perluasan subjektif dari keluarga. Karena itu, kampung selalu berbentuk bundar atau segi empat dengan pintu rumah saling berhadapan. Bentuk demikian bermakna simbolik. Pintu rumah saling berhadapan menyimbolkan masyarakat yang saling menyapa, saling memberi dan menerima.

Rumah di kampung modern berhadapan dengan  jalan raya, berhadapan dengan kepentingan, dan etika yang dibangun adalah etika kepentingan pragmatisme. Lebih dari itu, kampung dibuka dengan sebuah ritual yang sangat sakral-magik sebagai penanda bahwa kampung dipandang sebagai institusi mistis, dunia di sini, subordinat dari dunia trensenden dan misterium.

Dalam konteks itu, kampung adalah sebuah panggung untuk pementasan set-set perilaku kebajikan untuk sesama dan terutama untuk wujud tertinggi. Tata peradaban yang berusaha memelihara hubungan harmonis dengan sesama, dengan wujud tertinggi. Lewo Tana (Flores Timur) Kuni agu Kalo Manggarai) adalah representasi pandangan betapa kampung mempunyai kekuatan mistis yang mempengaruhi penghuninya.

Kehilangan Roh dan Roti Peradaban

Seberapa sering anak-anak kita mendengar ceritera dongeng,legenda, mitos yang mengajarkan bagaimana kita hidup melalui tokoh-tokoh ceritera tersebut. Masih dengarkah kita mantra dan syair atau nyanyian rakyat yang dilantunkan untuk memuji semesta dan menguatkan emosional persaudaraan. Inilah fitur peradaban paling halus yang mengajarkan kita bagaimana hidup bajik dalam kebersamaan.

Semua ini sudah perlahan hilang bersama senja peradaban masyarakat komunal. Banyak dongeng dan ceritera rakyat di Sikka yang tokoh utamanya monyet. Binatang itu selalu tampil dalam sifat sangat buruk, digambarkan dalam sifat licik, rakus, dan suka menipu. Sedangkan tokoh lainnya adalah kodok yang digambarkan sebagai bodoh, tak berdaya dan pasrah. Kedua tokoh ini hendak mengajarkan agar  kita jangan berlaku sebagai monyet (doyan menipu, licik dan rakus). Jangan pula seperti kodok, yang selalu menyerah dan mudah pasrah.

Di Flores Timur kita mengenal legenda Bato Badaon, di Belu kita mengenal ceritera rakyaat Suri Ikun, legenda Gunung Lakaan, Legenda sungai Benanain. Di Rote kita menganal ceitera rakyat Nadalai, puisi bini, legenda Pohon Tuak, Ceritera asal-usul musik Sasando, di Sumba kita mengenal mantra merapu, ceritera rakyat Gainapora, tuturan penarikan batu kubur, dan drama Padeta Mawine (penculikan perempuan). Di Bajwa kita mengenal drama atau atraksi etu (tinju tradisonal), tuturan Ka Sa’o. Di Lembata kita kenal dengan tuturan penangkapan ikan paus. Di Manggarai kita mengenal ceitera jenaka tentang Pondik, Ndiwal agu Obak, Wela Runus agu Timung Te’e, Loke Nggerang (gendang yang terbuat dari kulit gadis cantik). Di Sabu kita kenal tuturan Jingitiu. Kekayaan kultural dan sastra lisan sebagai roh kehidupan masyarakat komunal tak terwariskan dengan baik kepada generasi kita.

Kita pun telah kehilangan roti kehidupan. Dalam masyakat kita, makanan jauh lebih dari  sekedar zat bergizi dan mengenyangkan. Kata Danesi (2004:276) makanan adalah tanda yang disusupi makna. Kita makan, pertama dan terutama, demi tetap hidup., Namun, dalam lingkungan sosial, makanan memperoleh signifikasi yang melampaui fungsi tersebut dan mempengaruhi persepsi atas bisa tidaknya sesuatu dimakan.

Dalam peristiwa rutin (sehari-hari) daging ayam dapat dimakan oleh siapa saja dan di mana saja. Namun, dalam ritual tertentu, daging ayam hanya dimakan oleh orang tertentu. Cara itu adalah sebuah petunjuk etik hierarkis geneologis, sekaligus mengandung makna bahwa saling melayani menjadi sangat penting dalamm kehidupan masyarakat komunal. Dalam konteks itulah, makanan bukan sekedar mengenyangkan perut, sebagai penanda kehadiran, penanda kebersamaan dan bermakna saling melayani. Makanan dalam konteks itu menjadi roti kehidupan. Banyak makna simbolis dalam makanan berasal dari asal usul manusia. Sebaliknya makanan pula menceriterakan asal-usul mereka.

Setiap suku atau etnik mempunyai hewan kurban persembahan seperti sapi, kerbau, babi, ayam atau binatang lain. Pilihan binatang mempunyai kisah yang berkaiatan dengan asal-usul manusia dan kisah hubungan antara sesama. Termasuk cara penyajian, cara memasak, siapa yang dahulu dilayani. Siapa yang berbicara lebih dahulu, siapa yang mendengar, bagaimana cara memotong pembicaraan. Pilihan, frasa, kalimat mana yang paling tepat untuk menyatakan maksud. Acara makan kolosal dan seremonial adalah usaha mempertahankan hubungan dan keselarasan sosial. Sebab, setiap budaya memiliki seperangkat ritual dan sopan santun atau peradaban tersendiri di meja makan.

Kita begitu rela kehilangan segalanya. Teknologi dan peradaban modern menyedot kolektivitas dan peradaban primordial  hingga status kita menjadi manusia puntung atau rongsokan. Kita hanya menjadi suku cadang dari tehnologi dan terlalu kerasan berhala kepadanya. Akhirnya, kita apatis dan menjadi autis (asyik sendiri) tanpa komunikasi dengan orang sekitar secara semuka.

Kita sungguh berharap pendidikan dapat menghidupkan peradaban, setidaknya untuk menfasilitasi bagaimana cara hidup yang baik, bermutu dan mampu bertahan dalam kebersamaan. Revitalisasi melalui Pustaka Cetak, Pustaka Visual, Pustakan Audiovisual.

Dunia kita dewasa ini  hanya seluas layar hp, dunia di ujung jari. Di era teknologi ini, kita lebih banyak diam, menunduk dan senyum-senyum sendiri.

Jika dulu hal tersebut terlihat aneh dan dianggap “ gila “ , zaman sekarang kita bias memaklumi bahkan terbiasa karena itu semua tak lain dipengaruhi oleh canggihnya teknologi. Dahulu- Think before you speak, Sekarang- Google before you speak. ***

Dr. Marsel Robot, M.Si

Catatan dalam dialog dan slaturahmi raja raja se Flores Daratan dan Lembata 2017 di Lewoleba, dengan judul Menghela Narasi Peradaban Yang Hilang

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *