Beranda » Catatan Ringan » Kota, “Kuku” Dan Kampung: Catatan Kecil Kota Borong
Alfred Tuname

Kota, “Kuku” Dan Kampung: Catatan Kecil Kota Borong

Kota Borong

WEEKLYLINE.NET – Orang di pengunungan sering mengatakan kalau Borong adalah kota yang indah, aman, nyaman, damai dan semua orang di daerah pegunungan yang masih berada dalam kawasan Manggarai Timur ingin sekali tinggal di Borong. Tapi saya membantah perkataan mereka. Karena pendapat saya, Borong bukanlah tempat yang nyaman. Jangan dilihat dari fasilitasnya. Sekarang di Borong banyak sampah berserakan, akibat penduduk yang kurang tertib dan kekerasan terjadi di mana-mana, entah itu kekerasan seksual, mental, fisik ataupun psikis. Orang kampung dianggap tak layak dan dianggap sebagai budak dan masih banyak lagi.

Itu cuplikan (alinea ke dua dari tiga alinea) pikiran lugu seorang remaja, siswi SMP di Borong. dia menulis tentang kota Borong, pada sebuh workshop di tahun 2017 ini. Opini mini menggelitik sekaligus membersit pikiran reflektif tentang kota. Struktur gramatiknya “unik”. Maklum, ia masih kecil, masih belajar.

Bakat menulis remaja kecil itu datang setelah jeda hening dan berpikir. Ia tentu berpikir setelah merasakan; menulis setelah menukik pengalaman. Tersirat ada observasi singkat yang lantang ia angkat untuk sebuah pendapat.

Kota tak nyaman! Kota tak aman! Terurai jelas persoalan-persoalan kota yang merasuki batin dan pikiran anak. Ada soal sampah; ada soal kekerasan; ada soal ketidakadilan. Nyaris semua soal berkerumun di kota. Tentu, masyarakat kota juga merasakan itu.

Lala, seorang remaja kecil, menulis tentang perasaan masyarakat yang absen oleh keterdesakan kebutuhan jasmaniah (ekonomi). Mengutip penyair Chairil Anwar (puisi ditulis tahun 1949), “Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa/Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka…//. Dalam tulisan Lala, ada jejak resah tersirat yang ia dapat di tiap tatapan masyarakat, orang-orang Borong.

Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur. Tetapi sang “ibu” masih gagap menyusui anak-anaknya. Ia gagu dalam impian imaji arsitektural kota dan denyut ekonomi yang timpang. Semacam ibu muda gamang yang didera antara dandanan kosmetik nostalgis kala masih gadis dan urusan suami sekaligus menyusui bayi.

Kabupaten Manggarai Timur adalah rumah tangga baru dengan wajah kota yang masih tak sedap pandang. Bak wajah tak dirias, kota tanpa tata kota yang menawarkan produk spasial urban nan asri dan bersih. Arsitektur dan struktur spasial kota masih terbelah antara gairah akumulasi modal pendatang baru dan hasrat pameran privilese para OKB.

Akibatnya, kota kering bersamaan abu berterbangan dari bangunan-bangunan baru warga yang memangkas hutan, dari jalan dan gang baru tak beraspal, dari kencana yang layu oleh “bencana” anggaran dan pipa air yang kering.

Bau menyengat dari tiap sudut kota. Ada sampah bergot-got. Ada proyek pembangunan bersampah-sampah. Ada bau badan orang asing yang “habis manis sepah dibuang”. Ada bau mulut predator seksual yang bersimbah diri di bibir pantai. Ada bau kepentingan penguasa politik di simpang-simpang pertokoan dan pasar.

Politik seperti binatang pengerat yang memakan habis sendi-sendi ekonomi masyarakat. Ekonomi seperti rumput hijau bagi orang yang asing, tak paham budaya lokal. Budaya hanya jadi atraksi panggung dan kosmetik pembangunan, menghibur warganya yang lapar.

Ekonomi daerah dikerumuni kutu. Penguasa mencakarkan kukunya di setiap saku ekonomi. Sementara ekstravaganza budaya mengaburkan semuanya dengan jemari lentik penari penghibur di air keruh antara keadilan dan keserakahan, antara publik dan privat, antara individualitas dan gerombolan.

Semua itu lantas berdamai dalam kemah yang sama: pesta. Pada pesta, semua sama: semua senang; semua sejahtera; semua gagah; semua dandan. Tetapi semuanya hanya tampak sama. Sebab persoalan sebenarnya sudah disangkal demi “tampaknya”. Dalam kesamaan “tampaknya” itu tak boleh ada siapa yang menyinggung siapa, sebelum pesta berakhir tepat waktu. Rawan chaos!

Itulah wajah hyper-realitas ruang sosial kita, ruang sosial kota Borong. Nyaris tak ada yang asli, selain kosmetika sosial yang terus dipertebal. Mungkin saja, orang-orang Borong sedang bereksperimen jadi “orang gedongan” ketika realitas dapur jarang berasap. Atau orang-orang Borong sedang melompat tangga tinggi Abrahan Maslow: kebutuhan aktualisasi diri.

Mungkin sebaiknya sejenak kita perlu berpikir tentang “kampung” (beo): tempat awal pijak. Ketika semua bermula dari kampung, maka berpijaklah dari kampung. Neka oke kuni agu kalo. Di sanalah sumber nilai, etika dan moral. Keutamaan itu mampu menangkal angin setan kecepatan pembangunan memaksa manusia jadi babu penuh kosmetik, jadi hamba politik berlimpah upeti paksa.

Kampung mestinya jadi rumah imajinatif-inspiratif yang limpah etika dan estetika dalam natas pikir dan relung sanubari. Bila diri tak sempat “singgah” di kampung, biarlah “kampung” menetap dalam pikiran dan nurani.

Artinya, bukan untuk kembali ke dasar alam “primitif-kampungan”, melainkan untuk mencecap fundasi nilai-nilai budaya asali dan keutamaan hidup yang tumbuh dari kampung halaman. Dengan itu, mesti menetap di kota, publik tetap beradab. Maka kota yang beradab adalah kota yang berbudaya.

Tanpa berbudaya, manusia akan terlempar dalam keterasingan. Tanpa berbudaya, kering kerontang dan tak beraturan. Sampai pada titik nadi kota yang kritis, manusia kota pasti ingin kembali jadi “manusia” utuh dan bernurani.

Itulah yang disebut filsuf Walter Benjamin dalam Arcades Project (1999) sebagai “phantasmagoria of the interior psyche”: suatu dorongan hati manusia yang selalu ingin menemukan dan menetap dalam ruang yang privat, yakni budaya. Kota mesti menjadikan budaya sebagai tulang (culture is bone) bagi pembangunan.

Last but not least, orang kampung yang dianggap budak itu, sejati mereka adalah tuan atas dirinya sendiri. Mereka tak diatur matahari. Orang kampung punya aturan sendiri hingga aturan pun tak mampu memahaminya. Mereka tak tunduk pada atasan. Di atas mereka, hanya ada langit; di bawah ada tanah. Itu cukup untuk hidup dan bebas. Mereka hanya marah bila janji tak ditepati! Hanya itu saja.

Alfred Tuname

Penulis dan esais

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *