Beranda » Kesehatan » Orang Welo Bikin Daun Motong Jadi Obat Herbal
Seorang Karyawan sedang menggiling daun kelor untuk diproduksi menjadi tepung (foto:j.paun)
Seorang Karyawan sedang menggiling daun kelor untuk diproduksi menjadi tepung (foto:j.paun)

Orang Welo Bikin Daun Motong Jadi Obat Herbal

WEEKLYLINE.NET – Merungge, sebutan orang lamaholot untuk Daun Kelor yang dalam bahasa latin dikenal Moringa Oleifera. Orang flores timur dan Lembata menyebut nama kelor dengan motong.

Daun kelor yang biasa dipandang hanya sebelah mata, dan merupakan satu satunya alternatif dari sayuran lainnya ketika hendak dikonsumsi.

Namun ini adalah sebuah kemajuan yang sangat penting bagi Flores Timur. Kenapa? karena daun kelor (merungge) kini telah dilirik oleh investor baik dalam negeri maupun luar negeri.

Lalu mengapa harus di dusun Welo desa Painapang?, karena di dusun inilah, para investor telah mengenal dengan baik track recordnya, mente Epuboit.

Ketika ditemui oleh weeklyline.net bulan Desember 2016, di sebuah dusun dipinggiran jalan Propinsi yang bernama dusun Welo desa Painapang, Kecamatan Ilemandiri.

Disitu berkembang beberapa kelompok usaha tani yang bernaung dibawah Gapoktan. Namaun dari sekian kelompok tersebut, kelompok ini lebih dikenal ketimbang beberapa kelompok lain. Epuboit adalah salah satu kelompok tani lebih yang patut ditiru oleh kelompok lainnya.

Daun Kelor yang sudah dibuatkan teh (foto:j.paun)
Daun Kelor yang sudah dibuatkan teh (foto:j.paun)

Selain tenar dengan kacang mentenya, kelompok Epuboit kini memperlebar sayapnya dengan membuka usaha baru dengan memproduksi daun kelor (Moringa Oleifera).

Yohanes Ledu Ruron, ketua kelompok tani Epuboit, menjelaskan, kami bangga, kelompok Epuboit menjadi salah satu kelompok yang dipercaya oleh perusahaan Rembyung Sakha. Dan karena kepercayaan itulah kelompok Epuboit kini mendapat kesempatan emas dalam hal kerjasama industri daun kelor.

Untuk memperlancar industry daun kelor, kelompok tani Epuboit mendapat hibah berupa satu buah mesin penggiling daun kelor. Ledu menambahkan, kami dipercaya karena memiliki sertifikat non organik yang diakui beberapa negara, seperti Amerika, Swiss, dan beberapa negara pengimpor kacang mente Epuboit.

Lanjut Yanes Ledu, sampai saat ini untuk menambah peningkatan produksi daun kelor, selain bahan baku yang sudah ada pada masyarakat, kelompok Epuboit juga harus membeli daun kelor yang terjual di pasar,ataupun di kalangan masayarakat dengan harga Rp. 2.000 per ikat. Sehingga dalam sehari, kelompok ini dapat mengumpulkan daun kelor sebanyak 20 – 40 kg.

Setelah pengadaan bahan baku tersedia, daun kelor tersebut siap untuk dikeringkan. Daun kelor tersebut dikeringkan pada green house mini selama dua sampai tiga hari, menurut Yanes Ledu, proses pengeringan pada green house dengan maksud untuk sterilisasi dari berbagai gangguan.

Saat daun kelor benar benar kering, saatnya melakukan proses finishing. Dengan hanya mengandalkan satu buah mesin penggiling daun kelor, oleh Yanes Ledu menjelaskan, untuk memperoleh tepung kelor 1 kg, dibutuhkan 10 kg daun kelor kering.

Selesai di packing dengan baik selanjutnya, siap untuk didistribusikan ke Jakarta, dan kemudian akan dilanjutkan ke Amerika. Menurut Yan Ledu, untuk saat ini, kelompoknya hanya bisa menghasilkan tepung daun kelor sampai dengan 20 kg per minggu. Karena masih banyak kekurangan baik itu bahan baku, mesin, maupun gedung.

Menurut informasi yang di peroleh bahwa tepung kelor tersebut akan diolah menjadi kapsul kelor, tepung kelor dan teh kelor.

Kelompok tani Epuboit , berharap penuh kepada Pemerintah agar dapat membantu kelompok tani Epuboit, dari pembangunan gedung antara kacang mente dan gedung industri daun kelor yang layak, pengadaan mesin dan beberapa peralatan lainnya.

Harapan ini juga di sampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat agar bisa menyiapkan lahan khusus untuk kelor itu tersendiri. Kedepannya pasti akan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.

Dan tak lupa kepada masyarakat agar jangan malu menjual daun kelor di kelompok Epuboit dengan harga yang memuaskan masyarakat petani.

Jemmy Paun,

082 145 777 653

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *