Beranda » Pariwisata » Lembata Sebuah Prolog dan Epilog Untuk Membaca Flores
Foto : Pelabuhan Tua Lewoleba tempat diselenggarkaan Expo Nusantara dan Perayaan Harnus 2016. (foto: sandro)
Foto : Pelabuhan Tua Lewoleba tempat diselenggarkaan Expo Nusantara dan Perayaan Harnus 2016. (foto: sandro)

Lembata Sebuah Prolog dan Epilog Untuk Membaca Flores

WEEKLYLINE.NET – Pulau Lembata dulunya dikenal dengan sebutan Pulau Lomblen kini sedang kesohor. Semua mata sedang memandang Lembata. Telinga mendengar dan mulut berbicara tentang Lembata. Semua itu karena gema Hari Nusantara.

Sebutan Lembata mulai diperdengarkan sejak tahun 1965. Pada tanggal 24 Juni 1967 di pulau ini dilaksanakan Musyawarah Kerja Luar Biasa Panitia Pembentukan Kabupaten Lembata yang diselenggarakan di Lewoleba. Nama “Lembata” disesuaikan dengan sejarah asalk masyarakatnya yakni dari pulau “Lapanbatan”.

Sejak 01 Juli 1967 sebutan untuk penduduk yang semula “Orang Lomblen”berubah menjadi “Orang Lembata”. Lembata sebelumnya bergabung dengan Kabupaten Flores Timur, tapi tahun 1999 terjadi pemekaran dan Lembata menjadi kabupaten sendiri.

Letak Pulau Lembata menyempil di antara dua kabupaten yakni di timur Kabupaten Alor, dan di barat dengan Kabupaten Flores Timur. Batas Kabupaten Lembata di wilayah utara dengan Laut Flores dan selatan dengan Laut Sawu.

Untuk sampai di Lembata, dapat ditempuh dengan penerbangan dari Kupang ke Lewoleba ibukota Kabupaten Lembata. Atau melalui jalan laut dengan kapal very dari Kupang, dari Alor atapun dari Larantuka. Kapal Pelni berukuran besar dari Makasar dan Surabaya juga menyinggahi Lewoleba. Setiap hari kapal motor penumpang hilir mudik Larantuka –Lewoleba.

Jauh sebelum orang mengenal beragam destinasi Flores, Komodo, Danau Kelimutu dan Perkampungan Nelayan Lamelera dengan tradisi pengakapan ikan paus telah mendunia. Di darat ada Danau Kelimutu, di laut ada ikan Paus Lamalera, dan menghubungkan laut dan darat adalah Komodo. Itulah Flores.

Flores kini tidak hanya dikenal dengan tiga destinasi itu. Di Lembata saja beraneka ragam potensi wisata, baik wisata alam, wisata bahari, wisata budaya, wisata sejarah dan purbakala sangat indah dan menarik. Lembata menyiapkan spot fotografi yang langkah di dunia.

Kreasi baru kepariwisataan pun mulai digarap. Lembata mulai diperkenalkan dengan Festival Bahari Nuhanera dan Expedisi Batutara yang dihubungkan dengan Gunung Batutara. Ekspedisi ini merupakan expedisi tahunan untuk promosi pariwisata Pemda Lembata dengan dukungan Kementerian Pariwisata RI.

Potensi lain adalah Pulau Pasir Putih Awelolong, Gua Maria Lewoleba, Lewopenutung, Pantai Rekreasi Pasir Putih dan pesona bawah laut pantai Waijarang, Sumber Air Panas Sabu Tobo, Adum dan, Labalimut, Sumber Gas Alam Karun Watuwawer, Pantai Rekreasi Tanah Treket, Rumah Adat dan Ritus Pesta Kacang Jontona.

Lain lagi adalah Pantai Pasir Putih Mingar, Pantai Lewolein, Pantai Nubi, Lusiduawutun, Air Terjun Atawuwur, Pantai Pasir Putih Bean, Pantai Pasir Putih Wowong dan Makam Raja Saguwowo Desa Kalikur Kec. Buyasuri.

Keunikan dan keindahan panorama alam dan budaya di Lembata, hanya bisa terpenuhi dengan datang ke Lembata. Di Lembata dapat saja pengunjung berkesempatan mengelilingi pulau Lembata dengan biaya dan waktu yang terjangkau. Ke Balauring-Kedang di ujung timur melalui jalan darat dapat menimati panorama alam pantai timur Tanjung Baja dan lingkaran teluk Balauring nan Indah.

Melalui perjalanan darat, bertemu dengan petani ladang-ladang ataapun para nelayan laut Sawu. Pertemuan ini pun jadi momen untuk menyingkap keunikan budaya masa lalu yang dirayakan hari ini. Tak cuma bertani dan melaut, tradisi berdagang antara orang laut dan orang darat terjadi disaksikan di Lembata ini. Kenikmatan mengasah daya nalar, sebagian yang bisa ditemukan dalam perjalanan budaya.

Diakui banyak kalangan, potensi wisata yang ada di Lembata dapat bersanding dengan Wakatobi dan Bunaken, bahkan lebih dari itu. Pemerintahan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur lima tahun terakhir mulai mengenjot sektor pariwisata ini, sekali pun di sani-sini banyak menuai kritik masyarakat sebagai bentuk pengawasan publik.

Untuk membuat pariwisata Lembata dikenal di dunia, Pemerintah Kabupaten Lembata telah bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata sejak beberapa tahun terakhir untuk mempromosikan aneka potensi pariwisata. Salah satunya melalui Launching Rely Wisata Bahari.

Pemda Lembata memang melakukan berbagai terobosan kebijakan di sektor wisata. Infrastruktur memang perlu disiapkan dan fasilitas harus memenuhi target pasar dan salera wisatawan. Event pariwisata pun mesti selalu dikreasi, sambil menyiapkan ruang bahkan menjadi lebih diprioritaskan adalah event-even budaya yang diinisiatif oleh masyarakat dan anak muda.

Jangan lupa wisata apapun harus berguna untuk masyarakat Lembata sendiri. Begitu pun tidak hanya untuk keuntungan hari ini, tapi juga dapat bertahan hingga ke anak cucu. Pembinaan dan pendampingan bagi masyarakat satu hal yang perlu dikerjakan. Bagaimana pun dunia usaha wisata masih jauh dari kehidupan masyarakat yang agraris. Orang Lembata harus mencintai daerahnya secara budaya agar menjadi pesona bagi yang lain.

Datanglah ke Lembata. Untuk mengenal Flores, jika Anda mulai perjalanan dari Labuan Bajo maka Lembata akan menjadi “Epilog” yang merangkum semua itu. Tapi jika Anda mulai dari Lembata, maka di sini bacaaan Anda tentang Flores semakin dipermudah karena Lembata menyuguh “Prolog” yang cukup baik tentang Flores.

Keindahan Lembata yang keren pun diakui oleh Komandan Korem 161 Wirasakti Kupang, Herri Wiranto. Dia menyebutkan Lembata Luar biasa keren. Hal yang sama juga diakui oleh kata Rochayati Basra, Ketua Bidang Nusantara Expo Harnus 2016 saat membawakan sambutan pembukaan Expo Nusantara, 9 Desember 2016. (sandrowangak)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *