Beranda » Pariwisata » Todanara Relakan Tanah 5 Hektar Untuk Pariwisata Terpadu
Foto : Alex T. Making, Kadis Pariwisata Lembata (tengah), didampingi Kepala Desa Todanara, Nikolaus Lewa Domaking dan Ketua BPD Toanara saat melakukan sosialisasi di desa tersebut. (foto:sandro)
Foto : Alex T. Making, Kadis Pariwisata Lembata (tengah), didampingi Kepala Desa Todanara, Nikolaus Lewa Domaking dan Ketua BPD Toanara saat melakukan sosialisasi di desa tersebut. (foto:sandro)

Todanara Relakan Tanah 5 Hektar Untuk Pariwisata Terpadu

WEEKLYLINE.NET – Kementrian Pariwisata dan ekonomi Kreatif sedang gencar membangun destinasi pariwisata dengan pola pariwisata terpadu.

Khusus di Indonesia bagian Timur, destinasi pariwisata baru adalah pariwisata bahari.

Dan untuk Lembata, setelah Hari Nusantara 2016 di gelar di Lembata, pengembangan pariwisata bahari terpadu gencar disosialisasikan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata.

Hal ini terungkap dalam penandatanganan nota kesepahaman hiba tanah dari masyarakat desa Todanara kepada Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lembata, di kantor Desa Todanara, Kecamatan Ile Ape Timur, 13 Februari 2017.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lembata, Alex Making melalui Sekretaris Dinas, Apol Mayan, di hadapan Pemerintah Desa, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan seluruh komponen masyarakat Desa Todanara, mengucapkan terimakasih karena rela menghibakan tanah untuk pengembangan pariwisata terpadu Teluk Waienga.

Apol megungkapkan, untuk mendukung pengembangan lokasi wisata terpadu Teluk Waieng berbagai upaya dan sosialisasi dilakukan masyarakat berpartisipasi dalam menangkap peluang ini.

Untuk mendukung pengembangan pariwisat terpadu Teluk Waienga ini, masyarakat Desa Todanara menghibahkan tanah seluas 5 hektar kepada Pemerintah Kabupaten Lembata, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata sebagai syarat untuk diajukan ke Kementrian dan ekonomi kreatif RI di Jakarta.

Kawasan teluk Waienga melengkung membentuk lingkaran dengan panjang pantai melewati 14 desa pesisir di tiga kecamatan.

Teluk Waienga atau Nuhanera merupakan teluk dengan pemandangan mempesona. Dikelilingi perbukitan dengan Gunung Ile Ape, (Ile Lewotolok), membuat pemandangan Teluk ini seperti sebuah danau ditengah kawah besar. Apalagi ditunjang dengan laut yang teduh pada 91 km sepanjang garis pantai.

Bukan hanya itu, Waienga juga memiliki potensi alam bawah laut yang aduhai untuk snorkeling dan diving. Siapa sangka teluk yang saat ini dikenal dengan Nuhanera ini menjadi kesohor seantero dunia.

Untuk itu, Pemerintah Desa Todanara ingin menjadi pintu gerbang dalam pengembangan destinsi bahari telu Waienga secara terpadu.

Penyerahan tanah hiba kepada Pemda Kabupaten Lembata tersebut, sebagai bukti keseriusan masyarakat Desa Todanara mengembangkan paiwisata terpadu.

Kepala Desa Todanara, Nikolaus Lewa kepada media ini, 13 Februari 2017, menjelaskan pihak merasa penting menangkap peluang ini setelah mendapat penjelasan konsep pariwisata terpadu dan kegunaannya melalui sosialisasi oleh pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lembata.

Kawasan pariwisata terpadu Desa Todanara, berupa teluk yang dihiasi oleh pulau Karang, berposisi melingkar, seolah-olah Danau Laut (Sea Lake), membuat perairan lautnya relatif tenang dan kaya akan terumbu karang serta hutan bakau yang masih lestari, ada pula gua laut sehingga kawasan tersebut pantas dijuuki “The Paradise of the Lomblen“.

Berbagai rencana pengembangan pariwisata disekitar Todanara sebagai pilot project, pengemangan pariwisata bahari terpadu Teluk Waienga, antara lain pariwisata Bahari Rekreatif yang dapat diakses oleh seluruh segmen pasar dan merupakan pusat konsentrasi pelayanan pengunjung yang terlayani angkutan umum; Pariwisata Bahari Rekreasi- Edukasi yang dapat diakses oleh seluruh segmen pasar, merupakan pusat pelayanan informasi pariwisata dengan pembatasan jumlah pengunjung untuk kegiatan-kegiatan tertentu sehingga aspek kenyamanan dan kepuasan wisatawan menjadi hal yang sangat penting; serta penerapan konsep Pariwisata budaya dan edukasi.

“Kawasan Wisata Teluk Waiega memiliki potensi bahari yang kuat sehingga membutuhkan komitmen dukungan multi sektor yang tinggi yang dikembangkan secara terencana dan terpadu. Kawasan ini merupakan salah satu sub-sektor ekonomi kelautan yang dapat mendukung terwujudnya Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia,” harap Kadis Budpar Lembata, Alex T. Making ketika dihubungi secara terpisa.

Nantinya, pengembangan pariwisata Mandeh akan dilaksanakan dalam beberapa tahap, antara lain Tahap Peningkatan Kesadaran Kolektif; Pengembangan Rencana Kawasan Pariwisata Bahari; Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Kawasan Pariwisata Bahari; Pengembangan Bisnis dan Investasi Pariwisata Berbasis Masyarakat, selanjutnya secara bertahap diintegrasikan dengan pengembangan investasi skala menengah-besar, dan tahap Pengendalian Pembangunan Kepariwisataan.

Lebih lanjut, Alex menjelaskan agar pembangunan kepariwisataan di Kawasan ini akan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat dengan berlandaskan norma-norma agama, sosial dan budaya yang dianut masyarakat setemat serta menjaga kelestarian sumber daya kelautan dan sumber daya daya alam pendukungnya.

Tidak kala penting, demikian Alex Making, peningkatan kemampuan dan pengembangan kreasi yang tumbuh dalam masyarakat menjadi syarat utama pengembangan kepariwisataan Teluk Waienga yang kemudian dipadukan dengan peluang investasi lain perlu diperhatikan dengan masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata. (sandrowangak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *