Beranda » Jurnal » Walau Diperingati PVMBG , Warga Besakih Masih Bertahan
Pura Besakih Bali dan Gunung Agung. (Ist)

Walau Diperingati PVMBG , Warga Besakih Masih Bertahan

WEEKLYLINE.NET – Sejak Senin lalu tanggal 27 Nopember 2017 pihak PVMBG (Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi) sudah menaikan status Gunung Agung dari Level Siaga menjadi Awas dan memerintahkan penduduk yang berada di kawasan rawan bencana untuk segera mengungsi ke tempat tempat yang lebih aman .

Menurut sumber dari PVMBG bahkan pada Selasa sekitar pukul satu siang sampai pukul dua siang telah terjadi tremor yang cukup besar (overscale) yang menyebabkan ketegangan pos pengawas di Desa Rendang sehingga menghimbau kepada orang orang yang masih tinggal di pos pos pemantauan agar segera meninggalkan tempat.  Saat itu diperkirakan Gunung Agung akan meletus dalam hitungan jam . Namun sampai saat ini belum terjadi letusan besar seperti yang diperkirakan bahkan bandara mulai dibuka kembali pukul tiga siang hari Rabu tanggal 29 Nopember 2017

Manusia hanya bisa membuat prediksi. Dibantu alat alat selengkap apapun tidak dapat memprediksi alam dengan tingkat keakuratan seratus persen . Tak heran jika beberapa orang tetap mengandalkan naluri dan kepercayaan mereka terhadap alam semesta dan Sang Pencipta. Hal ini sangat berbahaya karena taruhannya nyawa. Namun kenyataannya beberapa warga pada kawasan berbahaya memang enggan untuk meninggalkan desanya.

Sebut saja warga banjar Kedungdung, Desa Besakih Karangasem dengan jarak 5 -6 km  dari puncak Gunung Agung dan masuk dalam kawasan rawan bencana III. Sekitar sepuluh KK atau enam puluh jiwa masih bertahan di rumahnya masing masing. Selain Banjar tersebut juga hampir sebagian besar penduduk Banjar Dinas Pemuteran, Rendang, Karangasem yang masuk kawasan rawan bencana  II juga enggan mengungsi.

Telepas dari keengganan warga untuk mengungsi karena memikirkan ternak ternak mereka, penyebab lain adalah keyakinan warga bahwa menurut tetua yang pernah mengalami peristiwa Gunung Agung meletus tahun 1963 willayah tersebut tidak tersentuh lahar, hanya hujan abu dan pasir. Hal tersebut disampaikan oleh seorang guru yang mengajar di wilayah Banjar Pemuteran I Ketut Nuada. Mereka akan mengungsi kalau Gunung Agung sudah benar benar meletus. Pertanyaan kita, masih sempatkan mereka akan menyelamatkan diri ? Hanya Tuhan yang tahu jawabannya.

Sebuah keyakinnan yang bisa membahayakan nyawa sendiri. Namun keyakinan tersebut sangat kuat  dan dengan dasar itu pula manusiia mengambil keputusan keputusan penting bahkan untuk soal nyawa. Meskipun pemerintah sampai mematikan aliran listrik ke wilayah itu agar mereka mengungsi, mereka tetap bertahan juga.

Selain itu, seperti yang diberitakan dalam liputan6.com, seorang pemangku (pemimpin upacara agama Hindu di Bali ) juga masih bertahan di rumahnya Banjar dinas Badeg Dukuh adalah Jro Mangku Darma  yang menyatakan diri sebagai juru kunci Gunung Agung. Beliau akan mengungsi apabila sudah mendapat wangsit dan petunjuk dari Yang Maha Kuasa . Ketika semua warga sudah mengungsi, hanya tinggal beliau disana berdoa setiap hari mohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa . Beliau berkeyakinan akan mendapat petunjuk apabila Gunung Agung memang benar benar akan meletus.

Keyakinan memang dapat memberi seseorang kekuatan semacam sugesti. Meskipun secara teori sugesti lebih ditekankan pada pemberian pengaruh dari seseorang kepada orang lain.

Keyakinan adalah kekuatan, namun keyakinan juga harus disertai dengan perhitungan yang matang serta fokus dan waspada. **

Salam Rahayu

Luh dias

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *