Beranda » Sastra » AKAR
Foto : Ilsutrasi
Foto : Ilsutrasi

AKAR

WEEKLYLINE.NET – Aku terbangun lagi. Tengah malam. Mimpi buruk lagi. Mimpi yang sama sejak beberapa hari ini. Keringat mengucur membasahi sekujur badan dan wajahku padahal cuaca begitu dingin. Ini bulan Januari, hujan masih sedang senang mengucur dari langit. Dan kipas dalam kamarpun berputar dengan kecepatan tinggi.

Ah.. aku menyeka keringat di wajahku. Menepis selimut dan bangkit menuju dapur. Beberapa saat kemudian segelas air dingin sudah membasahi kerongkongan.

Perasaanku sudah sedikit lebih nyaman. Aku teringat mimpi buruk itu. Akarakar membelit dan aku meronta ronta. Lalu terbangun. Hanya mimpi, hiburku.

Kulihat keluar lewat jendela dapur, hujan memukul kanopi di depan teras . Menimbulkan suara yang sedikit gemuruh. Selebihnya tak ada suara. Tentu, ini tengah malam.

Kulirik jam dinding, pukul dua pagi. Mataku nyalang, kantukku menjauh. Pikiranku berkecamuk. Beberapa bayangan berkelebat memaksa untuk kuingat kembali.

Pekerjaanku, yang beberapa hari ini sudah ku tinggalkan karena izin cuti. Bilakah Lana, menyelesaikan tugas tugasku sementara aku tidak ada. Aku cemas. Lalu besok, bagaimana besok, apakah semua akan berjalan dengan baik. Aku tidak meragukan Ram, calon suamiku. Dia sudah berjanji mengurus segala keperluan.

Tapi aku tetap saja merasa cemas. Entahlah. Aku takut seolah olah akan memasuki sebuah tempat yang asing dalam keadaan gelap gulita. Aku cemas pada kesehatan ibu. Juga cemas untuk cuaca belakangan ini. Tidak bisa ditebak. Kadang panas lalu hujan tiba – tiba. Seperti hatiku

Aku sering mencemaskan banyak hal. Semua bayangan muncul silih berganti. Lalu mimpi itu, wajah – wajah itu. Dan gelap. Aku tidak menyukainya.

Aku menggelengkan kepala. Seolah semua yang tidak kusuka bisa terlontar dari kepalaku hanya dengan mengibaskan kepala. Ah.. tidak semudah itu.

Mula – mula bayangan itu, beraturan kemudian semakin samar dan semakin samar . Aku tertidur.

Menikah. Berusaha keras aku memahami kata ini. Umurku sudah cukup pantas untuk itu tapi apa aku siap ?

“Nak, kau tahu ibu sudah terlalu lama sakit. Kesehatan ibu tidak baik. Apapun bisa terjadi termasuk meninggalkanmu sendiri di dunia ini” kata ibu malam itu.

” Ibu mau jika mungkin ibu ingin melihatmu menikah ”

“Tapi bu.. aku..”

” Kau belum siap. Itu kan yang mau kau katakan. Nak kapan kau siap ? Teman teman sebayamu bahkan sudah miliki anak. Kau selalu tidak siap .”

” Aku memang belum siap bu”

” Sudahlah.. menurutlah sekali ini nak. Supaya ibu tenang. Kau tidak perlu berbuat apapun. Ibu akan urus semuanya. Ibu sudah punya calon untukmu. Dia terbaik dari yang baik. Lagipula kau sendiri juga belum punya pacar.”

Itu percakapan ku sekitar 6 bulan lalu. Aku diam. Berpura – pura untuk melupakan percakapan itu. Menganggapnya tidak ada. Tapi aku salah. Ibu bergerak lebih cepat. Dalam keterbatasannya karena sakit jantungnya, ibu sudah menyiapkan segalanya. Hanya sebulan aku menyesuaikan diri dengan Ram, laki laki pilihan ibuku. Yang mula – mula kuterima dengan berat hati.

Dalam kesadaranku, kuakui Ram lelaki yang baik. Dia mengayomi, dia juga sabar dan perhatian. Dan dalam sadarku juga aku iklas menerimanya. Tapi ada yang aneh dariku. Setiap aku berdekatan dengannya keringat dingin selalu mengucur dari tubuhku. Titik – titik keringat akan bermunculan di dahiku satu persatu. Begitu juga di tubuhku. Dan perasaanku akan diselimuti kecemasan yang ganjil. Aku sendiri tidak mengerti.

Karena itu aku menghindar untuk berdekatan dengannya. Kami ngobrol saling berhadapan. Aku menghindar untuk pergi berdua. Kalaupun harus pergi berdua aku akan memaksa pembantuku untuk pergi bersama. Awalnya dia protes dengan tatapan matanya yang terlihat kurang suka. Tapi aku mengabaikan. Aku pura – pura tidak melihatnya.

Aku tahu benar. Ada pertanyaan di matanya. Mungkin juga keraguan. Tapi peduli apa. Ragu atau tidak semua tetap akan berjalan seperti dalam rencana. Dia tak menolak begitupun aku.

Dan puncak dari semuanya adalah hari ini. Hari yang melelahkan. Sejak pagi tamu tamu tak berhenti datang. Menyalami, memberi selamat, dan hal – hal klise lainnya seperti umumnya dalam sebuah upacara pernikahan.

Mestinya aku bahagia. Tapi kenapa kecemasan itu terus menerus datang dalam pikiranku. Cemas untuk apa ? Aku tidak mengerti. Tidak terlihat tapi terasa dengan jelas.

” Selamat ya Rum… akhirnya berakhir juga dirimu di pelaminan ” Titik temanku sejak SMA memberiku selamat.

Dia datang bersama suami dan anaknya yang baru berumur lima tahun. Kami bercakap – cakap sebentar menjauh dari kerumunan para tamu yang lain.

” Diantara kawan kita, kamu lo yang terakhir ” ujarnya

Aku hanya tersenyum menanggapi.

” Rum, kakak tirimu.. aku bertemu dengannya kemarin di pertokoan ”

Jleb ! Jantungku berdetak kencang mendengar nama kakak tiriku disebut. Mungkin wajahku menjadi pias saat itu.

” Kau baik baik saja Rum ? ”

Pikiranku kacau, aku tiba – tiba cemas. Kenapa cemas ? Hans. Bukankah dia sudah pergi dari hidup kami. Hidupku dan keluargaku. Hans saudara tiriku. Lain ayah dan juga lain ibu. Dia datang bersama ayah tiriku saat aku duduk di kelas satu sekolah menengah atas.

Mengingat semua kenangan itu, keringat dingin mulai muncul di satu persatu. Menetes dari wajah dan seluruh tubuhku basah oleh keringat. Aku menggigil. Suara Titik memanggilku cemas.

Aku mengendalikan diri. Melihat sekelilingku. Penuh dengan tamu. Ram dan keluarganya sibuk menyapa mereka satu persatu

” Aku tidak apa – apa Tik, mungkin kelelahan”

” Baiklah, sebaiknya kau istirahat dulu Rum, kalau kau kelelahan bagaimana nanti dengan malam pengantinmu ?” Titik menggodaku.
” Kau sangat pendiam Rum” Suamiku menyapa selepas tamu – tamu pulang.

Kini kami hanya tinggal berdua. Aku hanya tersenyum. Aku membereskan wajahku, membersihkan dari make up dan memberikan pelembab. Setelah itu aku hanya ingin tidur. Rasanya begitu lelah.
Aku akan tidur di sofa. Dan suamiku biar dia tidur di kasurnya. Itu rencana di kepalaku. Rencana yang diam diam sudah kususun sejak awal.

Berpura – pura semuanya wajar saja, aku mengambil selimut, bantal dan membaringkan diri di sofa. Aku tidak melihat ekspesi Ram. Aku tidak ingin melihatnya. Kupikir lama – lama dia akan mengerti sendiri. Lelah. Dan aku tertidur lelap sampai besok pagi

Malam malam berikutnya selalu seperti itu. Pernah kulihat ekspresinya penuh tanya, tapi seperti biasa aku selalu berpura – pura tidak melihatnya. Dan ini sudah hampir sebulan.

Suatu malam saat aku hendak mengambil bantal dan selimut, dia memegang tanganku, setengah memaksa, menatapku dengan tajam.
Ada tanya di wajahnya. Aku menepis tangannya, dia semakin memegangku erat. Dan menarik tubuhku. Kami begitu dekat. Aku mulai kalut, pikiranku mulai kacau. Nafasku terasa semakin cepat.

” Kenapa Rum ? Kenapa kau lakukan ini padaku ? Apa salahku ?” Dia merangsek semakin bringas.

Aku semakin ketakutan. Semuanya gelap. Ram semakin memaksa. Dia mulai mempreteli kancing bajuku.

Lalu akarakar membelitku . Muncul dari seluruh penjuru. Tembok, kasur, sofa, meja rias. Akarakar itu muncul dari semua sudut. Menggeliat seperti ular yang bergerak cepat dan melilit tubuhku. Aku terengah, aku mencoba menepis akarakar yang semakin beringas melilit tubuhku. Aku berteriak tapi suaraku hanya di tenggorokan. Sepotong akar besar melilit leherku, membuatku terengah tak bisa bernafas

Lalu wajah itu muncul dari kegelapan. Hans, ohhh.. Hans.. dia di sini. Wajahnya begitu menakutkan. Dia semakin membuatku terperangkap pada akarakar yang membelit . Mendekatkan wajahnya. Membuatku muak dengan bau nafasnya.

Tidak akan kubiarkan dia masuk dalam hidupku lagi. Tidak akan. Cukup bagiku dipaksa melayani nafsunya yang beringas bertahun – tahun sejak aku masih kelas satu SMA. Memaksaku tiap malam tanpa bisa kulawan. Aku masih begitu takut saat itu bahkan untuk berbicara pada ibu. Tapi tidak kali ini. Kali ini dia harus pergi selamanya.

Aku meronta – ronta. Aku mengerahkan seluruh kekuatan untuk menolaknya Aku ingat di atas meja rias kuletakkan sebuah tusuk konde. Sedapat mungkin aku menjangkaunya. Lalu dengan sekuat tenaga aku tancapkan ke lehernya. Ya.. laki – laki itu meraung kesakitan. Memegangi lehernya yang berdarah – darah. Mengalir memenuhi lantai.

Tubuhku panas. Akarakar yang membelitku terasa mengendur. Baiklah. Laki – laki itu sudah kuhabisi. Sudah kutuntaskan segala dendam yang bertahun – tahun kusimpan. Dia tak akan mengganggumu lagi Rum, kudengar suara di telingaku. Dia tak akan mengganggumu lagi. Dendammu sudah terbalaskan Rum.

Diluar ambulans terdengar meraung – raung. Ram, tergeletak di lantai berlumuran darah. Sebuah tusuk konde menancap di lehernya.

TAMAT
denpasar, 9 januari 2017

luhdias

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *