Beranda » Sastra » Be’a
Gerson Poyk (foto:dok.fannypoyk)

Be’a

WEEKLYLINE.NET – Pagi itu, kabar tentang Bapa Tua yang ditangkap tentara Belanda dan dimasukkan ke sel tahanan dengan tuduhan memakai uang kas di kantor tempatnya bekerja, menyebar di seluruh kampung.

Penangkapan ini membuat Mama Tua merenung di depan pintu rumah bebak (1) berdinding bambu, juga berpintu dari bambu. Wajah Mama Tua murung. Ini artinya kelaparan akan menimpa seisi rumah. Tak ada gaji bulanan yang bisa digunakan untuk membeli beras, gula, garam, sabun, minyak tanah dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Peristiwa ini juga berpengaruh pada biaya sekolah Be’a dan adiknya Nona. Mereka pasti akan putus sekolah, karena Meneer Yansen pimpinan di Sekolah Rakyat milik Belanda itu, tidak akan pernah mentolelir anak-anak yang orang tuanya tak sanggup membayar uang sekolah, untuk bertahan di sekolah itu. Tidak juga untuk Be’a dan Nona.

Andai pun boleh duduk di dalam kelas beberapa hari, itu hanya pengecualian, mereka berotak cerdas, tiap ulangan selalu memperoleh nilai yang tinggi sehingga Meneer Yansen agak sungkan untuk mengeluarkan mereka dengan tiba-tiba. Tapi hari ini mereka tetap harus ke luar dari sekolah. Uang iuran sekolah lebih penting dari otak yang pintar.

“Kalau orang tua kalian tidak mampu bayar uang iuran sekolah, lalu dengan apa para guru akan digaji?” tanya Meneer Yansen usai ditemui Mama Tua yang datang untuk meminta keringanan biaya. Kala itu kata ‘toleransi’ benar-benar sudah mati. Mama Tua benar-benar tak berdaya.

Kemudian, waktu terus berjalan, seperti dugaan Mama Tua, sejak Bapa Tua dipenjara, mereka benar-benar hidup susah. Be’a, kadang seharian hanya makan buah-buahan yang dipetiknya dari hutan kecil yang bersebelahan dengan sungai dekat rumah bebak mereka.

Mama Tua kemudian meminta ijin pada Bapa Tua Julius, tetangga sebelahnya untuk menggarap tanah milik lelaki asal Larantuka itu. Tanah itu sangat luas, kosong tak ditanami apapun. Anak-anak Bapa Tua Julius pemalas, mereka hanya suka jadi preman pasar sambil minum sofi sampai mabuk. Bapa Tua Julius mengijinkan namun dengan syarat, jika tanaman sudah dipanen, harus dibagi hasilnya, Bapa Tua Julius memberoleh 60 persen dari hasil tanaman itu, dan Mama Tua memperoleh bagian 40 persen. Pembagian ini di mata Be’a tidak adil. Ia kesal sekali ketika tahu Mama Tua sudah membuat perjanjian tertulis dengan sang pemilik tanah.

Be’a protes. Anak lelaki berusia dua belas tahun yang sudah duduk di kelas enam Sekolah Rakyat (SR) itu, sangat kritis dan cerdas. Ia marah. Malam-malam, tanpa sepengetahuan Mama Tua, ia pergi ke mamar (2), milik Bapa Tua Julius, ia menginjak-injak tanaman ubi jalar yang baru bertunas, lalu mencabuti tunas-tunas itu dengan penuh emosi. Usai berbuat demikian, ia pulang ke rumah, tidur di kandang Milo, satu-satunya kerbau peninggalan Bapa Tua, bergabung dengan rumput kering yang sudah diinjak-injak Milo. Keesokkan harinya, di depan rumah, suara orang berdebat mulut terdengar.

“Itu pasti perbuatan kau pung anak, Be’a. Kau pung anak, sifatnya tidak beda dengan Bapaknya. Suka berbuat curang dan berhati jahat!” tuduh Bapa Tua Julius.
Mama Tua naik pitam. Hatinya kian memanas ketika Bapa Tua Julius menyinggung perempuan di Pasar Liliba, yang telah menjanda dan ada hubungan gelap dengan suaminya.

“Cuki mai, kau sambarang sa ngomong. Kau pikir beta pung suami serendah itu. Sini maju, beta parang kau pung leher sekalian, beta sonde jadi garap lu pung tanah. Kita putus hubungan mulai sekarang!” (3) Mama Tua mengambil parang peninggalan suaminya yang selalu dipakai memotong kayu bakar, di dapur.

Melihat parang berkilat-kilat, Bapa Tua Julius, mundur beberapa langkah. Lelaki asal Larantuka, Nusa Tenggara Timur yang berkulit gelap dengan rambut keriting ikal ini, ciut juga nyalinya melihat perempuan Rote yang matanya berkilat penuh nafsu amarah. Be’a yang mendengar itu dari kandang Milo, terkekeh dalam diam. Ia bersorak dalam hati, hubungan kerja itu akhirnya putus, Mama Tua, ibunya, tak jadi menggarap mamar milik Bapa Tua Julius. Meski tunas-tunas ubi jalar sudah tumbuh, tak mengapa, ketidakadilan harus dipangkas, begitu pikirnya.

Keputusan terakhir memang menyedihkan. Meneer Jansen tetap pada pendiriannya. Be’a dan Nona dikeluarkan dari sekolah. Keduanya kini putus sekolah, padahal Be’a sebentar lagi lulus Sekolah Rakyat. Mama Tua resah dan gelisah. Ia memutuskan untuk mengirim Be’a ke Kupang, tinggal bersama pamannya Benyamin Messakh, jika kapal uap bersandar di teluk Gonzalu. Tapi Be’a tak menginginkan itu. Ia ingin tetap tinggal bersama Mama Tua, yang akrab ia sapa Ma Bo’i (4). Pikirnya, jika ia ke Kupang, kota terbesar di NTT, dan bersekolah di sana, bagaimana nasib Mama Tua dan adiknya Nona? Sebentar lagi Nona remaja, ia harus melindunginya. Adiknya yang cantik akan menjadi mangsa Bapa Raja yang bertugas di Kantor Pemerintah Belanda, sebagai juru tulis. Laki-laki jelek berkulit hitam legam itu, di mata Be’a sangat tidak sesuai untuk adiknya. Mungkin karena deraan susahnya perekonomian, Mama Tua hampir setuju. Beberapa kali Bapa Raja yang giginya diselimuti emas itu bertandang ke rumah. Be’a geram. Adikku belum juga akil balik, tapi lelaki ini su bagatal (4) ketika memandangnya, pikir Be’a. Ia tak mau adiknya menjadi korban seperti Jublina, sepupunya yang bunuh diri di selat Gonzalu ketika tahu akan dinikahkan dengan Bapa Tua klerek di kantor pemerintahan yang sudah peot, hitam dan berwajah sangat tidak menarik.

“Harus diambil jalan tengah,” begitu kata hati Be’a. Anak laki-laki yang suka membaca koran bekas di Pasar Kaget yang ada di pusat kota Larantuka ini, sangat menyukai kalimat yang bertuliskan ‘Jalan Tengah’. Buat Be’a, jalan tengah bersumber dari sebab, tanpa sebab tidak akan terjadi apa-apa. Be’a mulai mencari strategi untuk menemukan hasil akhir dari jalan tengah dan menutupi semua hal yang menjadi penyebabnya.

Ketika dini hari tiba, di saat cericit tikus terdengar berlarian di dapur rumah bebak mereka lalu disambut dengan debur ombak selat Gonsalu yang terdengar lamat-lamat, Be’a menuntun Milo ke luar dari kandangnya. Ia akan membawa milo ke desa sebelah, menjualnya di sebuah hajatan pernikahan yang butuh puluhan kilo daging kerbau. Hasil penjualan kerbau milik ayahnya itu akan ia belikan anak sapi, lalu sisa uangnya dibelikan induk babi, ayam, bebek dan beras. Mama Tua pasti senang, pikirnya. Masih ada sisa uang, itu buat bayar uang sekolah Nona. Adiknya harus sekolah, itulah jalan satu-satunya agar ia tidak dipinang Bapa Raja, lelaki tua keparat yang sudah beristri tiga. Jika adiknya lulus Sekolah Rakyat, maka ia bisa bersekolah di Sekolah Guru Bawah (SGB), lalu masuk Sekolah Guru Atas (SGA) di Surabaya. Adiknya akan menjadi wanita terhormat, memiliki pendidikan yang tinggi, ia bisa jadi guru, profesi yang sangat dihormati.

Namun, mimpi Be’a hanya tinggal mimpi. Selepas adiknya lulus Sekolah Rakyat, gadis cilik bau kencur itu sudah ditunangkan dengan lelaki asal Rote yang jatuh cinta pada pandangan pertama tatkala melihat adiknya tengah mencuci pakaian di sungai kecil dekat rumahnya. Nona yang berkulit putih dan cantik, telah membuat laki-laki asal Pulau Rote itu terpana. Mama Tua, tanpa berbelit-belit menyetujuinya, ia tidak meminta belis (6) yang besar, cukup dua ekor kerbau saja. Dan laki-laki Rote ini setuju. Selain itu ia punya pekerjaan tetap sebagai pencatat barang masuk di toko milik Baba Ong di pusat kota Larantuka, dengan demikian Mama Tua bisa ikut makan sehari tiga kali jika laki-laki itu menjadi menantunya.

Be’a terkesima. Ia tidak terima. Malam sebelum acara pertunangan tiba, adiknya yang baru lulus Sekolah Rakyat itu dibawanya kabur ke desa seberang. Di sana ia menitipkan adiknya pada adik Bapa Tua, ayahnya, yang akrab ia panggil Tanta (7) Naomi. Be’a berlasan ada seorang laki-laki beristri hendak mempersunting adiknya dan Tanta Naomi setuju untuk menampung Nona sementara waktu di rumahnya.

Mama Tua tahu semua ulah Be’a. Lelaki asal Rote yang patah hati karena tak jadi menikah dengan adiknya, akhirnya kembali ke Rote. Selepas lelaki itu pergi, Nona kembali ke rumah, ia ikut kursus ketrampilan keputerian di rumah Nonya Getruida selama beberapa bulan. Nyonya Getruida seorang perempuan Belanda yang rapi, necis dan sangat ‘lady like’. Nona belajar menjahit, menyulam, membersihkan rumah, dan mengurus rumah tangga, ia juga mahir menata meja makan dengan segala aturan ‘table manner’ a la Eropa. Beberapa tahun kemudian, Nona dilamar laki-laki baik-baik, seorang jaksa yang memiliki karir cemerlang di bidang hukum. Be’a senang. Meski tak menjadi guru seperti harapannya, paling tidak adik perempuan satu-satunya itu sudah menjadi isteri orang terhormat dan dihormati masyarakat di tempat tinggalnya yang baru, Kupang.
***

Be’a bersama Mama Tua memutuskan kembali ke Rote. Bapa Tua masih mendekam di penjara di kota Larantuka. Ketika Jepang masuk, Bapa Tua dibebaskan. Ia pergi ke Kupang, mencari pekerjaan yang lebih baik di sana. Bapa Tua menjadi pedagang ikan di pelabuhan Tode Kisar, di pusat Kota Kupang. Ia lalu pindah kerja di perusahaan pegadaian sebagai tenaga ahli yang menguji barang-barang yang akan digadaikan. Bapa Tua menyewa rumah bertingkat di Kampung Solor dekat Pantai Tode Kisar. Ia lalu memanggil Mama Tua dan Be’a. Keduanya segera meninggalkan Pulau Rote, menumpang kapal tongkang yang berlayar di malam hari, menunggu laut tenang.

Perjalanan dari Pelabuhan Pantai Baru, Rote, ke Kupang yang harusnya ditempuh selama empat jam, tidak sesuai dengan kenyataan. Laut Sawu yang tenang, ternyata tidak seperti yang tampak di depan mata. Tiba-tiba angin kencang datang, ombak setinggi dua meter mengguncang kapal tongkang. Mama Tua memeluk Be’a dengan kuat. Ia terus berdoa memohon agar seisi tongkang selamat dari terjangan ombak. Be’a yang mau masuk Sekolah Guru Bawah (SGB), terhuyung-huyung bak pemabuk berat yang habis minum sofi (8). Ketika ombak bertambah meninggi, Be’a semakin ketakutan. Selain dirinya, ia takut Mama Tua jatuh dari kapal lalu ditelan ombak. Bagi Be’a, selain Nona adiknya, Mama Tualah orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Jika terjadi apa-apa dengan Mama Tua, ia juga harus ikut, dia tak mau hidup tanpa Mama Tua di dunia ini.

“Andai umur Mama sampai di sini, Mama rela. Tapi kau Be’a, kau harus selamat. Kau tidak boleh mati ditelan ombak, masa depanmu masih panjang. Kau harus kembali masuk sekolah, di Kupang Bapa Tuamu akan menyekolahkanmu lagi. Itu janjinya!” Kata Mama Tua sambil memeluk Be’a dengan kuat. Dan kenyataannya kapal tongkang itu hancur berantakan diterjang ombak. Mama Tua dan Be’a terlempar ke laut dalam keadaan berpelukan Andai mereka tertelan ombak dan mati, maka mereka akan mati bersama-sama.

Be’a yang pandai berenang, terus memegang Mama Tua erat-erat. Ombak laut Sawu yang menjulang tinggi menghempaskan tubuh mereka dengan kuat. Lalu dalam sekejap, ketika langit gelap dan suasana sekitar gulita, Be’a seolah melihat ikan paus yang besar menghampiri dirinya dan Mama Tua. Kemudian lamat-lamat ia mendengar lagu Ova Langga dinyanyikan dengan iringan musik sesandu. Be’a yakin itu bukan halusinasi. Lelaki bertubuh gempal dengan usia hampir empat belas tahun ini, mulai merasakan sensasi aneh dari lagu-lagu itu dan alunan ombak. Tangannya terus menggegam pergelangan tangan Mama Tua. “Jangan tidur Ma Bo’i, kita harus selamat. Bukankah Bapa akan menemui kita di pelabuhan Tode Kisar nanti. Ingat, Bapa sudah berjanji akan membelikan Ma Bo’i baju baru, dan kita akan makan enak dengan daging se’i sambil minum tuak. Mama, ayo buka mata!” Suara Be’a terdengar parau.

Ketika angin kencang menerpa mereka, Be’a sadar kalau ia dan Mama Tua akan menamatkan kehidupannya di laut yang terlihat hitam kelam itu. “Jika kita harus mati, mari kita mati bersama Ma Bo’i…” lirih suara Be’a terdengar. Malam itu, di tengah angin kencang dan gulungan ombak yang meninggi, dua anak beranak ini mengatupkan mata. Be’a lalu menyanyikan lagu Ova Langga pelan-pelan. Kerongkongannya kering, ia sangat haus. Tangan Mama Tua yang dipegangnya menjadi sangat dingin. Be’a berdoa dalam hati. Ketika gulungan ombak mengangkat tubuh keduanya dengan tiba-tiba, Be’a memejamkan mata. Lalu semuanya sunyi.

Pipi Be’a menghangat. Matanya terbuka, mencari-cari wajah keriput Mama Tua. Di samping kanan tempat tidur rumah sakit yang ditidurinya, ia melihat Bapa Tua berdiri dengan air mata berkaca-kaca. “Beta yakin Ikan Paus itu telah menyelamatkanmu, Nak…” kata Bapa Tua sambil menggenggam tangannya.

Be’a memejamkan mata. Ia tahu, keselamatan yang didapatkannya berkat doa Mama Tua, Ma Bo’inya. Be’a tak kuasa menahan tangannya untuk menggenggam lengan Mama Tua lebih lama, tangannya sudah teramat lemah. Tapi dalam hempasan ombak yang ganas itu, Be’a masih mendengar Mama Tua, Ma Bo’i terkasih menyerukan namanya, “Be’aaaaaa…” ***

Oleh : Fanny J. Poyk

Cerpen berbau etnik NTT ini, saya dedikasikan untuk almarhum ayah saya tercinta, Gerson Poyk yang akrab dipanggil Be’a.

 

 

Catatan :
1. Bebak          : Rumah Tradisional adat Pulau Rote
2. Mamar        : Kebun palawija yang luasnya bisa mencapai hektaranl
3. Cuki mai      : Umpatan kasar dalam bahasa Kupang
• Sambarang   : Sembarangan
• Sa                  : saja
• Pung                         : Punya
• Lu                 : Kamu
• Sonde            : Tidak
4. Ma Bo’i       : Mamaku sayang
5. Bagatal        : Genit/centil
6. Belis            : Mas kawin
7. Tanta           : Tante/Bibi
8. Sofi              : Minuman beralkohol dari nira pohon lontar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *