Beranda » Sastra » ‘Alangkah Lucunya Negeri Ini’, Sebuah Drama ISI Jogjakarta
Adegan Drama Alangkah Lucunya Negeri Ini di Institut Seni Indonesia (foto: fanistefani)

‘Alangkah Lucunya Negeri Ini’, Sebuah Drama ISI Jogjakarta

WEEKLYLINE.NET – Berkaca dari teater dunia, Indonesia juga merupakan penghasil karya terbaik yang berawal dari upacara-upacara ritual atau keagamaan. Bervariasinya adat istiadat dan budaya yang kental menjadikan Indonesia menjadi sumber atau inspirasi dalam penulisan sebuah drama baik itu menyampaikan pesan moral atau mengritisi konflik dalam negara sendiri.

Salah satu drama “ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI sebagai pengritik berat terhadap negara serta protes terhadap pendidikan, pengangguran dan tatanan pemerintah yang dinilai kurang bijak dalam mengadpatasikan perannya di kehidupan masyarakat. Drama yang diusung oleh HMJ -ISI (Himpunan Mahasiswa Jurusan)- (Institut Seni Indonesia) dari karya Deddy Mizwar ini mengisahkan kehidupan orang-orang berpendidikan merubah banyak orang menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri tanpa harus merugikan orang disekitarnya. Berikut sinopsis drama “Alangkah Lucunya Negeri Ini”.

Drama ini mengisahkan mengenai Muluk seorang pemuda yang mempunyai gelar Sarjana Manajemen, namun masih belum memperoleh pekerjaan yang sesuai. Akan tetapi muluk tidak pernah berputus asa, ia berusaha untuk melamar ke beberapa perusahaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannnya.

Sang ayah, Pak Makbul adalah semangat terbesar muluk yang senantiasa memberi semangat. Dikisahkan juga bahwa muluk memiliki seorang kekasih yang bernama Rahma yang senantiasa mendorongnya.

Suatu ketika, saat muluk sedang melewati pasar, ia bertemu dengan pencopet cilik yang bernama Komet yang sedang menjalankan aksinya mencopet seorang bapak-bapak. Merasa tersinggung karena tahu betapa susahnya mencari uang, Muluk pun menangkap pencopet itu dan berniat membawanya ke kantor polisi. Namun ia terpaksa mengurungkan niatnya dengan beberapa alasan utama.

Sang pencopet merasa tertolong karena si Muluk tidak langsung melaporkannya ke polisi. Pencopet itu mulai merasa berutang budi dengan Muluk, maka terjalinlah keakraban diantara mereka dan sekaligus Muluk diperkenalkan juga ke markas pencopetan mereka. Lalu, Muluk diperkenalkan dengan Bang Jarot selaku bos pencopet yang mengurus sekumpulan anak-anak yang pekerjaannya tidak lain adalah mencopet. Muluk lalu kemudian mengajak Bang Jarot dan seluruh anak buahnya untuk melakukan kerjasama. Kerjasama tersebut melibatkan latar belakang pendidikannya sebagai seorang berwawasan manajemen.

Ia akan melakukan system manajemen terhadap setiap penghasilan yang didapat dari setiap pencopet di setiap harinya. Dengan cara ini Muluk dapat beralasan bahwa sedikit demi sedikit uang tersebut akan terkumpul dan para pencopet cilik tersebut nantinya dapat membuka sebuah usaha dan tak perlu lagi mencopet. Dengan mengenakan biaya 10% dari hasil setiap mencopet akan diberikan pada Muluk, Jarot pun setuju menjalani kerjasama tersebut. Kemudian dengan bantuan dari dua orang temannya, Pipit dan Samsul sebagai pengajar anak-anak pencopet tersebut, sementara pelajaran yang diajarkan adalah ilmu kewarganegaraan dan ilmu agama dengan harapan agar mereka bisa memiliki pendidikan baik secara sosial maupun religious.

Drama yang disutradarai oleh Kristo Robot ini berhasil menarik minat para pengunjung masyarakat Jogja dalam sekali pementasan yang berlangusng di Gedung Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta pada Februari 2017 yang lalu. Kristo sendiri mengungkapkan bahwa drama tersebut merupakan salah satu karya Dedi Mizwar yang ia kagumi dan ditulis ulang sebagai teks yang akan diperankan oleh aktor.

Ia juga menegaskan bahwa teater ini merupakan hasil kerja keras team untuk membongkar dan membuka mata masyarakat dan para konglomerat akan ketidakadilan yang berlangsung di Indonesia. Pria kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur itu mengungkapkan kecintaannya terhadap drama yang mengikat persaudaraan diantara team. “Seni itu sederhana”, sepenggal kalimat pertama sebagai pembuka ceritanya diawal sesi wawancara.

Pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Teater semenjak semester enam 2013 menjadikan Kristo sebagai sosok yang ingin lebih memperdalam tentang dunia drama di Indonesia. Drama yang banyak mengisahkan tentang situasi Indonesia ini dikemas dengan latar religius dan budaya yang kental, disertakan dengan perkembangan dunia modern yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam pemilihan komedi singkat dan pemilihan lagu yang mengikuti perkembangan zaman misalnya dangdut.

Dalam kesempatannya Kristo juga menyampaikan beberapa harapan terkait pemilihan drama Alangkah Lucunya Negeri ini, “ harapan saya agar kedepannya drama ini mampu membuka mata kita agar bisa melihat nilai moral, nilai sosial, kepercayaan, kewajiban orang berpendidikan dan budaya kita sekaligus sebagai pelajaran untuk kita kedepannya agar berani bersuara sebab yang salah harus dibenarkan dan yang benar harus disuarakan”.

Demikian beberapa pesan singkat disela kesibukannya sebagai aktor untuk sebuah teater yang akan dipentaskan dalam waktu mendekat kepada generasi penerus drama yang akan datang.***

Fani stefani

Mantan BMI Malaysia Timur, sedang belajar di Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *