Beranda » Sastra » Hidup Ibarat Drama = Mengintimidasi Dunia
ilustrasi

Hidup Ibarat Drama = Mengintimidasi Dunia

WEEKLYLINE.NET Sebuah pepatah menegaskan bahwa “Hidup ibarat drama” dan drama tidak pernah terlepas dari hidup itu sendiri. Ungkapan itu memberi makna yang sangat mengintimidasi dunia.

Begitu juga dengan dunia yang selalu menggambarkan atau menggantungkan alur kehidupan sehari-hari lewat drama duniawi. Pada era ini drama sudah menjadi bagian yang mempelopori kehidupan masyarakat secara umum, maka tidak heran jika drama dikategorikan sebagai salah satu bentuk karya sastra yang sangat dimanfaatkan terutama dikalangan masyarakat untuk mengeksploitasikan ide-ide cemerlang dan mengritik habis-habisan negeri ini.

Indonesia merupakan salah satu negara yang membudayakan drama sebagai fasilitator untuk mendobrak kekeliruan dalam negeri sendiri, sementara dikalangan masyarakat biasa drama merupakan sebuah pesan moral yang dapat menyampaikan pesan-pesan secara ritual atau bahkan sebagai sarana untuk menghibur rakyat biasa, berbeda lagi dengan kalangan mahasisawa/mahasiswi Indonesia yang menyuarakan suara kebebasan dan kebobrokan aktivitas, politik, demokrasi, pendidikan, pelecehan seksual dan pemerintahan negara dengan ending sebuah pesan yang menjanjikan atau hanya sekedar ingin membuka mata para penonton.

Sesuai dengan namanya drama/teater berasal dari kata Yunani, draomai yang berarti berbuat, bertindak dan bereaksi. Sehingga tak asing lagi dalam penggunaan drama dikalangan masyarakat kita. Terlepas dari itu drama adalah karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dengan maksud untuk dipertunjukan atau dipertontonkan oleh aktor (pemain), begitu juga istilah lain dari teater merupakan pementasan naskah drama diatas panggung.

Seperti yang dikutip dari buku Panduan Belajar Bahasa dan Sastra tentang pengertian drama terbagi atas dua pengertian yakni pengertian dalam artian luas dan pengertian dalam arti sempit.

Dalam artian luas, drama adalah semua bentuk tontonan yang mengandung cerita yang dipertunjukan di depan orang banyak, sementara drama dalam artian sempit adalah kisah hidup manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan ke atas panggung. sedangkan jika dilihat dari sejarah asal muasal drama dunia atau teater berasal dari upacara agama primitf yang mana unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater, meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang.

Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburan atau makamnya, dalam acara ini seorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita, kemudian dibuat dalam bentuk teater, konon seperti cerita –cerita perburuan, pahlawan dan perang.

Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menegaskan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. Seperti yang diketahui bahwa pada saat itu zaman peradaban Mesir Kuno sudah maju. Masyarakatnya sudah bisa mengaktualisasikan piramida, sudah mengerti irigasi, membuat kalender, mengenal ilmu bedah dan juga mengenal tulis menulis.

I Kher-nefert menuliskan naskah drama tersebut untuk sebuah pertunjukan teater ritual di kota Abydos. Dari cerita Abydos itu lahirlah banyak perspektif soal drama di dunia, jalan cerita Abydos yang menceritakan pertunangan antara dewa buruk dan dewa baik itu kemudian juga ditemukan pada gambar-gambar dalam relief kuburan tua.

Para ahli yang mengamati kuburan tersebut memperkirakan bahwa jalan cerita itu sudah ada dan dimainkan masyarakat sejak tahun 5000 SM, meskipun baru diketahui bahwa muncul sebagai naskah tertulis pada tahun 2000 SM.

Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui juga bahwa pertunjukan teater Abydos terdapat unsur-unsur teater yang meliputi pemain, jalan cerita, naskah dialog, topeng, tata busana, musik, nyanyian, tarian, dan berbagai property seperti kapak, tameng dan tombak.***

fani stefani

mantan BMI Malaysia Timur, sedang belajar di Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *