Beranda » Sastra » Timur Tanah Lembata
Bunga Di Tepi Jalan, IIn Faradilah

Timur Tanah Lembata

Mendobrak akal, mengetuk batin

Kali ini tak bisa diam

Diam berarti mati

Melantangkan suara sebagai senjata

Menembak jitu ke telinga para penguasa

 

“Permisi, kalian penguasa”, santun

Dengarlah suara batin kami

Ini tentang janji yang pernah kalian ungkapkan

Di depan para pribumi, diteriaki dengan pasti, “Mari Membangun Lembata yang Lebih Baik”.

 

Di panggung kayu sederhana

Berkaos lambangkan partai

Kalian berdiri tegak

Menahan panasnya mentari

Demi mencari suara menuju singgasana

 

Kini kalian terlihat rapi

Berjas hitam, kameja putih

Tidak lupa dasi mewahnya

Duduk di singgasana

Wah…  Terlihat raja benaran ya, pak?

 

Kalian mengobral janji

Jika tidak janji, tidak menang

Di sana rakyat kalian sedang menanti

Jangan hanya asyik bergelimang hak

Sedang kewajiban, kalian ingkari

Masihkah ingat dengan janji itu, pak?

 

Jalan yang pernah kalian lewati dan singgahi

Jalan Trans Buyasuri, namanya

Tempat pribumi menanti janji

 

Cacat pembangunan di tempat kami

Sedang di sana(Omesuri), kalian tindak lanjuti

Ada apa ini, pak?

Bukankah kita saudara sekandung?

Lahir dari rahim Gunung Uyelewun

Lantas, Mengapa kalian dusta itu?

Mengapa kami terlihat asing?

Apakah kami bukan bagian dari Lembata?

 

 

Ahh… Kalian para penguasa

Jangan lupa dengan semua itu

Di sini tetap menolak lupa

Marilah menegakkan keadilan demi kesejahteraan rakyat Lembata.

 

 

Lembata

Sabtu, 13 Januari 2018

Iin Fhara Di La Serna

 

Lihat Juga

Berzina Yang Menjanjikan

Tiupan angin sepoi-sepoi Mengintai ventilasi berjeruji Menghantar dingin Menusuk tulang   Ahh… Ingin kudekap erat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *