Beranda » Sastra » Perjuangan Anak Petani (79)
Ilustrasi

Perjuangan Anak Petani (79)

Rahim bunda telah melelahkan dalam buaian. Dalam keadaan penuh kekurangan; dalam kondisi sederhana di ujung Timur Matahari Terbit. Di sana gersang, ketika kemarau tiba; panas menyengat rontokan rambut putih, hitamkan kulit membakar. Panasnya matahari sama dengan jiwa berkobar membentuk pola pikir.
Sekeliling rumah ditanami bunga-bunga elok menghibur mata. Belum lagi, serambi rumah yang atapnya bocor tertembus cahaya terik fajar pagi datang menyingsing. Seolah penampakan malaikat sedang tersenyum menaburi rezeki. Tapi tak ada yang pasrah dengan keadaan. Sebab hidup adalah perjuangan; kesenangan adalah cipta manusia. Maka bertahan menjalani adalah jalan yang tepat.
Perjuangan anak petani; amanah jadi cita-cita dibalik langkah mencari seberkah pengetahuan. Anak petani berimpi kelak akan merubah pendidikan dari akar rumput menuju pendidikan formal. Karena hari ini, pendidikan hanya mengeluarkan dana besar untuk biaya jelmaan sekolah. Pembelajaran bukan hanya di dapat di sekolah formal, tetapi pembelajaran banyak didapat di lahan pertanian milik orang.
Sebagai anak petani, maka kehidupan hari-hari tak seperti kebanyakan orang yag berlian harta. Seorang anak petani harus berjuang dengan gigih; berjuang tanpa pujian; berjuang dengan kucuran keringat tiada henti.
Ayah sekarang ditumbuhi uban-uban; ia dulu dipercayai menakhodai sebuah desa lahir bunda. Tapi sekarang, semua telah pergi; semua penuh kebohongan dari lawan politik untuk menggulingkan sosok periang anak tunggal. Karena ayah adalah pendatang yang bermukim, maka dilarang lebih cerdas dan mengabdi untuk masyarakat luas.
Bunda yang dulu jelita, sekarang keriput wajah bercahaya lelah. Hari-harinya dihabiskan menjual hasil tani di pasar-pasar lokal. Tapi sampai sejauh ini, bunda tak sedikitpun merasa gelisah. Bunda hanya ingin; kalau kelak nasib anak-anaknya tak sama dengan dirinya.
Bila semua dijbarkan untuk kekurangan, maka laut tuak manis Pulau Pembunuh tak akan kering; jika mengingat penyerangan pembunuhan bertubi-tubi ke ayah, maka gunung dan bukit tak mampu mengalahkan serangan.
Ketika anak petani sebagai generasi pelanjut, maka ‘pantang pulang sebelum sukses; sebelum berbuat banyak demi kemuliaan’. Karena didikan petani adalah menjaga, merawat, membesarkan, dan memberi kehidupan. Seperti merawat tanaman di ladang yang dibesarkan dengan keringat. Itulah patahan kepercayaan yang menemani hidup tiap malam-malam; bersenyum menyapa tiap datangnya siang.
Anak petani yang malang; resiko cobaan hidup tak akan habis. Bila tak mampu menebus amanah para leluhur, maka kembalilah ingat setiap dalam doa dan hembusan napas. Amanah yang dibisikan tak kala meninggalkan kampung halaman. Teruslah berjalan di atas semboyan yang telah lama terwaris. Berjuanglah dengan hati; mengabdilah selama masa muda. Jangan pernah bosan atas perbuatan baik; tapi jadilah kehausan untuk membuat orang-orang terseyum.
Bila anak petani yang sederhana,
maka muliahlah bersikap.
Banggalah pada moral budi pekerti.
Makassar
Minggu, 11 Februari 2018
Djik22

Lihat Juga

Perputaran Alam Romantisme (55)

Kesenangan dalam pergulatan rindu. Membawa lumut-lumut gelora menyenangi hati. Ada beberapa cerita yang tak bisa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *