Beranda » Seni Budaya » Luruh Air Mata Perantau Sabah, Di Panggung Fajar Band
Penonton memadati Halaman Paroki Sint Dominic Lahadatu, saat Konser Fajar Band.[foto:opinbahy]

Luruh Air Mata Perantau Sabah, Di Panggung Fajar Band

WEEKLYLINE.NET – Letu hele hele hele ro, Lagu ini lagu kampung; Untuk orang orang Kampung yang jarang pulang kampung.

Kebun  ini milik sendiri, Buang jagung tumbuh sendiri, Hei kawan janganlah iri, Kerja tidak pake mandor, Kalau capeh ada daun kelor, Otak sehat ototpun kendor.

Kembalilah wahai sang perantau, Lagu ini untuk mengajakmu kembali, Mengajakmu kembali ke kampung, letu hele hele helero

Ini adalah penggalan lirik hits fajar band, Reage Kampung. Mereka bernyanyi di panggung para perantau asl NTT di Lahadatu, Sabah Malaysia sana. Tak pelak, perantau NTT pun menitiskan air mata.

Fajar Band, Group Band dari Kampung di Waiwerang Adonara akhirnya meniti jalan sukses manggung di luar negeri.

Konser Fajar Band yang mengusung ‘Bangga Nyanyi Lagu Sendiri’ ternyata mampu membuat ribuan penonton yang memadati halaman Paroki Santo Dominic Lahad Datu, Kota Kinabalu, Malaysia.

Ketika Edi Lazaren, Vokalis Fajar Band dengan suara khasnya melantunkan hits Fajar Band ‘Rege Kampung’- Kebun  ini milik sendiri, Buang jagung tumguh sendiri, Hei kawan jangan iri, Kerja tidak pake mandor, kalau capeh ada daun kelor, Otak sehat ototpun kendor-Kembalilah wahai sang perantau, lagu ini untuk mengajakmu kembali, Mengajakmu kembali ke kampung, letu hele hele helero. Suasana hening. Penonton menitiskan air mata.

“Lagu ini memang diciptakan Fajar and untuk mengajak orang orang kita yang perantau untuk kembali pulang ke kampung. Sangat mengena di hati mereka dan banyak penonton yang menitiskan ar mata,” ungkap Opin Bahy ketika menghubungi weeklyline.net, 20 Agustus 2017, usai konser.

Selain menyanyikan hits ‘Reage Kampng’, Opin menjelaskan, Fajar Band di hadapan sekitar 5000  penonton menyanyikan 15 lagu yang sebagian besar adalah lagu ciptaan Nuzantara Bahy. Satu satunya lagu yang bukan ciptaan Faar Band adalah lagu dalam bahasa tagalog-Filiphina yang nyayian Edy Lazaren berduet dengan Misel Tokan, dalam tiga bahasa.

“Lagu tagalog itu di arrangement uang oleh Nusantara Bahy. Hanya liriknya tetap,” ungkap Opin.

 

Konser Fajar Band di Lahadatu ini hasil kerjasama antara Komisi Pastoral Indonesia Paroki Santo Dominic dan Komisi Migran dan Perantau Keuskupan Larantuka. Group Band anak Kampung, Adonara ini akan menggelar konser di halaman paroki di Lahad Datu, Kota Kinabalu, Malaysia dan membawakan 15 lagu di ahadapan 5000 an penonyon.

Kedatangan Fajar Band ini sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat NTT khususnya dan warga asal Indonesia umumnya yang ada di sana. Selain Konser Fajar Band juga mengampanyekan ‘Merantau yang Bermartabat,’ kehadiran kelompok musik ini juga dalam rangka membantu umat paroki tersebut menggalang dana untuk renovasi gedung paroki mereka.

“warga perantau NTT yang datang bukan hanya dari Jota Lahadatu, tetapi dari kota-kota sekitar seperti Kota Kinabalu, Kunak dan lainnya yang akan datang ke Lahad Datu. Mereka ingin melihat secara langsung penampilan Fajar Band. Mereka antusias. Ada beberapa pengurus di beberapa kota yang juga sudah meminta merencanakan agar Fajar Band tampil di kota mereka bekerja,” ungkap Opin.

Nusantara Bahy kepada media ini mengatakan untuk menghibur warga perantau di Lahadatu mereka mereka sudah menyiapkan lebih dari 20 lagu yang akan dinyanyikan oleh vokalis utama Fajar Band, Edi Lazaren. Tak hanya itu, akan tampil juga penyanyi cilik Miscelle Lamatokan, cucu dari Geo Pari pendiri Fajar Band untuk menghibur penonton. Akan  tetapi pada malam konser mereka menyanyikan 15 lagu. Sementara 5 lagu lainnya dinyanyikan usai misa di gereja dan di lelang.

“Mereka di sini lebih banyak yang mengenal Fajar Band dari lagu hits kami, Janji Ujong Aro. Tetapi mereka hanya tahu Janjo Ujong Aro 1, mereka tidak tahu kalau sebetulnya album Janji Ujong Aro itu sudah sampai 3, dan kami memperkenalkan Janji Ujong Aro 4 dengan menyanyikan sedikit saja, hanya bagian reffrain-nya,” tukas Nus Bahy.

[sandrowangak]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *