Beranda » Jurnal » Joged Yang Kerap Menampar Wajah Bali
Joged Bumbung. Foto: IST

Joged Yang Kerap Menampar Wajah Bali

WEEKLYLINE.NET – Bali memang mempunyai beragam budaya adiluhung yang memukau dunia. Mulai dari karya seni patung, lukisan, tarian. Belum lagi budaya yang erat kaitannya dengan upacara keagamaan.

Diantara yang menakjubkan tersebut, ada sebuah tari pergaulan yang disebut dengan joged. Joged adalah salah satu tarian Bali tepatnya tari pergaulan. Perlu diketahui tari Bali banyak jenisnya. Diantaranya dikelompokkan ke dalam tarian sakral yang dipentaskan hanya pada saat upacara keagamaan sebagai pelengkap upacara yadnya.

Yang kedua tari hiburan. Tari hiburan ada yang berupa tontonan saja dimana penonton pasif. Namun ada pula tarian yang penontonnya aktif dalam artian menyatu dengan penari diatas panggung. Ini disebut tari pergaulan yaitu tari Joged.

Tari Joged ada yang diiringi gamelan dari logam atau gong. Ada juga yang diiringi gamelan dari bambu yang disebut Joged Bumbung. Pada hakekatnya kedua jenis joged tersebut sama. Bedanya hanya pada musik pengiringnya saja.

Tari Joged dibawakan seorang penari perempuan. Bisa beberapa penari tapi secara bergantian. Jadi di panggung tetap dibawakan seorang penari.

Penari Joged akan menari meliuk liukkan tubuhnya beberapa lama seperti seorang gadis yang menggoda pemuda hingga pada menit tertentu tiba giliran penari tersebut mengajak seorang penonton laki laki untuk ikut menari bersamanya.

Disinilah biasanya kemeriahan mulai terasa bahkan juga penyimpangan penyimpangan (?) karena pada umumnya penonton yang diajak bukan penari sesungguhnya sehingga menarinya asal jadi. Dan disisi lain beberapa dari pengibing (sebutan untuk penonton yang diajak menari) sering berbuat ‘nakal’. Mulai dari mencoba mencium sampai kepada meniru adegan adegan orang yang sedang melakukan hubungan intim.

Namun bukan hanya pengibing saja yang ‘nakal’ tapi juga ada beberapa penari Joged yang menari tak layak dikonsumsi usia di bawah tujuh belas tahun. Yang mereka lakukan sangat membuat miris, mulai dari pakaian seronok, dan gaya gaya menari porno yang semua bermula dari gerakan gerakan pantat. Dari sinilah kemudian dikenal adanya Joged porno. Bukan hal yang rahasia lagi kalau terkadang ada beberapa diantara mereka yang bisa ‘dipakai’. Tapi jangan salah , itu adalah oknum. Hanya kebetulan mereka adalah penari Joged.  Sesungguhnya masih banyak yang menari benar benar menari dengan sopan yang sesuai dengan hakekat penari Joged pada umumnya.

Lalu siapa yang salah jika sisi gelap dari penari Joged terdeteksi. Lalu dianggap mencoreng wajah para penari Joged khususnya dan budaya Bali umumnya ? Sesungguhnya yang salah adalah kita. Kita terlalu terlena dengan berpijak pada pikiran mereka adalah penari. Tugas mereka adalah menghibur. Lalu kenapa mereka bisa terjerumus melakukan pornoaksi ? Bukankah cukup dengan menari yang sopan, yang biasa saja.

Di dunia ini selalu ada persaingan. Termasuk dunia hiburan sehingga mereka dituntut bagaimana meningkatkan kualitas layanan kepada yang membayar. Nah begitu juga dalam kasus Joged porno. Maraknya sekehe (grup) Joged baru yang bermunculan memaksa mereka untuk selalu survive di dunia hiburan jika tidak mau terdepak dan berdampak pada penghasilan.

Tak sedikit yang berkreasi positif tapi banyak juga yang negatif. Hal ini juga tak bisa dilepaskan dari latar belakang penari dan anggota sekehe joged yang notabene kurang berpendirian. Inilah yang perlu disadari pemerintah dan kita semua. Kita tidak bisa hanya menyalahkan beberapa kejadian Joged porno yang terekam kamera lalu viral di dunia maya. Pemerintah mestinya menyalahkan diri sendiri mengapa mereka sampai bertindak seperti itu. Cari letak kesalahannya dan beri solusi bukan sanksi. Mungkin dengan pembinaan  mengumpulkan para pemilik sekehe Joged dalam sebuah pertemuan lalu menyamakan persepsi tentang bagaimana mengembalikan hakekat dari tarian Joged itu sendiri. Mungkin menyepakati solusi solusi yang muncul sebagai dampak kemajuan tehnologi. Atau apa saja yang bisa mengembalikan seni Joged kepada seni yang sesungguhnya seni.

Salam Rahayu

 

Luh Dias

Orang Asli Buleleng

Tinggal di Denpasar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *